Sering kali kita temui berbagai macam masalah yang terjadi di negeri ini. Mulai dari masalah sosial, pendidikan, moral, dan pada aspek lainnya. Bermacam masalah tersebut mempunyai penyebab yang bermacam-macam pula. Dari bermacam-macam penyebab tersebut terdapat satu masalah pokok yang menjadi penyebab utama timbulnya rantai masalah yang lain. Masalah utama ini adalah hilangnya adab pada manusia. Menurut Prof. Naquib Al-Attas, hilangnya adab ini salah satunya timbul karena terjadi confusion of knowledge (kesalahan ilmu). Jika adab tidak hilang dari manusia, masalah yang terjadi dalam masyarakat tidak akan separah saat ini.

Adab sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Semua aspek dalam kehidupan tidak ada yang lepas dari adab. Semisal ketika Khatib menyampaikan khotbah Salat Jumat. Meskipun menggunakan celana kolor, asal menutupi aurat, khotbahnya akan tetap sah karena sesuai dengan syariat. Namun jika dilihat dari aspek adab, sikap yang demikian merupakan sikap yang keliru besar. Ibarat seorang laki-laki menaiki motor dengan bertelanjang dada di jalan umum namun memakai helm dan motor yang standar. Secara hukum, polisi tidak berhak untuk menilang karena sudah sesuai peraturan. Namun secara adab, tentu sangat keliru.

Adab merupakan suatu tindakan menjalankan yang halal dan haram sesuai dengan tempatnya. Adab sendiri mencakup pengertian yang luas, di dalamnya terdapat akhlak dan karakter. Adab tidak hanya didefinisikan sebagai bersikap sopan atau sesuai norma dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi lebih dari itu. Seorang arsitek mengamalkan adabnya pada rancangan bangunan sehingga bangunan menjadi indah dan teratur. Seorang ahli farmasi mengamalkan adabnya dengan meracik obat yang pas sesuai takaran. Seseorang yang beradab terhadap tubuhnya akan memperhatikan gizi dan kebutuhan tubuh sehingga tubuhnya kuat dan sehat. Itulah adab, sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia.

Begitu besarnya pengaruh adab dalam kehidupan sehari-hari inilah yang mendorong hingga terciptanya sila ke dua Pancasila yang berbunyi ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Bayangkan, betapa tingginya nilai yang dikandung dalam sila ke-dua Pancasila ini. Nilai dari kemanusiaan dilandasi dengan adab, bukan nilai-nilai kemanusiaan dalam ajaran barat. Apabila nilai ini dimaknai dan diajarkan dengan benar, sifat kemanusiaan yang dimiliki rakyat di negeri ini tidak akan pudar seiring zaman.

Kuatnya ideologi liberal dan pengaruh budaya asing menyebabkan nilai yang terkandung dalam sila ke-dua Pancasila ini kurang merasuk ke jiwa rakyat Indonesia. Makna adab yang terkandung dalam Pancasila direduksi pengertiannya. Terminologi adab dimaknai dalam pengertian baru yang justru mempersempit makna yang sebenarnya. Penyempitan makna inilah yang menyebabkan kurangnya pemahaman hingga berpengaruh ke perilaku masyarakat. Untuk itulah diperlukan penjabaran yang tepat mengenai konsep adab dalam dasar negara.

Konsep adab ini apabila diterapkan secara benar dalam bermasyarakat dan bernegara akan menciptakan suasana yang harmonis. Seseorang akan lebih mencintai negaranya karena amanah yang dititipkan oleh Yang Maha Kuasa untuk dikelola dengan baik. Wujud cinta tanah air yang dimiliki akan lebih tinggi karena cintanya ini ditujukan untuk Allah SWT, bukan semata karena negerinya kaya atau alamnya yang indah saja. Dengan adab, masyarakat bisa menjadi seorang muslim dan warga negara yang baik dalam satu waktu sekaligus, tanpa mengurangi salah satu aspek di antara keduanya.

beradab

*Sumber: Bedah buku ‘Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab’ oleh Dr. Adian Husaini di Bina Qalam Indonesia

Oleh: Muhammad Richa Saputra || Divisi Pena, Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor: Arning Susilawati