Pernahkah melihat suatu kondisi dimana, perubahan sosial sangat mengintimidasi seseorang atau sekelompok orang? Seperti halnya dalam penyimpangan sosial. Di sekolah anak-anak diajarkan bahwa yang namanya menyimpang adalah mereka yang tidak sesuai dengan aturan yang ada di masyarakat. Hal itu tidak benar dalam ajaran Islam, karena makna menyimpang yang sebenarnya adalah mereka yang menyimpang dari tuntunan Islam.

Jika kita menengok sejarah nabi Ibrahim dan kaumnya, yang menyimpang siapa? Meskipun nabi Ibrahim sendiri bertauhid tetapi karena kaumnya musyrik, maka yang menyimpang adalah yang musyrik. Pun dalam teori kebutuhan, primer, sekunder dan tersier. Materi tersebut menyebutkan bahwa, kebutuhan primer adalah sandang, pangan dan papan (rumah) sedangkan dalam Islam, yang menjadi kebutuhan primer adalah ibadah. Artinya, anak-anak diarahkan untuk mementingkan materi, sedangkan generasi harapan Islam adalah mereka yang mengedepankan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Pandangan Umum (Liberal) tentang Pendidikan

Snouck Hurgronje, tokoh orientalis Belanda pernah menyatakan bahwa, “Pengasuhan dan pendidikan adalah cara untuk mencapai tujuan membebaskan atau melepaskan Muslimin dari agama mereka. Bahkan, di negeri-negeri berbudaya Islam yang jauh lebih tua dibanding kepulauan Nusantara, kita menyaksikan mereka belajar dengan efektif untuk membebaskan umat Muhammad dari kebiasaan lama yang telah lama membelenggunya.”

Di dunia pendidikan, liberalisme menyerang dua sistem penting. Pertama, adalah liberalisasi pemikiran Islam yaitu berupa metodologi studi Islam yang berbasis pada metode para orientalis. Ciri-cirinya adalah metode ini diajarkan dengan metode kritis untuk menanamkan keraguan (tasykik). “Orang belajar agama bukan untuk menyakini, mengimani, untuk mengamalkan, membentuk akhlak yang baik, akan tetapi hanya sekedar untuk wacana diskusi kritis,” kritik Dr. Adian Husaini yang tertuang dalam buku barunya, “Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab.”

Sistem kedua terjadi dalam pendidikan umum. Misalkan dalam kurikulum mata pelajaran PKn (Pancasila dan Kewarganegaraan). PKn mengajarkan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup dan pedoman moral bangsa Indonesia. Padahal, Pancasila tidak memiliki sosok panutan ideal yang bisa dijadikan contoh dalam membentuk karakter bangsa Indonesia. Berbeda dengan Islam, yang memiliki suri tauladan yang jelas dan abadi, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Perihal tersebut, doktor alumnus Universitas Teknologi Malaysia pun mengungkapkan tambahannya bahwa, “Kurikulum-kurikulum ini harus disaring dan dijelaskan letak kesalahan-kesalahannya. Sejarah misalkan, apakah anak-anak kenal dengan siapa Raden Patah, siapa Adipati Yunus, Hamka, Natsir, KH. Hayim Asyari, Kh. Wahid Hasyim sebagai sosok pejuang Islam dalam mencapai kemerdekaan RI?”

Di sejarah SMP, anak-anak mendapatkan pelajaran tentang kekalahan. “Kekalahan perjuangan para tokoh disebabkan oleh…“ Sungguh ironi ketika mereka dicecoki sejarah kekalahan suatu bangsa. Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah tidak berbicara kekalahan. Itulah segelintir kesalahan yang diajarkan dalam buku sejarah.

Karena kalau kita mengajarkan bahwa pejuang itu gagal maka banyak anak yang akan beranggapan bahwa, “Ngapain belajar sejarah? Gagal itu kan berarti tidak berhasil, sehingga tidak perlu dicontoh atau dilakukan.” Pun dalam sejarah awal mula penciptaan manusia. Sejarah umum menyebutkan bahwa manusia adalah keturunan monyet, sedang Allah menyebutkan bahwa manusia merupakan keturunan nabi Adam. Tugas dari keturunan nabi adalah memperjuangkan ajaran nabi, menegakkan tauhid. Sangat jelas, sekuler dalam liberalisme mengedepankan pemikiran ilmiah daripada wahyu yang Allah turunkan.

Pandangan Islam tentang Pendidikan

“Tujuan pendidikan dalam Islam adalah melahirkan manusia yang beradab (insan adaby) atau manusia yang baik (good man),” terang Ustadz yang memiliki tujuh orang anak tersebut ketika memulai pembicaraannya terkait pendidikan dalam Islam.

Tambahnya bahwa, “Dalam buku karangan Prof. Naquid al-Attas yang dikatakan adab adalah suatu kelakuan yang harus diamalkan atau dilakukan terhadap diri dan yang berdasarkan ilmu maka kelakuan atau amalan itu bukan sahaja harus ditujukan kepada sesama insani, bahkan pada kenyataan makhluk jelata yang merupakan ma’lumat bagi ilmu.”

Lebih lengkapnya lagi; Tiap sesuatu atau seseorang memiliki hal yang meletakkannya pada keadaan atau kedudukan yang sesuai bagi keperluannya. Ilmulah, dibimbing serta diyakini oleh hikmat yang memberitahu atau memperkenalkannya sehingga ketara tentang hak yang mensifatkan sesuatu atau seseorang itu, dan keadilan pula yang menjelaskan hukum tentang di manakah atau bagaimanakah letak keadaan atau kedudukannya.

Ilmu merupakan landasan dalam beradab. Islam mewajibkan kepada semua kaumnya untuk mencari ilmu kemanapun, dimanapun hingga jazat dikandung badan. Islam memberikan pengarahan bahwa ada dua jenis ilmu yang harus dikuasai setiap Muslim. Pertama, ilmu-ilmu fardhu ain diantaranya meliputi akidah, ibadah, sejarah, akhlak, tantangan pemikiran kontemporer, bela diri. Kedua, ilmu-ilmu fadhu kifayah dimana ilmu tersebut berupa ilmu-ilmu yang diperlukan dalam dakwah dan keunggulan masyarakat seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, sains serta ilmu-ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Konsep pendidikan di Indonesia sejatinya adalah konsep pendidikan yang sangat menjunjung tauhid. Namun dalam pelaksanaannya, bumbu-bumbu sekuler mengganggu keharmonisan konsep tersebut,” ujar Adian. Konsep pendidikan tersebut dimulai dari sila pertama dan kedua pada Pancasila. Pun dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3 (versi Amandemen): “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Jika setiap pendidik dalam mengajarkan ilmu kepada anak didiknya selalu mengingat konsep pendidikan tersebut, bukankah mempermudah jalannya mewujudkan Indonesia dengan manusia-manusia yang adil beradab, seperti impian di sila kedua Pancasila. Manusia-manusia yang beradab itulah yang nantinya akan menjadi komandan peradaban kemajuan Indonesia. Kemajuan akhlak dan pengetahuan yang membawa rahmat bagi seluruh ciptaan Allah di bumi-Nya.

Lalu, lebih luas, “Siapakah pendidik itu?” Adalah. “Presiden, meteri, rektor, gubernur, bupati, camat, lurah, kepala sekolah, guru di sekolah, ustadz di pesantren dan kita semua orangtua di rumah masing-masing,” ungkap Mahfudhat terkenal yang dikutip oleh Dr. Adian Husaini di bukunya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dank eras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6.

Sumber: Wawancara langsung kepada Dr. Adian Husaini pada Bedah Buku “Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab” yang bertempat di Kantor Bina Qalam Indonesia Surabaya, 27 Januari 2016.

Buku: Husaini, Adian. 2015. Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab. INSISTS dan Bina Qalam Indonesia. Jakarta-Surabaya.

*Tulisan dimuat di Majalah Aisyahtong Surabaya.