Tabi’in merupakan bentuk jamak dari tabi’i yang berarti pengikut, yaitu mereka yang menjadi pengikut sahabat-sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tabi’in merupakan istilah bagi generasi yang bertemu dengan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam keadaan Muslim, dan meninggal dunia dalam keadaan Muslim juga. Jika para sahabat adalah mata rantai pertama yang menghubungkan kita dengan Nabi, maka tabi’in merupakan mata rantai kedua.

Jika sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang lebih banyak dikenal hanyalah khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), kemudian Aisyah dan Khadijah, lalu mungkin Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar, sebagai yang paling banyak meriwayatkan hadits (radhiallahu anhum), maka bagaimana dengan tokoh tabi’in? Dibuku ini akan dikupas cerita dari beberapa tabi’in.

Barangkali kita masih sering mendengar tentang figur Umar bin Abdul Aziz, yang sering dijadikan contoh sebagai pemimpin yang zuhud, wara’ dan adil. Atau Hasan Al Bashri, yang untaian nasihat emasnya sering dikutip baik dalam khutbah Jum’at maupun dalam tulisan. Atau Abu Hanifah, yang merupakan salah satu dari empat imam madzhab. Tapi apakah kita mengenal Amir bin Abdillah At-Tamimi, Iyas bin Mu’awiyah Al Muzani, Syuraih Al Qadhi, Muhammad bin Sirin, Sa’id bin Musayyab, Salim bin Abdullah bin Umar, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Thawus bin Kaisan, dan sederet tokoh tabi’in lainnya?

Jika memang ingin mengenal dan mempelajari kehidupan tokoh-tokoh tabi’in tersebut, maka buku ini adalah jawabannya. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab “Shuwaru min Hayati at-Tabi’in” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Penulis menuturkan kisah-kisah kehidupan mereka dengan gaya cerita yang menarik, yang diambil dari riwayat-riwayat yang valid. Tentunya tak lepas juga dari kemampuan penerjemahnya yang tetap mampu menyajikan kisah-kisah ini dalam bahasa yang luwes dan mengalir.
Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari kehidupan mereka.

Sebagai contoh adalah kisah tentang Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang merupakan cicit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau diberi julukan Zainul Abidin (hiasan para ahli ibadah) karena ketakwaan dan ibadahnya. Pada suatu hari Thawus bin Kaisan pernah melihat Ali bin Husain berdiri di bawah bayang-bayang Ka’bah, gelagapan seperti orang tenggelam. Menangis seperti ratapan seorang penderita sakit dan berdoa terus-menerus seperti orang yang sedang terdesak kebutuhan yang sangat. Setelah Ali bin Husain selesai berdoa, Thawus bin Kaisan mendekat dan berkata,

Thawus: “Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut.”

Zainul Abidin: “Apakah itu wahai Thawus?”

Thawus: “Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah. Kedua, Anda akan mendapatkan syafaat dari kakek Anda dan ketiga, rahmat Allah bagi Anda.”

Zainul Abidin: “Wahai Thawus, garis keturunanku dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam tidak menjamin keamananku setelah kudengar firman Allah, ‘…kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka hari itu…’ (Al-Qur’an Surah  Al-Kahfi ayat 99). Adapun tentang syafaat kakekku, Allah telah menurunkan firman-Nya, ‘Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.’ (Al-Qur’an Surah  Al-Anbiya’ ayat 28). Sedangkan mengenai rahmat Allah, lihatlah firman Nya, ‘Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.’ (Al-Qur’an Surah  Al-A’raf ayat 56).’”

Beliau juga dikenal karena kebijakan, kedermawanan, sifat sabar dan kelapangan dadanya. Diantara contohnya adalah riwayat dari Hasan bin Hasan bin Ali:

Pernah terjadi perselisihan antara Aku dengan putra pamanku, Zainul Abidin. Kudatangi dia tatkala berada di masjid bersama sahabat-sahabatnya. Aku memakinya habis-habisan, tapi dia hanya diam membisu sampai aku pulang. Malam harinya ada orang mengetuk pintu rumahku. Aku membukanya untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata Zainul Abidin. Tak Aku sangsikan lagi, dia pasti akan membalas perlakuanku tadi siang. Namun ternyata dia hanya bicara: “Wahai saudaraku, bila apa yang Engkau katakan tadi benar, semoga Allah mengampuniku. Dan jika yang Engkau katakan tidak benar, semoga Dia mengampunimu…” Kemudian beliau berlalu setelah mengucapkan salam.

Merasa bersalah, aku mengejarnya dan berkata: “Sungguh, aku tak akan mengulangi kata-kata yang tidak Anda sukai.” Beliau berkata: “Saya telah memaafkan Anda.”

Kisah tadi hanyalah sekelumit dari kisah tentang Ali bin Husain, belum lagi kisah-kisah tabi’in lainnya. Sejatinya tidaklah berlebihan jika pada buku terjemahan ini diberi  tambahan judul “Kisah-kisah Paling Menakjubkan Yang Belum Tertandingi Hingga Hari Ini”, karena pada faktanya memang banyak cerita-cerita menakjubkan yang jarang kita jumpai dalam kehidupan nyata saat ini.

Seperti misalnya kisah tentang kezuhudan Salim bin Abdullah bin Umar bin Al-Khattab berikut ini:

Pada suatu waktu, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkunjung ke Makkah untuk berhaji. Pada saat melakukan thawaf, beliau melihat Salim bin Abdullah bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu’. Lidahnya bergerak membaca Al Qur’an dengan tartil dan khusyuk. Sementara air matanya meleleh di kedua pipinya. Seakan ada lautan air mata di balik kedua matanya.

Usai thawaf dan shalat dua raka’at, khalifah berusaha menghampiri Salim. Orang-orang memberinya tempat, sehingga dia bisa duduk bersimpuh hingga menyentuh kaki Salim. Namun Salim tidak menghiraukannya karena asyik dengan bacaan dan dzikirnya.

Diam-diam khalifah memperhatikan Salim sambil menunggu beliau berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya. Ketika ada peluang, khalifah segera menyapa,

Khalifah: “Assalaamualaikum wa rahmatullah wahai Abu Umar.”

Salim: “Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Khalifah: “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya.”

Salim tidak mengatakan apa-apa sehingga Khalifah menyangka dia tidak mendengar kata-katanya. Sambil merapat, khalifah mengulangi permintaannya, “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya bisa memenuhinya.”

Salim: “Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”

Khalifah terdiam malu, tapi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Ketika shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang memburunya untuk bertanya tentang hadits ini dan itu, dan ada yang meminta fatwa tentang urusan agama, dan ada pula yang meminta untuk didoakan. Khalifah Sulaiman termasuk di antara kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang menepi untuk memberinya jalan. Khalifah akhirnya bisa mendekati Salim, lalu berkata:

Khalifah: “Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan Anda agar saya dapat membantu Anda.”

Salim: “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?”

Khalifah:”Tentunya dari kebutuhan dunia.”

Salim: “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada Yang Memiliki-nya, bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”

Khalifah malu mendengar kata-kata Salim. Dia berlalu sambil bergumam: “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai keturunan Al-Khattab, alangkah kayanya kalian dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga.”
Demikianlah kisah tentang Salim bin Abdullah, yang mewarisi kezuhudan dari ayah dan kakeknya.

Buku yang diterbitkan oleh At-Tibyan ini memuat kisah 28 tokoh tabi’in terkemuka. Kisah-kisahnya mampu melembutkan hati, menjadi penyejuk, bak oase di tengah kegersangan hati yang sering lalai.

Ada satu hal menarik yang disampaikan oleh penerjemah pada kata pengantarnya terhadap buku ini. Menurutnya, sepantasnya kita bersyukur, bergembira dengan kegembiraan yang pernah dirasakan oleh Anas bin Malik tatkala mendengar sabda Nabi:

“Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya.”
Beliau mengemukakan alasan kegembiraannya dengan ungkapan, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap bisa bersama mereka dengan modal kecintaanku atas mereka, meski belum mampu beramal seperti yang telah mereka amalkan.”

Dengan kecintaan kita kepada tokoh-tokoh tiga generasi utama yang telah mendapatkan justifikasi dari Nabi sebagai sebaik-baik generasi, kita berharap akan dibangkitkan bersama mereka, meski jauh bedanya antara amal kita dengan mereka.

Namun, mustahil timbul rasa cinta tanpa mengenal yang dicintainya. Mengenal kekasih adalah jembatan pertama menuju cinta. Oleh karena itulah para ulama salaf demikian antusias untuk membaca kisah-kisah generasi yang utama.

Seperti misalnya Abdullah bin Mubarak yang segera beranjak pulang selepas shalat di masjid, ketika teman-temannya mengajak beliau berbincang-bincang di depan masjid beliau berkata, “Apa yang bisa aku perbuat bersama kalian? Kalian duduk-duduk untuk menggunjing manusia, sedangkan aku hendak bergabung dengan majelisnya para sahabat dan tabi’in.” Teman-temannya bertanya heran, “Bagaimana Anda bergabung dengan mereka padahal mereka telah tiada?” Beliau menjawab: “Dengan membaca buku-buku tentang mereka.”

Dengan berbagai alasan tersebut, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca dan menjadi salah satu koleksi di perpustakaan pribadi Anda, karena Insya Allah, Anda tidak akan pernah rugi dengan membaca dan memilikinya. Selamat berbagung dengan majelisnya tabi’in.

*Buku: Tabi’in Karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

Oleh: Nurul Latifa || Mahasiswa D3 Teknik Kimia || Staff Badan Khusus Kemuslimahan JMMI ITS 1516

Editor: Arning Susilawati