Syafi’i kecil adalah anak yang gemar dan gigih dalam belajar. Selain menghafal Al-Qur’an dan hadits, Syafi’i juga mulai mendalami Bahasa Arab dengan cara mempelajari kesusastraan Bahasa Arab. Syafi’i juga mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memilih tempat untuk mempelajari kesusastraan Bahasa Arab. Dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah diasuh di perkampungan Bani Sa’ad, suku Arab terfasih pada zamannya. Demikian pula Syafi’i, ia memilih tinggal di dusun kaum Hudzail, kaum yang terkenal memiliki jati diri kearaban yang kuat dan mahir di bidang ilmu bayan dan syair. Tujuan Syafi’i mendalami bahasa Arab adalah karena ia yakin bahwa bahasa adalah kunci ilmu pengetahuan.

Sebagai seorang yang gemar belajar dan haus akan ilmu, Syafi’i tidak hanya belajar kesusastraan. Ia juga mempelajari sejarah, adat istiadat penduduk setempat yang dianggapnya baik, khususnya di bidang ketangkasan perang. Di dusun tersebut, Syafi’i belajar teknik memanah. Karena menyukai kegiatan memanah, Syafi’i pun mahir di bidang panah memanah. Syafi’i pernah berkata kepada murid-muridnya : “Hobiku ada dua, memanah dan menuntut ilmu. Di bidang teknik memanah aku sangat mahir. Setiap sepuluh anak panah yang kuluncurkan, semuanya tepat mengenai sasaran.”

Ia juga pernah berkata “Aku selalu berlatih memanah hingga seorang dokter berkata ‘Aku khawatir kau terkena penyakit kulit karena kau terlalu sering berpanas-panasan di bawah terik matahari.’”

Keterampilan lain yang dipelajari Syafi’i di dusun adalah teknik menunggang kuda. Al-Rabi’ menuturkan “Syafi’i adalah orang yang paling berani menunggang kuda, ia biasa memegang telinganya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi memengang telinga kudanya. Dan kuda itu terus berlari kencang.”

Setelah menguasai ilmu bahasa, Syafi’i pulang ke Mekkah. Hafalan Al-Qur’annya tetap ia jaga, namun ia belum tergolong orang alim. Ia bahkan lebih dikenal sebagai seorang penyair dan sastrawan. Syafi’i bahkan memiliki majelis khusus untuk melantunkan syair-syairnya, menuturkan kisah-kisah dan berita-berita Arab. Banyak yang menyukai majelis sastra Syafi’i, sejak saat itu banyak orang yang senang berkumpul dan ikut dengan majelisnya.

Melihat kepiawaian Syafi’i dalam bersyair, orang-orang di sekitarnya mulai menyarankannya untuk belajar Ilmu Fikih. Seorang laki-laki dari Bani Zubair, keluarga pamannya Syafi’i berkata : “Wahai Abu Abdullah, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasanmu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan fikih kau akan memimpin semua generasi zamanmu.” Syafi’i lalu bertanya “Kalau begitu siapa yang harus aku tuju untuk belajar?” Lalu pamannya menjawab, “Malik ibn Anas, pemuka kaum muslimin.”

Mendengar nasihat dari lelaki dari Bani Zubair tersebut, timbullah keinginan Syafi’i untuk belajar fikih. Ia pun menemui Gubernur Mekkah untuk meminta surat rekomendasi. Dari Gubernur Mekkah, Syafi’i mendapat dua surat rekomendasi, pertama untuk Gubernur Madinah dan yang kedua untuk Malik ibn Anas.

Setelah mendapat surat rekomendasi ia pun berangkat menuju Madinah. Namun untuk bertemu dengan Malik ibn Anas bukanlah hal yang mudah. Syafi’i banyak menghadapi rintangan dalam upayanya bertemu sang guru. Ia melewati rintangan demi rintangan dengan sabar sebelum akhirnya ia bertemu dengan Malik ibn Anas dan diterima sebagai murid. Syafi’i pun tinggal di Madinah sampai Malik ibn Anas wafat. Syafi’i merupakan orang yang beruntung karena sempat berguru kepada syekh ahli fikih, bahkan ulama kaum muslim terbesar pada zamannya, yaitu Imam Malik.

Syafi’i memiliki keunggulan dibanding orang-orang lain pada zamannya. Ia memiliki kecerdasan dan kemampuan hafalan yang luar biasa, ditambah dengan tingkat kefasihan dan kemahiran dalam bahasa. Hal ini membuat Syafi’i sangat cepat menguasai ilmu fikih.

Syafi’i tidak pernah betah berdiam di suatu tempat. Meskipun ia belajar di tempat Imam Malik, hal itu tak menghambatnya untuk mengembara dan mencari pengalaman dari berbagai pelosok negeri. Sesekali ia pergi ke negeri-negeri islam untuk mencari ilmu, mempelajari adat istiadat penduduknya, serta mendalami sejarah dan kondisi sosial masyarakat setempat. Syafi’i juga sering kembali ke Mekkah untuk mengunjungi ibunya dan meminta nasihat dari beliau.

Tentang kegemarannya dalam mengembara, ia menuliskannya dalam sebuah syair berikut :

Orang yang berakal dan berbudaya takkan tenang berdiam di suatu tempat
Karena itu, tinggalkan kampung halaman dan mengembaralah!
Pergilah, niscaya kau akan menemukan ganti dari orang yang kau tinggalkan
Dan berusahalah karena kenikmatan hidup ada dalam usaha
Aku melihat genangan air dapat merusak air tersebut
Sekiranya air itu mengalir, niscaya ia menjadi baik, jika ia diam maka ia menjadi rusak
Seekor singa, jika tidak meninggalkan hutan ia tidak akan menjadi buas
Anak panah, jika tidak meninggalkan busur, ia tidak akan mengenai sasaran
Jika matahari selamanya tetap pada orbitnya
Niscaya orang akan bosan melihatnya
Emas itu seperti tanah jika dibiarkan di tempat aslinya
Dahan yang jatuh ke tanah hanya akan menjadi kayu bakar
Jika seorang mengembara maka pencariannya akan mulia
Jika ia mengembara maka ia akan mulia seperti emas

*****

Rewrite: Deby Theresia

Editor: Arning Susilawati