Konsekuensi Beriman kepada Kekasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Cinta tumbuh karena perbuatan baik yang diberikan seseorang. Pun yang memberikan perhatian itu adalah seorang laki-laki tampan, dimana setiap orang tidak merasa bosan dengan melihat maupun mendengar suaranya. Karena cinta, alam bawah sadar seorang manusia sudah pasti mengikuti apa yang diperbuat oleh sang idola, entah dari penampilan terlebih akhlaknya. Lalu, bagaimana jika laki-laki itu adalah baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?

Ya. Laki-laki itu seorang pemimpin yang sangat menyayangi kaumnya. Rasulullah yang lahir di tahun Gajah ini sosok yang tidak menginginkan pengikutnya tersakiti dan terbebani. Dalam kisahnya, saat shalat di depan Ka’bah, musuh Quraisy melempari kotoran, lalu Fatimah, anak kesayangannya datang dan membersihkan kotoran itu dari kepala dan punggungnya. Di Perang Badar, Rasulullah mengkhawatirkan jika disaat perang, kaumnya akan kalah. Maka dalam suatu malamnya, Rasulullah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Allah, jika kaumku kalah dalam Perang Badar ini, aku tidak yakin akan ada yang beriman kepada-Mu setelahnya.”

Lantas Allah, menurunkan para malaikatnya untuk membantu memerangi 1000 kaum kafir dimana pasukan Muslim saat itu hanya sekitar sepertiga pasukan kafit Quraisy. Menanglah, kaum Muslimin pada Perang Badar. Kisah selanjutnya terjadi pada Perang Uhud. Ayah dari empat anak perempuan tersebut mendapati luka parah saat perang. Gigi geraham lepas dari gusinya, gelang-gelang baju besi menempel di pipinya. Bukankah perih mendapati tubuh yang penuh luka?

Bukankah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut adalah bentuk rasa cintanya kepada kaum Muslimin? Hingga di penghujung ajalnya, beliau merintih. Lalu Allah perintahkan malaikat-Nya untuk bertanya kepada Rasulullah apa penyebab hingga ia menangis. Tak lain tak bukan, karena Rasulullah akan berpisah dengan keluarganya, para sahabat dan tentunya akan berpisah dengan ummatnya. Di penghujung itu, ia menyebut “Ummati, ummati, ummati.” Betapa besar rasa rindu Rasulullah kepada kita? Manusia-manusia yang dianggap saudara-saudaranya. Mengingat, setelah Rasulullah wafat, kitalah ummat yang tetap menjadi hamba-Nya yang baik dengan mengikuti sunnahnya.

Maka kita sebagai ummatnya, sudah seharusnya menjadi mukmin yang selalu mengingat jasa-jasa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam dengan bershalawat kepadanya dalam kondisi apapun. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Celakalah orang yang ketika namaku disebut kemudian dia tidak bershalawat atasku.” Bahkan dalam menulispun, kita bisa bershalawat ketika menuliskan nama beliau dengan “Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam.” Karena saat di Padang Mahsyar, shalawat itulah yang akan membantu kemudahan saat berada di jembatan sirat. Shalawat itulah yang menjadi penolong bagi ummat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Konsekuensi dari kita beriman kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pertama, kita harus mempercayai apapun yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kedua, sebagai seorang mukmin sudah sepantasnya kita seperti seorang tentara kepada komandannya, selalu berkata “Siap” setiap mendengarkan perintah lalu mentaatinya. Ketiga, menjauhi dan meninggalkan apa saja yang menjadi larangannya. Keempat, kita harus beribadah sesuai dengan apa yang disyariatkan Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jika semua umat Muslim mengikuti apa saja yang disunnahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan hal yang tidak mungkin kesejahteraan akan tercipta.

Terdapat Suri Teladan yang Baik dalam Diri Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Jika saat ini ummat Islam merasa kehilangan panutan seorang pemimpin, lupakah dengan ayat dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21? Bahwa, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan nasihat, adab yang baik dalam bersosial dan bernegara.

Pemimpin. Allah memberikan amanah kepada mereka yang berhak menerimanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengingatkan bahwa, “Yaa Allah, barangsiapa yang menjadi wali/mengurusi perkara umatku lalu ia memberatkan mereka maka beratkanlah perkaranya, dan barangsiapa yang mengurusi suatu perkara umatku lalu ia lembut kepada mereka maka lembutlah kepadanya.” (Hadits Riwayat Muslim).

Sebagai pemimpin, patutnya tetap menjadikan diri sebagai hamba yang taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai pemimpin di atasnya pemimpin. Dengan begitu, diri akan tetap menjadi hamba yang taat.

Rakyat. Sering kita temui, ada pemimpin yang dianggap tidak mengayomi rakyatnya. Hingga sebagian rakyatnya berpikiran untuk melakukan gugatan maupun penolakan serta upaya menuntut hak rakyat dengan demonstrasi, turun ke jalan dan sebagainya. Islam mengajarkan cara-cara yang beradab dalam menasehati pemimpin. Kita bisa mengingat nasihat dari Imam Syafi’i Rahimahullah ketika seorang rakyat ingin menasehati, menegur kepada mereka yang menjadi pemimpin.

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri, dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.”

Sebagai rakyat ketika melihat pemimpin yang dirasa tidak sesuai dengan keinginan. Maka yang bisa kita lakukan adalah dengan memaknai Al-Qur’an Surah An-Nisaa ayat 59 bahwa, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” Konteks ulul amri adalah pemimpin yang selama perintah yang diberikan tidak menyuruh kepada kemaksiatan, maka sebagai rakyat kita tetap harus patuh kepada pemimpin.

Adapun jika rakyat ingin memberikan masukan kepada pemimpin, seperti zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyampaikannya dengan mengikuti prosedur yang ada. Memberikan surat yang berisi saran kepada lembaga-lembaga yang bersangkutan. Karena sebagai rakyat, kita tidak bisa menuntut pemimpin untuk sesuai dengan apa yang kita inginkan. Yang bisa kita lakukan adalah mendengar, menaati kepada selain kemaksiatan, serta bersabar, bertaqwa dan mendoakan pemimpin.

Keluarga. Dalam Al-Qur’an ada beberapa kisah yang menceritakan tentang beberapa keluarga. Seperti pengasuhan anak dari keluarga Luqman, nabi Ibrahim, keluarga Imran dan tentu saja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena keluarga adalah yang dihisab pertama kali dari seorang ayah yang beriman. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 66 bahwa, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Waktu-Waktu untuk Bershalawat

Shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki manfaat diantaranya:

  1. Dengan satu kali bershalawat maka kita mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah,
  2. Mendapatkan 10 kebaikan dan menghapus 10 kejelekan,
  3. Diangkat derajatnya sebesar 10 derajat,
  4. Dikabulkannya doa,
  5. Diiberikannya syafaat,
  6. Diampuni dosanya,
  7. Menghilangkan kegundahan,
  8. Bisa berdekatan dengan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam di hari akhir,
  9. Jauh dari kemiskinan,
  10. Ketika bershalawat, malaikat pun ikut bershalawat,
  11. Ditetapkan langkah di sirat,
  12. Menumbuhkan rasa cinta,
  13. Membuka pintu hidayah.

Adapaun untuk semakin memantapkan diri dalam bershalawat, berikut ada 20 waktu dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menanti sapaan dari ummatnya.

  1. Ketika tasyahud,
  2. Setelah adzan,
  3. Masuk dan keluar masjid,
  4. Akhir qunut saat shalat witir,
  5. Khutbah jum’at,
  6. Hari dan malam Jum’at,
  7. Perjalanan Shafa-Marwah,
  8. Shalat jenazah pada rakaat kedua,
  9. Di antara takbir shalat ied,
  10. Masuk Masjid Nabawi,
  11. Melewati makam Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam,
  12. Ketika ditempa kesusahan atau kegalauan,
  13. Ketika disebut nama nabi,
  14. Pembukaan saat di majelis,
  15. Di awal, tengah, akhir saat berdoa,
  16. Saat pagi dan sore hari dengan jumalh 10 kali shalawat,
  17. Ketika memperingatkan atau menyampaikan ilmu,
  18. Dibaca dimanapun kita berada.

Resume: Kajian ust Dr. Syafiq Riza Basalamah dengan tema “Indonesia Bershalawat” pada Sabtu, 2 Januari 2016 di Masjid Istiqlal Jakarta