Sepeninggal ayahnya, pendidikan dan pertumbuhan Al-Bukhari sepenuhnya di bawah bimbingan ibunya. Segera ia dimasukkan ke surau (kuttab) untuk mempelajari berbagai macam ilmu keIslaman dan terutama untuk menghafal Al-Qur’an sebagai kebiasaan anak-anak kecil  waktu itu. Di sanalah ia mulai mengenal hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Abu HAtim Al-Warraq, seorang murid dan sekretarisnya mengatakan, bahwa Al-Bukhari mulai mengenal hadits semasa di surau ini dan umurnya waktu itu sekitar sepuluh tahun, sekitar tahun 204 atau 205 H. Suatu fase dimana menurut ulama hadits seorang dibolehkan untuk mempelajari hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus meriwayatkannya. Terlepas dari perselisihan akan ulama yang melarangnya.

Kecerdasan serta tanda-tanda awal seorang ulama besar dalam diri Al-Bukhari mulai bersinar. Suatu hari di sebuah majelis ilmu di mana Allamah Al-Dakhili, seorang ulama hadits di Bukhara mengajarkan hadits, Al-Bukhari pun asyik mendengarkan dan tekun mengikuti majelis tersebut. Hingga suatu ketika Allamah Al-Dakhili menyebutkan sebuah sanad hadits. “Sufyan dari Abu Zubair dari Abu Ibrahim,” Al-Bukhari berkata, “bahwa Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan dari Ibrahim.” Sang guru pun gelisah dan terkejut. Tapi Al-Bukhari dengan tenang berkata, “Cobalah Anda teliti sanad aslinya.” Setelah ia meneliti sanad aslinya ternyata Al-Bukhari yang benar. Kata sang guru, “Coba jelaskan sanad tadi menurutmu.” Al-Bukhari menjawab, “Yang benar adalah Zubair –yaitu Zubair bin ‘Adi bukan Abu Zubair- dari Ibrahim.” Ketika Al-Bukhari menceritakan kisah ini, seorang bertanya, “Umur berapa engkau saat itu?” Jawabnya, “Sebelas tahun.”

Dari sini terlihat Al-Bukhari telah awal sekali bergelut dan mencintai hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tiadak hanya berhenti di situ saja, ia juga mampu untuk membedakan dan menghukumi manakah hadits yang shahih  dari yang tidak, memeriksa dengan teliti sebuah jalur periwayatan, menyebutkan biografi para rawi dari berbagai segi terutama yang berkaitan dengan syarat-syarat diterimanya riwayat mereka, mebandingkan berbagai jalur periwayatan, juga menyimpulkan masalah-masalah yang terkandung dalam sebuah matan hadits.

Selain Allamah Al-Dakhili, guru-guru awalnya di Bukhara antara lain Muhammad bin Salam Al-Bikandi, Abdullah Muhammad bin Al-Musnadi, dan Ibrahim bin Asy’ab. Bersama para ulama ini, kelilmuan Al-Bukhari mengalammi peningkatan sekaligus datang pula pengakuan dari para ulama dan teman sejawatnya akan keluasan pengetahuan haditsnya. Kadang mereka merasa minder dan khawatir jika dalam hal periwayatan suatu hadits datang teguran pembenaran dari Imam Al-Bukhari. Tak jarang, teman-teman sejawatnya meminta dirinya untuk menguji hafalan hadits dan membenarkan kesalahan dalam sebuah periwayatan. Bahkan gurunya sendiri, Muhammad bin Salam Al-Bikandi juga merasakan hal yang demikian. “Setiap kali Muhammad bin Ismail menghadiri majelisku, pikiranku terasa tidak berkonsentrasi dan senantiasa khawatir jika dia banyak membenarkan penyampaian riwayat dariku.”

Sebelum kepergiannya keluar Bukhara untuk mencari ilmu, Salim bin Mujahid menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, “Ketika aku di rumah Muhammad Salam Al-Bikandi, ia berkata padaku, cobalah carikan aku seorang anak kecil yang ku dengar telah menghafal 70.000 hadits.” Segera aku mencari anak kecil tersebut. Aku menemuinya dan ku katakan, “Apa benar engkau menghafal 70.000 hadits?” Al-Bukhari menjawab, “Benar, dan bahkan lebih dari itu. Aku tidak akan menyebutkan sebuah riwayat hadits dari seorang sahabat atau tabi’in kecuali telah ku ketahui tempat kelahiran dan wafatnya mereka. Juga tidak akan kuriwayatkan sebuah hadits dari mereka kecuali telah kuketahui asal sanad tersebut dan menghafalnya sebagaimana aku menghafal Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ia mengatakan, “Aku hafal hadits di luar kepala sebanyak seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits lain yang tidak shahih.

Muhammad bin Salam Al-Bikandi berkata pada Al-Bukhari, “Wahai Al-Bukhari, sebelum engkau pergi meninggalkan Bukhara tolong engkau periksa kitabku, apakah ada banyak kesalahan di dalamnya?” Seorang sahabatnya lalu bertanya, “Apa kelebihan dari pemuda ini hingga engkau memerintahkannya memeriksa kitabmu, sedang ku tahu bahwa engkau adalah yang termahir dalam bidang hadits di Bukhara ini?” Al-Bikandi menjawab, “Pemuda ini tiada duanya.” Al-Bukhari pun segera memeriksa kitab gurunya itu lalu memulai perjalanannya. Ternyata tugas yang diberikan tersebut menjadi pertemuan terakhir sebelum gurunya meninggal dunia saat Al-Bukhari sedang dalam perjalanan mencari ilmunya.

Imam At-Tirmidzi mengatakan, suatu ketika Imam Al-Bukhari berada di rumah atau majelis Abdullah bin Munir seorang ulama hadits dan segera akan pamit pulang. Lalu Abdulah bin Munir berkata sembari berdoa, “Wahai Aba Abdilah (julukan Imam Al-Bukhari), semoga Allah menjadikan engkau sebagai perhiasan ummat (Islam) ini,” tambah Imam At-Tirmidzi, “Dan itu terbukti benar-benar terwujud.”

Rewrite: Desy Puspita Sari

Editor: Arning Susilawati