Imam Al Bukhari, Amirul Mu’minin fil-Hadits (pemimpin seorang mukmin dalam masalah hadits) dilahirkan di kota Bukhara pada hari ke-13 bulan Syawal 194 H (21 Juli 810 M), siang hari setelah salat Jum’at ditunaikan. Imam Al Bukhari adalah empu para ahli fiqih dan hamba yang dipilih oleh Allah untuk memperbaharui, menghidupkan dan menjaga sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seakan kelahirannya menemani awal bulan baru dari tahun Hijriyyah Islam, Syawal. Jika ditelisik, Imam Al Bukhari lahir seratus tahun setelah wilayah Bukhara dibuka dan penduduknya memeluk agama Islam.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah bin Badzdzibah Al-Ju’fi. Ayahnya, Syaikh Ismail yang terkenal dengan panggilan Abu Hasan adalah seorang ulama hadits mahsyur di Bukhara pun pernah menjadi murid Imam Malik–Imam Darul Hijrah. Ia juga salah satu sahabat dari Hammad bin Ziyad dan Ibnu Mubarak,tabi’in masyhur dan diterima riwayatnya di kalangan ulama hadits. Melihat pertemanan ayahnya ini, kita bisa melihat bahwa Al-Bukhari dibesarkan di dalam keluarga yang religius dan dipenuhi semangat keilmuan.

Silsilah keluarganya dimulai dari ayah buyutnya, Bardizbah atau Badzduzbah, yang berasal dari Persia dan hingga meninggal tetap menganut agama Majusi. Tetapi cahaya Allah mulai menerangi keluarga ini saat ayah dari kakeknya, Al-Mughirah menyatakan keIslamannya di depan gurunya, Yaman Al-Ju’fi, hakim serta mufti Bukhara saat itu. Menurut kebiasaan, seseorang yang menyatakan keIslamannya di hadapan seseorang, suatu suku atau kabilah, secara tidak langsung ia harus menisbahkan silsilah keluarganya kepada seseorang atau kabilah tersebut. Maka nama Al-Ju’fi tidak bisa diihilangkan dari silsilah keluarga Imam Al-Bukhari. Demikian dalam Islam, hal ini dikenal dengan istilah wala’.

Selain ayahnya dikenal sebagai seorang berilmu, juga sebagai ahli wara’ dan menjaga ketakwaan. Dikisahkan sebelum ajal menjemputnya, ia pernah mengatakan bahwa dalam harta yang dimilikinya tidak ada sedikitpun yang berbau syubhat apalagi haram. Tapi sayang, ayahnya meninggal sewaktu Al-Bukhari belum beranjak dewasa. Al-Bukhari dan adiknya termasuk beruntung karena ayahnya meninggalkan harta warisan yang cukup untuk kehidupan selanjutnya. Ibundanyalah yang akhirnya bertanggungjawab sebagai kepala keluarga. Tentang ibunya, Ibnu Hajar mengatakan, ibunda Imam Al-Bukhari adalah seorang ahli ibadah yang tekun hingga sebagian besar riwayat menjelaskan banyak terdapat karamah yang diberikan Allah kepadanya.

Salah satunya adalah riwayat yang menceritakan sewaktu kecil Imam Al-Bukhari mengalami kehilangan penglihatan. Dokter yang paling ahli pun tidak bisa menyembuhkan hingga suatu malam ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘Alahi Salam yang berkata padanya, “Wahai ibu, disebabkan oleh banyak doa dan tangismu, Allah akan mengembalikan penglihatan anakmu.” Selain itu ketika shalat malam, sang ibu tak lupa memanjatkan doa kesembuhan untuk anaknya. Maka sewaktu paginya, pennglihatan Muhammad (Al-Bukhari) kembali seoerti semula.

Dalam versi lain diceritakan setelah Imam Al-Bukahri membaca dan menghafal Al-Qur’an pada malam harinya yang dimulai dari surat Qaaf  sampai ayat 22 yakni, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

Setelah membaca ayat ini, penglihatannya pulih dan kembali seperti semula. Peristiwa kebutaan yang menimpa Al-Bukhari juga tidak hanya terjadi sewaktu ia kecil, tetapi juga sewaktu ia beranjak dewasa dalam perjalanan (rihlah) mencari ilmunya.

Rewrite: Desy Puspita Sari

Editor: Arning Susilawati