Perkembangan Islam di kota Bukhara dimulai sejak Dinasti Samaniah (874-999 M). Berasal dari seorang bangsawan kota Balkh (Iran), yang bernama Saman setelah menerima bantuan dari gubernur Khurasan yang sebelumnya telah masuk Islam. Dan berganti nama menjadi Abdulah. Setelah masuk Islam, Saman memberi nama anaknya Assad (Nashr bin Ahmad bin Assad bin Saman) yang mana pada pemerintahan Assad adalah awal mula Dinasti Samaniah. Semenjak diangkatnya Assad oleh Khalifah Al-Mu’tamid menjadi penguasa tunggal Transoxania pada tahun 875 M, Dinasti Samaniah semakin membesar. Sejak saat itu, Assad yang merupakan gubernur Samarkand kemudian memindahkan ibu kota pemerintahannya ke Bukhara. Dinasti Samaniah pun berkuasa di Bukhara selama 130 tahun dengan sebelas orang sultan yang memerintah.

Sebuah bukti mengenai kebesaran dinasti Samaniah adalah cerita mengenai seorang pangeran Istana Samaniah di Bukhara yang bernama Khawajah Abu Nasr Samani yang sangat shalih, rendah hati, dan dinilai memiliki banyak kelebihan namun kemudian memilih untuk keluar istana demi mendakwahkan Islam.

Ia pernah bermimpi didatangi oleh Nabi, pangeran Satuq Bughra Khan (penguasa wilayah Turkistan)  yang belum masuk Islam menantikan kedatangannya untuk berikrar masuk Islam. Setibanya Abu Nasr Samani di Kasghar (ibu kota Turkistan) ternyata mimpi yang dialaminya benar, Satuq Bughra pun segera masuk Islam dan siap menerima bimbingan Abu Nasr. Dan tak ketinggalan sambutan hangat pun ia terima dari rakyat Turkistan, dimana pada tahun 960 sekitar 200.000 penduduk Turki Saljuk nomaden di Turkistan masuk Islam.

Sejak itu kaum Turki Saljuk berhijrah ke Bukhara dan mereka inilah yang nantinya menjadi pahlawan-pahlawan gagah berani dalam sejarah perluasan Islam selanjutnya sehingga mampu mengislamkan orang-orang kafir mulai dari Pantai Oxus di selatan hingga Quraqaram, bahkan hingga melebar ke Cina.

Seorang sejarawan muslim, Yaqut Hamwi, dalam Mu’jam Buldan-nya (Ensiklopedi Negara-negara) mencatat bahwa kota Bukhara dibuka oleh Sa’id bin Utsman. Salah satu panglima Mu’awiyah bin Abu Sufyan, khalifah Bani Umayyah, pada tahun 55 H, yang kemudian ia menjadi gubernur pertamanya. Sedang Ibnu Asyir dalam kitab sejarahnya, Al-Kamil fi Al-Tarikh menulis, bahwa yang membuka kota Bukhara aalah sahabat Qutaibah bin Muslim pada tahun 77 H.

Fakta tersebut membuktikan kebenaran catatan sejarah lain yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Asia Tengah melalui barat daya, langsung dari Timur Tengah pada abad ke-7. Pada tahun 642, Dagestan menjadi wilayah Arab dan pada tahun 673 kaum muslimin menyeberangi sungai Ammu Darya dan menduduki kota Bukhara.

Dari abad ke-16, Asia Tengah menjadi salah satu pusat budaya Islam di dunia yang paling bergengsi. Di kota Samarkand, sekarang masuk wilayah Uzbekistan, pada masa dinasti Abbasiyah tumbuh subur masjid-masjid besar dan madrasah-madrasah. Samarkand dan Bukhara dianggap sebagai pelopor Islam di Timur. Buku-buku geografi lama menganggap Bukhara sebagai kota yang paling besar di antara kota-kota yang ada dalam kekuasaan Islam. Tidak hanya terkenal sebagai pusat perdagangan, namun juga karena keindahannya. Juga berkembang usaha pembuatan kain sutera, tenunan kain dari kapas, perhiasan dari emas, dan perak dengan berbagai bentuk. Di samping karena letaknya disekitar sungai Jenun, daerah ini terkenal dengan kesuburan tanahnya dengan  hasil utama adalah buah-buahan.

Oleh: Desy Puspita Sari

Editor: Arning Susilawati