Atas dasar dorongan sang ibu, Syafi’i kecil mulai membuka lebar-lebar mata dan hatinya, menerima dan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya di Makkah.

Ibunda Syafi’i membawanya ke tempat seorang guru untuk meminta beliau mengajari Syafi’i membaca dan menulis Al-Qur’an. Tapi sang Ibu tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada guru. Namun Syafi’i merupakan anak yang cerdas, pernah suatu hari gurunya terlambat datang ke majelis. Syafi’i pun mengambil langkah berani, berdiri menggantikan gurunya tersebut untuk mengajar anak-anak yang lain. Sejak saat itu, sang guru menyadari bahwa Syafi’i bukan anak biasa. Ia pun mulai memperhatikan Syafi’i dan memutuskan untuk membebaskan Syafi’i dari biaya pendidikan asal Syafi’i bersedia mengajari teman-temannya jika sang guru terlambat atau berhalangan hadir ke majelis.

Syafi’i pernah berkata, “Saat membaca buku, aku mendengar guruku tengah mengajari seorang anak tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Aku pun mulai menghafalnya. Ketika guru selesai mediktekan semua ayat untuk murid-muridnya, biasanya aku sudah menghafalnya terlebih dahulu. Suatu hari guruku pernah berkata, ‘Tak layak bagiku untuk memungut bayaran sepeser pun darimu.’”

Syafi’i makin aktif ke masjid dan berkumpul dengan para ulama. Sambil menghafal Al-Qur’an ia banyak mendengar pelajaran dari para ulama. Setelah selesai dengan hafalan Al-Qur’annya, Syaifi’i mulai mengahafal hadits. Syafi’i banyak menghafal hadits hanya dari mendengarkan para Muhaddits, kadang ia menuliskan hafalannya di atas tembikar atau di atas kulit.

Selain itu, Syafi’i juga biasa pergi ke perpustakaan tempat menyimpan catatan-catatan dan manuskrip-manuskrip. Di sana ia meminta beberapa lembar mansukrip dan menulis catatan di bagian yang masih kosong. Pada fase ini ia telah berhasil mengahfal al-Muwaththa’ karya besar imam Malik.

Tentang kebiasaan menulisnya ini, Syafi’i menuliskan pesannya lewat sebuah syair:

Ilmu bak buruan dan catatan adalah pengikatnya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

Sungguh bodoh jika kau berhasil emburu rusa

Namun kau biarkan ia terlepas di tengah makhluk lain.

Dalam syair yang lain, Syafi’i menuturkan tentang keutamaan ilmu sebagai nilai diri manusia.

Belajarlah! Seseorang tidak dilahirkan sebagai orang alim

Pemilik ilmu tidak seperti orang bodoh

Pemimpin suatu kaum yang tak memiliki ilmu

Terlihat kecil jika dikelilingi pasukannya

Orang yang kerdil di tengah suatu kaum

Jika berilmu ia terlihat besar di tengah masyarakatnya.

 

Rewrite: Deby Theresia

Editor: Arning Susilawati