Sebagai seorang aktivis dakwah, sudah pasti tidak asing dengan kata, Persaudaraan atau ukhuwah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Ar-Rahman akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang,” (QS. Maryam: 96).

Pertama, Bersama itu Bersaudara

Keimanan benar-benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Inilah diantara makna-makna kebersamaan itu. Banyak orang yang memandang bahwa persaudaraan itu identik dengan berkumpulnya tubuh dalam satu organisasi atau kelompok. Hal ini jelaslah keliru, sebab sebenarnya dasar persaudaraan adalah kesatuan iman dan hati para kaum muslimin, bukan berkumpulnya tubuh mereka dalam satu ruang dan waktu.

Persatuan hati adalah poros dari ukhuwah imaniyah (persaudaraan iman), bukan persatuan tubuh. Banyak sekali umat saat ini yang berkumpul tubuhnya, namun hati mereka terpecah-belah, sebagaimana firman Allah yang ditunjukan kepada orang-orang munafik dan yahudi dalam QS. Al-Hasyr ayat 14, bahwa, “… Kamu kira mereka bersatu, sedang hati mereka berpecah-belah…”

Mari kita refleksikan diri kita. Berapa banyak orang yang memiliki hubungan cinta denganmu dan bersahabat denganmu, tapi ia terasa jauh denganmu? Berapa banyak orang yang membencimu dan tak terlalu mengenalmu, tapi ia terasa dekat denganmu?

Tidak akan ada faedahnya meskipun tubuh berkumpul dalam satu ruang dan waktu, namun hatinya terpecah belah. Bersatunya hati, berarti berkumpulnya hati, kita akan merasa dekat dan nyaman walau tubuh kita saling berjauhan. Demikian itu termaktub dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.”

Ketika hal itu telah meresap dalam hati, maka hati ini akan dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang di antara sesamanya. Yang keras menjadi lunak, yang kasar berubah lembut, yang gersang menjadi sejuk, yang liar menjadi jinak. Kemudian di antara sesamanya jadilah jalinan yang kokoh, dalam, dan empuk. Pandangan mata, sentuhan tangan, pembicaraan, gerak nggota badan, dan getar hati menjadi sebuah simfoni. Muncullah saling pengertian, saling menyayangi, tolong menolong, luasnya jiwa, dan sikap lapang dada.

Tak ada yang merasakan indahnya ukhuwah kecuali hati-hati itu sendiri. Mereka berikrar untuk bermesra dijalan-Nya. Itulah yang terjadi pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan orang-orang yang bersamanya. Lalu manusia menyaksikan sebuah keajaiban. Energi kebajikan tumpah ruah ke segenap penjuru bumi, dalam dekapan ukhuwah. Begitulah mereka melukiskan persaudaraan di zamannya. Bagaimana dengan kita?

Kedua, Bersama itu Berjuang

Tidak ada seorangpun yang dapat menyatukan hati manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, baik itu nabi maupun para ulama sekalipun. Hanyalah Allah SWT semata yang mampu menyatukan hati-hati mereka dengan hikmah, aqidah dan ke Maha Perkasaan-Nya, sebagaimana Allah telah menyatakan hal itu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam firman-Nya di QS Al-Anfal ayat 62-63, “Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kebersamaan dalam ikatan aqidah akan mengikrarkan sebuah perjuangan untuk menegakkan aqidah itu. Tiada kemuliaan tanpa perjuangan. Sebuah kaidah telah digoreskan, bahwa aqidah ini adalah mulia, dan ia akan mulia dengan perjuangan para penegaknya.

Wahai pejuang, perjuangan pertama yang harus kau tegakkan adalah melawan nafsu diri agar mampu bersabar dalam kebersamaan. Surah Al-Kahfi di ayat 28 menyebutkan, “Dan sabarkanlah dirimu untuk selalu bersama dengan orang-orang yang menyeru kepada Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharap perhiasan kehidupan dunia…”

Ketiga, Bersama itu Berusaha

Jika kita perhatikan, kebersamaan (ukhuwah) itu begitu indah. Namun apa benar ukhuwah itu mudah untuk diwujudkan? Mari kita ingat kembali bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, apabila tidak ada usaha dari kaum tersebut untuk mengubahnya. Sama halnya dengan ukhuwah ini, meskipun secara modal kita telah mendapatkannya, yaitu iman, namun ukhuwah itu tidak akan terwujud begitu saja tanpa ada usaha dari kita untuk menghadirkan ikatan ukhuwah diantara sesama. Sehingga diperlukan usaha untuk mendapatkannya dengan menjalankan sebab-sebab terjadinya persatuan hati dengan meniti iman dan taqwa. Ada dua usaha yang setidaknya bisa kita lakukan untuk memunculkan kebersamaan hati.

Pertama, menjalin ikatan ukhuwah atas dasar keikhlasan kepada Allah semata. Melaksanakan tugas untuk saling menasehati yang dimana hal ini menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen kita untuk menjalin ikatan ukhuwah. Tugas untuk saling menasehati juga menjadikan kaum Muslimin bekerjasama dalam kebaikan dan taqwa, sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman-Nya (QS. Al-Maidah: 2), “ … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa…”

Kedua, memiliki solidaritas, berkorban dan tolong-menolong dalam memenuhi kebutuhan hidup saudaranya, sebagai wujud kesempurnaan iman. “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta mencintai, sayang menyayangi, dan bantu membantu di antara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur di malam hari, dan menggigil demam,” dari HR. Muslim.

Demikianlah sedikit tulisan yang dapat saya bagikan, semoga kita dapat mewujudkan ukhuwah imaniyah ini. Mudah-mudahan juga Allah SWT memerikan kita semua taufiq dan hidayah-Nya untuk melaksanakan dan menggapainya. aamiin

Saksikan-bahwa-aku-seorang-muslim

Resensi Buku: Fillah, Salim A. 2007. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U.

Oleh: Tities Novaninda Ovari || Koordinator Putri Divisi Eksternal Departemen Jaringan JMMI ITS 1516 / Ce2