Sebagai seorang ulama, Hamka dikenal secara konsisten dalam menjalankan agama. Selain itu, sebagai seorang keturunan dari Tuanku Pariaman, panglima perang Tuanku Imam Bonjol, jiwa nasionalisme yang dimiliki Hamka juga sangat tinggi. Beliau terjun langsung dalam upaya untuk meraih kemerdekaan Indonesia dari tangan Belanda.

Dalam kisah yang diceritakan oleh putranya, Irfan Hamka, Buya Hamka berjuang melawan penjajah Belanda pada tahun 1948 ketika agresi militer ke-II Belanda dilancarkan. Waktu itu Buya Hamka menjabat sebagai pimpinan dari FPN (Front Pertahanan Nasional). Kisah ini dimulai ketika Belanda memasuki kota Solok. Keluarga Hamka yang bertempat tinggal di daerah tersebut terpaksa harus mengungsi demi keselamatan. Istri dan anak-anak Hamka diungsikan ke daerah Tanah Bato. Di sana mereka menetap sementara untuk kemudian melakukan perjalanan kembali ke dusun Tabu Barair.

Ketika keluarganya melakukan perjalanan untuk mengungsi, Buya Hamka sendiri harus terus berjuang dan beberapa kali terpisah dari keluarganya. Mengingat Buya Hamka adalah seorang pimpinan dari FPN dan sangat dicari oleh Belanda, akan sangat berbahaya bila beliau melakukan perjalanan pengungsian seperti keluarganya. Beliau harus sering menghindar dari mata-mata Belanda.

Sampai di Tabu Barair, Hamka kemudian membawa keluarganya untuk mengungsi kembali ke Maninjau, kampung halamannya. Beliau dan sekeluarga kemudian menetap di sana. Ketika di Maninjau, Hamka sering melakukan perjalanan untuk menjalankan tugas dari Front Kemerdekaan Sumatera Barat. Seringkali dalam perjalanannya beliau ditemani oleh 2 orang anak laki-lakinya.

Berbagai pelosok daerah beliau kunjungi dengan berjalan kaki masuk keluar hutan. Dari Sumatera Barat hingga Riau pernah beliau sambangi demi menggalang semangat dari masyarakat. Waktu itu tugas Buya Hamka adalah memberikan semangat dan motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya mempertahankan kemerdekaan. Dari sinilah Hamka menggalang persatuan umat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pernah suatu hari giliran daerah di sekitar Danau Maninjau beliau kunjungi. Daerah tersebut bernama Sigiran. Untuk mencapai daerah tersebut Hamka dan rombongannya harus menggunakan perahu untuk menyeberangi danau. Namun kejadian yang mengejutkan terjadi. Ketika perahu sampai di tengah danau tiba-tiba muncul pesawat terbang Belanda dari balik awan. Masyarakat yang mengantar Hamka dari tepi danau merasa cemas dan sangat ketakutan.

Istri dan anak-anaknya yang juga ikut mengantar mengalami hal yang serupa. Di dalam perahu yang ditumpangi Hamka ada seorang penjemput dan dua anaknya. Pesawat terbang Belanda terbang rendah di atas perahu tadi dan memantau isi perahu. Sesaat kemudian pesawat tersebut menjauh terbang ke atas dan meninggalkan perahu Hamka. Mereka selamat dari ancaman Belanda.

Kisah di atas merupakan sedikit bagian dari sumbangsih Buya Hamka untuk negeri ini. Sebagai seorang muslim yang taat dalam menjalankan agama, sudah sepantasnya perbuatan kita dilandasi dengan rasa ikhlas dan semangat berjuang di jalan Allah. Sehingga Insya Allah hasil karya yang kita lakukan dapat bermanfaat bagi umat dan bangsa.

 

Penulis: Muhammad Richa Saputra || Kepala Divisi Pena Departemen Islamic Press JMMI ITS 1516

Editor: Arning Susilawati