Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan
Prof. Dr. Hamka. Oktober 2014. Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan (Cetak Ulang). Gema Insani Press.

 

Perempuan juga Dimuliakan

Jika orang-orang liberal mengatakan bahwa Islam tidak memuliakan perempuan maka itu salah besar! Allah sangat memuliakan kaum hawa, bahkan banyak perempuan mulia dan terhormat yang disebut dalam Al-Qur’an. Seperti ibunda Nabi Isa, Maryam yang terdapat di surah Maryam; tentang seorang ratu di negeri Saba’ yaitu Ratu Bilqis yang disebutkan dalam surah An-Naml; dan isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Khadijah. Perempuan dipandang sebagai bagian yang sama pentingnya dengan laki-laki dan memikul tanggung jawab beragam.

Penghargaan yang Sama

“Dan orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar… Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya…”

Dalam Surah At-Taubah ayat 71-72 menjelaskan bahwa kedudukan perempuan mendapat jaminan yang tinggi dan mulia. Baik laki-laki maupun perempuan memikul kewajiban dan mendapat hak terutama dalam menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma’ruf dan nahi munkar). Tentunya Allah tidak akan membedakan keduanya dalam memberikan penghargaan.

Pembagian Tugas

Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukan berarti bahwa pekerjaan yang hanya mampu dipikul oleh laki-laki, perempuan disuruh memikulnya pula. Islam menjelaskan bahwa meskipun sama-sama ber-hak dan ber-kewajiban, pekerjaan harus tetap dibagi. Kaum laki-laki mendapat kemuliaan ketika mereka pergi berjihad atau bepergian sebagai musafir sedangkan kaum perempuan yang selalu menjaga rumah tangga, yang mendidik anak-anak, dan memasak makanan. Maka hendaknya tidak perlu khawatir, karena sesungguhnya ketaatan dan mengamalkan apa yang diridhai-Nya adalah lebih mengimbangi segala kelebihan yang dimiliki laki-laki.

Dia Mendapat Harga Diri

Pada zaman jahiliyah, melahirkan anak perempuan merupakan hal yang memalukan, itulah  alasan mengapa orang arab sering kali menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup. Jika tidak begitu, anak perempuan akan tumbuh sebagai tawanan dalam rumah, menjadi pekerja paksa, dan mengangkat yang berat-berat. Namun, setelah Islam datang, Allah mencela tindakan tersebut dan kaum perempuan Arab mendapat kembali kepribadiannya.

Apakah lahir ke dunia adalah suatu dosa? Padahal yang melahirkan laki-laki adalah seorang perempuan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa mereka memiliki peran tidak kalah penting dengan laki-laki dalam pembangunan Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Putrinya

Rasulullah pernah bersabda, “Ia adalah kembang mekar untuk kita cium. Tentang rezekinya, kita serahkan kepada Allah.”

Kata ‘Ia’ yang dimaksud di sini adalah anak perempuan, dimana saat itu dikisahkan Rasulullah pernah mencium Fatimah didekat para sahabatnya. Padahal kala itu masyarakat Arab sangat membenci seorang anak perempuan. Rasulullah sangat menyayangi anak perempuannya. Berbeda dengan kaum musyrikin jahiliyah yang merasa dirinya hina jika mengasihi anak perempuan. Jika seperti itu penghargaan yang didapat perempuan maka perasaan kebanggan beragama tidak akan bangkit dalam jiwa perempuan.

Kemuliaan Ibu

Ada orang bertanya pada Rasulullah, “Kepada siapa aku mesti memberikan pembaktian?” Rasulullah menjawab, “Ibumu!” ditanyanya sekali lagi, masih dijawab’ “Ibumu!” ditanyanya sekali lagi, masih dijawab, “Ibumu!” tanya yang ke empat barulah dijawab “Ayahmu!”

Tampak jelas bahwa seorang ibu (perempuan) begitu dimuliakan oleh Allah. Bukankah surga itu di telapak kaki ibu? Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada ibu, betapa perempuan tidak bahagia atas kemuliaan ini?

Hormatilah dan Sayangilah Mereka

Selain seorang ibu yang harus dihormati dan muliakan, seorang anak perempuan pun patut untuk di sayangi dan di lindungi, baik oleh ayahnya maupun saudara laki-lakinya.

“Barang siapa ada padanya saudara perempuan, lalu dia berlaku baik kepadanya dalam pergaulan, akan masuklah ia di antara keduanya ke dalam surga.” (HR Imam Ahmad dari Ibnu Abbas)

Lebih Mulia daripada Bidadari

Islam sangat memuliakan perempuan, dapat dilihat betapa Allah sangat melindungi dan menjaga seorang perempuan melebihi perhiasan di muka bumi ini.

Ummu salamah, istri nabi Muhammad SAW, pernah bertanya kepada Rasulullah, seperti dalam sebuah hadits, “Manakah yang lebih mulia, ya Rasulullah, perempuan di dunia ini atau anak bidadari di surga?” Rasulullah saw menjawab, “Perempuan dunia lebih mulia dari anak bidadari, laksana lebih mulia pakaian luar daripada pakaian dalam!

Perempuan dunia akan masuk surga karena amalannya, shalatnya, salihahnya, kesetiaannya pada suami, dan pengorbananya untuk anak-anaknya. Sementara bidadari mendapat tempat tersebut dengan tidak mengetahui betapa tinggi nilai tempat yang didiami tersebut karena tidak didapat dengan jerih payah dan perjuangan.

Hak-Hak Istimewa Perempuan

Syiqaq (perselisihan), jika terjadi perselisihan dalam rumah tangga dan tidak dapat disatukan lagi. Serta suami tidak dapat lagi memimpin istrinya dengan sewajarnya, dan si istri pun tidak dapat lagi memercayakan pimpinan atas dirinya kepada suaminya. Pada saat itu kaum kerabat dan lingkungan hendaknya campur tangan. Bunyi ayat “Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu.” Yang dimaksud dengan keduanya disini jelas bukan suami istri karena mereka telah syiqaq (berselisih). Yang dimaksud dengan keduanya dalam ayat ini ialah kedua hakam. Dengan adanya hakam dari kedua belah pihak ihi, hak perempuan seratus persen sama dengan hak laki-laki. Tegasnya, hak istri sama dangan hak suami.

Khulu’ (ganti kerugian). Jika seorang istri merasa di dalam pergaulan dengan suaminya ada hal-hal yang membuatnya menderita, dia pun boleh meminta jalan damai untuk bercerai.

Perempuan berhak atas dirinya. Tentang menentukan siapa yang akan menjadi jodohnya, perempuan berhak atas dirinya.

“Dari Abdullah bin Abbas, berkata rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam., ‘Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, dan perempuan yang masih perawan diminta izin pada dirinya dan izinnya ialah diamnya.” (HR An-Nasaa’i At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Muslim, dan lain-lain)

Dengan mengemukakan ketiga hak ini, syiqaq dengan hakamnya, hak khulu’ (ganti kerugian) penebus talaq, dan hak perempuan atas dirinya ketika dinikahkan, beberapa hak-hak yang nyata telah dikemukakan. Jika terdapat hal yang tidak beres dalam masyarakat Islam yang masih jahil dalam hukum-hukum agama, bukan karena Islam tidak memberi hak pada perempuan, melainkan kejahilan umatlah yang jadi penghalang.

Review: Amalia Rizqi Shofia || Mahasiswa Teknik Sipil 2014 || Medium Leader Divisi Rumah Tangga Departemen Kaderisasi JMMI ITS 1516

Editor: Arning Susilawati