Ustadz Soeharjoepri saat mengisi materi pertama

Minggu (29/11/2016) telah diadakan sebuah pelatihan Training for Tutor (Train 42) oleh Biro Pengajaran BPU JMMI ITS yang bertempat di SCC ITS lantai 3. Sebagai Badan Semi Otonom dari lembaga dakwah JMMI ITS yang berperan langsung di bidang sosial masyarakat, BPU JMMI ITS mempunyai beberapa daerah binaan di sekitar kampus ITS.

Sampai saat ini daerah yang menjadi objek dakwah dari BPU terbagi  menjadi 4 daerah binaan, yaitu: Gebang, Kejawan Putih Tambak, Keputih Tegal Timur Baru dan Medokan. Pada daerah binaan tersebut tentunya tidak lepas dari seorang pengajar untuk membina adik-adik dalam meningkatkan prestasi akademiknya dan juga penyelipan nilai akidah dan akhlak untuk meningkatkan iman dan taqwah adik-adik binaan di masing- masing daerah binaan.

Biro Pengajaran BPU JMMI ITS melaksanakan pelatihan train 42 ini untuk membantu mahasiswa yang mempunyai minat di bidang sosial masyarakat terutama di bidang pengajaran untuk bisa menjadi seorang pengajar yang ideal dalam membina adik-adik di daerah binaan tersebut. Selain ditujukan untuk pengajar daerah binaan JMMI ITS, pelatihan train 42 ini juga ditujukan kepada kawan-kawan mahasiswa yang menjadi pengajar di daerah binaan ormawa masing-masing.

Kebanyakan dari daerah binaan BPU JMMI ITS atau Ormawa ITS yang lain mempunyai anak didik yang masih SD. Sehingga pada pelatihan ini lebih mengarah ke pembekalan untuk menjadi sosok pengajar yang baik khususnya pengajar anak SD.

Materi pertama pada pelatihan ini yaitu mengenai “Psikologi Anak” yang dibawakan oleh Ustadz Seoharjoepri. Memahami psikologi anak sangat penting dilakukan oleh seorang pengajar. Dengan memahami psikologi pendidikan anak secara baik, pengajar dapat menerapkan metode-metode pendidikan yang sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, hasil dari proses mendidik pun akan optimal.

“Untuk memahami psikologi anak dapat dilakukan dengan belajar mengerti emosi dari masing-masing anak, karena setiap anak tentunya mempunyai tingkat emosi atau kepekaan yang berbeda-beda seiring perkembangan dan pertumbuhannya,” kalimat penutup dari dosen matematika ITS.

Materi kedua tentang “Mengasah Kreativitas Anak” dibawakan oleh ustadz Marzuki Imron, S. T
Materi kedua tentang “Mengasah Kreativitas Anak” dibawakan oleh ustadz Marzuki Imron, S. T

Selanjutnya selain memahami tentang psikologi anak, pelatihan Train 42 juga melatih para pengajar untuk “Mengasah Kreativitas Anak” yang dibawakan oleh Ustadz Marzuki Imron. Dalam melatih kreatifitas anak dapat dilakukan dengan 4 hal diantaranya yang pertama memberikan pertanyaan karena kreatifitas dapat dimunculkan dari proses berpikir. Tidak memberi aturan yang mengikat agar mereka bisa melakukan hal seperti yang mereka inginkan namun masih mempunyai nilai manfaat dan estetika.

“Selanjutya jangan menjadi hakim atau secara langsung menyalahkan mereka jika mereka berbuat kesalahan, dan biarkan mereka berimajinasi secara bebas,” ungkap alumni Teknik Mesin ITS yang akrap disapa Ustadz Naruto saat menutup materi.

Adapun untuk materi terakhir adalah mengenai “Peran Pemuda dalam Sosial Masyarakat di Bidang Pendidikan” yang dibawakan oleh Dimas Nur Apri Yanto. Ia adalah salah satu pengajar muda di suatu gerakan sosial di bidang pendidikan anak-anak yaitu Kelas Matahari.

Dimas Nur Apri Yanto saat menerima cinderamata dari panitia
Dimas Nur Apri Yanto saat menerima cinderamata dari panitia

Generasi pemuda sangatlah berpengaruh bagi perubahan bangsa, salah satunya di bidang pendidikan. Pemuda yang notabene sebagai pelopor harus memberikan kontribusi yang konkret terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Dimas memperjelas bahwa, “Dalam melakukan peran tersebut, banyak cara yang seharusnya ditempuh oleh para generasi muda khususnya kawan-kawan mahasiswa. Salah satunya adalah ikut serta dalam terjun secara langsung dalam bentuk menjadi pengajar di sekolah alternatif ataupun gerakan sosial di bidang pendidikan.”

Disisi yang lain, alumni Universitas Airlangga tersebut menambahkan bahwa kegiatan tersebutlah yang mampu mencerminkan salah satu peran fungsi mahasiswa yaitu agent of change, dengan harapan bahwa mahasiswa dapat menggunakan ilmunya dalam membantu perubahan dan pembangunan indonesia untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Reporter: Ria Dwi Afriana || Editor: Arning Susilawati