Oleh: Imran Ibnu Fajri – Presiden BEM ITS 2014/2015

Ibrahim dan Namrud

Kala itu, sebuah kerajaan digemparkan oleh kejadian yang sama sekali tidak terduga. Pagi itu para imam memasuki ruang sesembahan berhala mereka. Dengan amat terkejut mereka menemukan berhala-berhala, tuhan mereka telah hancur berantakan. Mereka adalah para imam dari kerajaan yang dipimpin raja tiran bernama Namrud, penguasa Mespotamia kala itu.

Di ruangan itu, mereka menemukan seorang remaja laki-laki yang belakangan diketahui bernama Ibrahim, putra Azar sang pemahat. Dengan wajah memerah penuh amarah, para pendeta itu menghampiri Ibrahim muda. Mereka menuduh Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang mereka sebut “Tuhan” itu. Ibrahim pun mengelak. Ia mengatakan bahwa yang menghancurkan para berhala itu adalah berhala yang duduk di ujung ruangan ini. “Berhala itu adalah berhala dengan ukuran yang paling besar. Dia memulai perkelahian dengan berhala lainnya hingga akhirnya menjadi kondisi seperti sekarang ini,” tutur Ibrahim kepada para Imam.

Pada akhirnya mereka membawa Ibrahim kepada Raja Namrud. Keinginan Ibrahim tercapai. Sejak awal ia memang ingin membuat kesempatan agar bisa berbicara dan berdialog dengan sang raja di hadapan orang banyak.

“Hei Ibrahim, mengapa kau menghancurkan Tuhan-tuhan kami?”

“Tidak, Bukan aku!” teriak Ibrahim.

“Tak usah kau mengelak, Ibrahim. Semua tuduhan mengarah kepadamu, bocah!” raja Namrud marah.

“Tanyakan saja pada berhala itu. Dialah yang paling besar disana, dia yang tersisa. Mereka berkelahi satu sama lain. Apa Raja tidak melihat kapak yang mengalungkan dirinya di leher berhala besar itu!?” Ibrahim mengelak angkuh.

“Dasar Bodoh! Mana bisa berhala berbicara. Tidak mungkin aku bertanya kepadanya, Ibrahim! Orang bodoh mana yang percaya mereka bergerak dan berkelahi. Dasar anak dungu!” teriak Namrud keras.

“Jika demikian. Mengapa kalian menyembah sesuatu yang bahkan tidak bisa melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri?” jawab Ibrahim mantap. Hadirin semua terdiam. Namrud murka dan meminta prajurit membakar Ibrahim.

Malam itu, Ibrahim terikat di sebuah tiang besi. Kedua tangan dan kakinya terbelenggu. Para penjaga melemparkan pemantik api hingga terbakar hebat. Ibrahim berada dalam amukan api yang dahsyat. Penjaga dan masyarakat tak terkecuali raja Namrud sendiri menyaksikan kejadian yang sangat keji itu.

Namun, Ibrahim tak bergeming. Meski terbesit rasa takut dalam hatinya kala itu. Ibrahim meyakini sesuatu yang lebih kuat berada di pihaknya. Kebenaran yang hakiki. Inti dari kebenaran dan kegelisahannya. Maha Satu, Kekal dan Perkasa. Hingga akhirnya api itu padam, Ibrahim tak terluka sedikitpun. Semua tercengang termasuk Namrud. Sesuatu yang diyakini Ibrahim ternyata menang.

Pernyataan Sikap Sang Semut

Di tengah peristiwa besar selalu terdapat kisah-kisah penuh hikmah dan pembelajaran luar biasa. Kisah yang menggetarkan hati, menggerakkan ghirah bahkan meneteskan air mata. Di balik kisah -remaja mendebat raja- yang penuh dengan ketidakmungkinan itu, terdapat sebuah kisah kecil bertemakan pembuktian. Kisah semut padang pasir berjiwa besar. Lebih besar dari tubuh manusia yang berhati lebih kecil dari tubuh semut itu sendiri.

Saat peristiwa pembakaran Ibrahim dilakukan, banyak manusia hanya terdiam melihatnya. Meski mereka memiliki tubuh besar, tangan berotot, sepasang kaki dan mulut yang berfungsi, namun itu semua tak cukup menggerakan mereka. Kenapa? Karena hati mereka kecil. Mereka tak memiliki iman dan kebenaran.

Jauh dibawah pandangan manusia yang berkerumun itu, terdapat segerombolan semut yang menyaksikan peristiwa pembakaran Ibrahim. Mereka adalah semut gurun. Sebagian mereka memang berniat datang menyaksikan peristiwa keji itu. Sebagian tak sengaja berpapasan dalam perjalanan mencari makanan untuk koloninya.

Semut gurun terkejut melihat penjaga melemparkan obor api kepada Ibrahim yang terikat. Bau minyak sekejap semerbak membawa hawa panas. Para semut itu merasa kasihan kepada Ibrahim. Seorang remaja yang masih sangat muda. Masih memiliki banyak waktu untuk berkembang dan menorehkan sejarah-sejarah besar lainnya. Para semut telah mengetahui sejak lama kebodohan Namrud dan rakyatnya yang menyembah berhala. Semakin sedih mereka melihat peristiwa itu. Peristiwa dimana kebenaran sedang berusaha ditegakan.

Beberapa saat setelah api membakar Ibrahim, seekor semut dari gerombolan itu pergi dan mengambil setetes air dengan tangannya yang kecil. Semut yang lain merasa keheranan. Mereka berkata kepada semut yang membawa air tadi.

“Hey apa yang kamu lakukan?” tanyanya heran.

“Aku ingin melemparkan air ini kepada Ibrahim yang sedang terbakar,” jawabnya sambil berjalan ke arah Ibrahim.

“Jangan bercanda, tak akan ada yang terjadi. Api itu terlalu besar. Sadarkah bahwa tanganmu bahkan tak sanggup membawa keringat Namrud?”

Semut pembawa air tadi terdiam sejenak. Ia menatap langit seraya berdoa kepada Kebenaran yang diketahui olehnya dan Ibrahim.

“Aku tahu seberapa banyak pun aku mengambil air dengan tanganku ini, api itu tak akan padam. Bahkan mungkin sebelum api yang kulempar menyentuh Ibrahim, ia akan lenyap karena hawa panasnya.”

Segerombolan semut itu kemudian saling mendekat satu sama lain. Dengan seksama mendengarkan rekannya yang memandangi Ibrahim dengan serius.

“Dia sedang memperjuangkan kebenaran. Dia sedang membuat garis antara kejahatan dan kebaikan. Usahaku ini adalah bukti sikapku. Bukti di kubu mana aku berdiri.”

Si semut berjalan semakin mendekati api yang terbakar. Ia hanya sanggup hingga beberapa hasta saja. Air yang di tangannya hilang menguap. Dalam hati ia mengatakan, “Ya Allah, saksikan lah. Dimana aku berdiri. Dipihak mana aku berjuang. Saksikan usahaku menjauhi sikap diam dan mendiamkan. Teriakan suaraku menentang kebatilan ini tak akan sampai ke telinga Namrud. Paham pun tidak. Namun… Hal kecil ini adalah salah satu bentuk sikapku yang akan kupertanggungjawabkan kepada-Mu kelak.”

Kisah diatas memberikan secercah pembelajaran berharga bagi kita semua. Bahwasanya, hal kecil yang kita lakukan untuk kebaikan adalah pembuktian sikap kita terhadap yang hak dan bathil.

Terkadang, manusia mengejek aksi-aksi kita di jalanan saat menyuarakan pendapat kita tentang kebenaran. Berkata bahwa aksi kita sia-sia dan tidak berdampak. Sebagian mengejek kita yang senantiasa membagikan ilmu-ilmu sederhana tentang agama dan kebaikan. Mereka mengatakan kita tak pantas dan sok suci. Sebagian lagi mengatakan dengan angkuhnya bahwa cara kita berjuang bukan bagian dari idealisme yang benar.

Kawan, setidaknya kita menolak untuk diam.

Semoga kita dapat mencontoh semut tadi. Menjadi orang-orang yang berani melakukan pembuktian sikap dikubu mana kita berdiri. Kebaikan atau keburukan. Serta dijauhi dari sikap seorang pengecut yang membungkus ketidakberaniannya dengan alasan idealisme.

Kebenaran butuh disikapi. Dan Mahasiswa harus memiliki kemampuan dan keberanian dalam menyikapi. (Ce2)

*Terinspirasi oleh Tausiyah ITS Cinta Subuh, 21 Februari 2016.

—–

Ingin beretorika melalui tulisan di web JMMI ITS, bisa lirik disini.