Berbagai keistimewaan dan keutamaan yang dilimpahkan Allah kepada Aisyah binti Abu Bakar bukan berarti menjadikan hidupnya berjalan mulus tanpa cobaan. Tragedi fitnah (al-ifk) adalah musibah terbesar yang menimpa Aisyah Radhiallahu Anha.

Aisyah berkata dalam riwayat Al-Bukhari, “Jika Rasulullah hendak keluar, beliau mengundi istri-istrinya. Siapa saja yang keluar namanya, maka Rasulullah akan keluar bersamanya. Rasulullah mengundi kita dalam sebuah peperangan, yang keluar adalah namaku. Kami menuju Madinah dalam dua rombongan. Rasulullah mengizinkanku malam itu untuk pulang. Aku berjalan hingga mendekati tentara. Ketika aku menyelesaikan urusanku, aku kembali ke tempatku. Namun, tiba-tiba kalungku dari tulang hilang. Aku pun mencari-cari kalungku dan berusaha menemukannya.”

“Kemudian rombongan meninggalkanku. Mereka membawa tendaku dan menyimpannya ke atas Onta yang tadi aku tunggangi. Ketika itu mereka menyangka bahwa aku ada di dalamnya. Akhirnya aku mendapatkan kalungku ketika tentara pergi. Aku mendatangi tempat mereka tapi tak ada seorang pun disana. Aku pun pergi ke tempatku semula. Ketika aku sedang duduk di tempatku, aku mengantuk sehingga tertidur.”

“Ketika itu Shafyan bin Al Mut’athalal As-Sulami tertinggal barisan tentara. Dia melihat sesesorang sedang tidur. Dia mendatangiku, ketika melihatku dia mengenaliku. Sebelumnya dia pernah melihatku (tidak memakai hijab) sebelum turun ayat hijab. Dia kemudian menderumkan Ontanya dan menyodorkan kedua tangannya (sebagai pijakan) hingga aku menunggangi ontanya. Dia pun pergi bersamaku sambil menuntun Ontanya. Akhirnya kami menyusul tentara ketika mereka istirahat pada sore hari.”

Setelah kejadian itu, Aisyah sakit selama satu bulan. Sedangkan orang-orang pada saat itu membicarakannya akibat fitnah yang disebarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Saat itu, Aisyah tidak merasakan kelembutan Rasulullah yang biasa diberikan ketika Aisyah sakit. Rasulullah hanya menjenguk, mengucapkan salam, menanyakan kabar, kemudian pergi. Suatu ketika Aisyah pergi bersama Ummu Misthah untuk buang hajat. Ketika itu, Ummu Misthah menceritakan kepada Aisyah mengenai fitnah yang menimpa dirinya. Aisyah menangis sepanjang malam, bahkan ketika pagi telah menjelang Aisyah masih tak mampu untuk membendung air matanya.

Satu bulan sejak tersebarnya fitnah tersebut, tidak ada wahyu dari Allah yang turun mengenai Aisyah. Rasulullah untuk pertama kalinya duduk bersama Aisyah. Rasulullah berkata, “Jika kamu suci, maka Allah akan munyucikanmu. Jika kamu melakukan dosa, minta ampunlah kepada Allah dan taubatlah kepada-Nya. Karena, jika seorang manusia mengakui dosanya untuk kemudian taubat kepada Allah, Allah pasti mengampuninya.”

Aisyah kembali menangis mendengar perkataan Rasulullah, Abu Bakar dan Ummu Ruman tidak mampu berkata apapun meski mereka meyakini bahwa Aisyah tidak bersalah. Lantas, Aisyah pun berkata, “Jika aku katakan kepada kalian aku tidak bersalah, Allah mengetahui aku tidak bersalah namun kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui kepada kalian sebuah kesalahan, Allah menegtahui aku tidak bersalah, namun kalian mempercayaiku. Demi Allah aku tidak mengetahui sebuah contoh untuk kalian kecuali perkataan ayah Yusuf (QS Yusuf: 18).”

Allah menunjukkan satu bukti lain cinta dan ridho-Nya kepada Aisyah binti Abu Bakar dengan diturunkannya ayat khusus. Ayat tersebut adalah ayat ke 11 dari surah An-Nuur dan sembilan ayat berikutnya yang juga berkaitan dengan Aisyah. Ayat tersebut merupakan pembersihan diri Ummul Mukminin dari tuduhan berbuat keji dan demi menjaga kehormatan Rasul-Nya.

Rasulullah sebelumnya tidak keluar dari rumahnya hingga wahyu tersebut diturunkan. Wajah bahagia dan perasaan lega muncul dalam diri Rasulullah. Kalimat pertama yang diucapkan Rasulullah adalah, “Wahai Aisyah, Allah telah menyucikanmu!”

“… Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan siapa yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. ” (QS An-Nuur: 11)

Berkat ayat itu, hilanglah kesusahan kekasih-Nya, keceriaan dan senyum kembali menghiasi wajah beliau. Lebih dari itu, berkat ayat itu mencair dan hangat kembali hubungan kedua hamba-Nya yang dicintai-Nya itu, serta berpadulah kembali cinta, kasih dan sayang mereka berdua.

Wahai Ummul Mukminin, jika ada seseorang yang mengotori kehormatan dan kedudukanmu yang agung, dia telah melakukan dosa yang sangat besar dan mendapatkan balasan yang buruk. Engkau adalah istri dari kekasih Allah di surga, engkau berhak mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah. Wallahua’lam bisshawab.

Sumber:

Hasan Kinas, Syekh Muhammad Raji. 2009. Istri-istri Para Nabi. Arif Munandar (terj.). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Al-Mustofa, Abdullah. 2015. ‘Aisyah, Wanita Yang Diberkahi dan Al-Ifkul Akbar. Hidayatullah.com

Penulis: Dinda Sarihati Sutejo

Editor: Arning Susilawati