“Jika seorang terbunuh. Bisa dikatakan ia telah membunuh seluruh kehidupan manusia. Inilah yang dinamakan dengan ikramah yaitu puncak akan persaudaraan. Karena umat muslim seluruhnya bersaudara.”

Manusia sebagai mahluk sosial tentunya tidak lepas dengan namanya interaksi sosial dan hal itu membantu retorika kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Mulai dari pendidikan, perdagangan, kesehatan dan sebagainya. Dalam Islam diajarkan untuk saling memberikan kasih sayang kepada sesama. Karena Islam merupakan ajaran rahmat yaitu ajaran dengan penuh kasih sayang.

Sebagai panutan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan contoh yang baik perihal menjaga hubungan sosial bermasyarakat meskipun berbeda keyakinan. Pada masa tersebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan sahabat-sahabat lainnya melakukan shalat di depan Ka’bah dengan berhala-berhala sebanyak 32 buah yang mengelilinginya. Pernah suatu saat seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad perihal mengapa tidak dihancurkan saja berhala-berhala yang ada di Ka’bah tersebut. Tetapi Nabi Muhammad hanya menjawab untuk bersabar.

Dengan kesabaran, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil menghadapi masyarakat jahiliyah dimana berhala-berhala tersebut dihancurkan oleh pembuat berhala itu sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa cara berdakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dengan menerapkan nilai toleransi dan kebersamaan. Hingga Islam dapat diterima di negeri Makkah, dan berhala-berhala tersebut rata dengan tanah.

Toleransi serta kecerdikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dilakukan tidak serta merta menggunakan tindakan fisik, akan tetapi dengan perubahan insan nurani manusianya. Karena bila Islam dapat menyentuh sanubarinya tentu fisik akan mengikutinya saja. Sebab, puncak keberhasilan dengan mengeratkan segala aspek masyarakat kota Mekkah.

Menjadi sebuah pelajaran bagi kita bahwa menciptakan rasa kepedulian terhadap sesama sangatlah penting. Dengan hal tersebut akan tercipta sebuah tatanan masyarakat yang beradab. Contoh lain yang bisa diberikan yaitu tentang seekor semut dengan ucapannya dapat menolong kawannya untuk meloloskan diri dari suatu kemuhdharatan. Tidak hanya itu bahkan perkataan semut tersebut diabadikan didalam Al-Quran sebagai petunjuk orang-orang yang beriman. Seekor semut menjadi sebuah percontohan umat manusia dalam perbuatan dan perkataan yang baik.

Menjadi hal wajib bagi seorang Muslim untuk selalu menjaga perkataan serta perbuatannya dalam berinteraksi sosial serta menolong sesama muslim dalam kesulitan. Bahkan seorang ratu Saba’ yaitu Ratu Bilqis dalam memimpin rakyatnya menggunakan prinsip demokrasi. Dimana lebih mementingkan kebersamaan dan kesepakatan yang dibuat dengan jalur musyawarah seperti yang diajarkan Islam. Ratu Bilqis adalah ratu bijaksana, serta pandai dalam mengatur pemerintahannya. Sehingga dengan kemampuannya, ia dapat menjabat sebagat pemegang kekuasaan kerajaannya. Walaupun seorang perempuan tetapi kemampuannya lebih dipandang daripada keturunannya.

Pun Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menyebarkan Islam di Madinah yakni dengan menghapus kehormatan karena keturunan, dan menggantinya dengan prestasi individu. Sayangnya Pada masa tersebut Ratu Bilqis dan rakyat masih menyembah Toghut (berhala). Hal ini dilihat oleh burung Hud. Kemudian hal tersebut dilaporkan kepada Nabi Sulaiman tentang adanya kemudharatan di negeri Saba’ karena rakyatnya menyembah Toghut. Nabi sulaiman pun bertindak dan memberikan surat kepada Ratu Bilqis untuk memberikannya pilihan. Surat tersebut sampai di negeri Saba’ dengan burung Hud sebagai kurirnya. Tidak lama setelah itu Ratu Bilqis dengan kecerdasannya mengaku untuk masuk Islam dikarenakan dibutuhkannya sosok pemimpin yang harus memandunya serta rakyatnya dalam jalan kebenaran. Mengajak dalam kebenaran menjadi hal yang harus dipegang oleh setiap manusia dalam menentukan visi misi hidupnya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga persaudaraan. Karena pada hakekatnya seluruh muslim adalah saudara. Saling menjaga dan saling mengingatkan. Kami mencitaimu karena Allah.

Sumber: Kajian Ustadz Salim A. Fillah dalam Jejak Nabi di Masjid Al-Falah Surabaya pada 15 Januari 2015

Oleh: Deo Siregar || Editor: Arning Susilawati