Hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanizing the human being) dalam mempersiapkan generasi yang kompeten hingga mampu menghadapi berbagai persoalan kekinian dan tantangan masa depan.

Menyadari bahwa tantangan yang kita hadapi di masa mendatang tidaklah semakin sederhana, alias makin kompleks. Juga menyadari keuntungan yang dimiliki Indonesia yaitu bonus demografi (populasi usia produktif yang besar). Maka untuk menjawab tantangan tersebut dan memaksimalkan potensi tersebut sekaligus diperlukan sebuah pendidikan yang menumbuhkan karakter. Ada tiga kelompok pendidikan karakter :

  1. Pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa
  2. Pendidikan karakter yang terkait dengan keilmuan
  3. Pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga menjadi orang Indonesia

Membangun ketiga kelompok karakter tersebut tidak cukup hanya melalui pembelajaran di kelas, tapi juga harus secara simultan melalui kultur sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Ditengah-tengah kita muncul istilah adat istiadat. Dari bahasa Arab, artinya suatu kebiasaan yang diminta untuk diulang-ulang. Artinya, kebiasaan baik perlu upaya transformasi nilai secara terus menerus sehingga menjadi budaya suatu masyarakat. Prosesnya dari kebiasaan akan menjadi tradisi dan selanjutnya menjadi budaya, dan inilah modal paling mahal dalam membangun peradaban bangsa. Menjadikan nilai-nilai kemuliaan dan keutamaan (misal : sopan santun, disiplin, jujur, bersih, toleran, produktif, kreatif) menjadi kebiasaan.

Dari knowing the good -> habit of the mind

Dari desiring the good -> habit of the heart

Dari doing the good -> habit of action

Jadi, pembentukan karakter membutuhkan waktu (sabar), proses berkesinambungan (istiqomah), daya gugah dan sentuh kedalam emosi (Ikhlas), dan cara-cara kreatif dan inovatif (thariqah ahammu minal maddah), serta melibatkan semua pihak.

Prinsip dasar pendidikan adalah untuk semua (education for all), tidak boleh ada diskriminasi karena jender, status ekonomi, atau dasar primordialisme. Akses pendidikan pun haruslah terbuka luas bagi setiap lapisan masyarakat, terutama pendidikan dasar dan menengah. Ada dua hal yang menentukan akses pendidikan : ketersediaan (avability) sekolah dan jangkauan dari sisi pembiayaan (affordability). Oleh karena itu, saatnya dunia pendidikan kita, khususnya pendidikan tinggi, harus kita bangun tradisi baru, yaitu ramah secara sosial. Tidak hanya ramah sosial tapi kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya.

Bicara tentang keterampilan. Sebagian kita kerap mengasumsikan bahwa orang kreatif haruslah ber-IQ sangat tinggi. Dan karena IQ kita tidak cukup tinggi, kita jauh lagi mengasumsikan bahwa kita tidak bisa menjadi kreatif. Padalah yang terjadi adalah sebaliknya. Para penulis, pelukis, musisi, ilmuwan, pebisnis, dan jenis-jenis orang kreatif lainnya tidak lebih pandai dari orang biasa. Guru besar psikologi Dean Simonton, Ph.D. (james H Mapes: 2003) melakukan ratusan eksperimen tentang kreativitas. Tapi ia tidak bisa menemukan hubungan antara kreatifitas dan IQ. Menurutnya, seseorang tidak perlu jadi orang jenius untuk menjadi seorang yang kreatif.

Kreatif atau sering kita sebut berfikir kreatif diharapkan menjadi benih dan lahan subur tumbuhnya enterpeneurship. Kita tidak menginginkan tumbuhnya enterpeneurship karena kebetulan saja tapi melalui rekayasa sosial yang sistematis sehingga terbentuk tradisi dan budaya enterpeneurship. Tanpa tradisi dan budaya yang terjadi adalah seleksi alam.

Selain aspek-aspek tersebut, landasan yang paling penting adalah pendidikan agama. Masalahnya bukan pada ajaran agama tapi pada keberagaman kita. Bukan salah alat musiknya tapi pada cara kita memainkannya. Pendidikan agama haruslah menjadi dasar bagi setiap peserta didik sampai mereka memahami betul agamanya, sehingga terciptannya harmoni dalam kehidupan masyarakat.

Kehormatan seseorang terletak pada kemampuannya memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan kepada orang lain. Oleh karena itu, kompetensi lulusan tak boleh direduksi hanya dalam dimensi kognitif saja (akumulasi pengetahuan dan keterampillan), tapi perlu memperhitungkan aspek sosialnya (kemampuan berkomunikasi, negosiasi, membangun hubungan kepercayaan, menginterpretasi situasi). Agar seorang dapat mengkomunikasikan apa yang ia pikirkan ke khalayak ramai, dan didukung oleh pendidikan agama yang mumpuni maka akan terciptalah sebuah perabadan harmoni.

Pada akhirnya tujuan pendidikan adalah pembentukan peradaban yang dicita-citakan, dengan jalan yang memanusiakan manusia, Dan dengan segala kompetensi yang dirancang baik dari segi kognitif maupun sosial dan didasarkan nilai-nilai agama/kerohanian.

Resume Buku: Menyemai Kreator Peradaban

Penulis: Dzakwan

Editor: Arning Susilawati