Rugi kalau tidak berdakwah! Selain dakwah sudah menjadi kewajiban namun Allah swt. telah menjanjikan kebaikan bagi yang turut di dalamnya. Salah satunya disebutkan dalam hadist tentang keutamaan berdakwah yaitu

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Dakwah berasal dari kata Da’wah (bahasa Arab) yang artinya ajakan dan dapat diartikan secara luas sebagai kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam. Berdasarkan definisi tersebut sesungguhnya banyak hal dimulai dari hal sepele hingga kompleks yang dapat dikategorikan sebagai dakwah.

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Walaupun bukan santri, kyai, sarjana agama, pengurus rohis atau LDK ternyata bisa turut berdakwah. Dalam suatu kajian atau tabligh akbar, siapakah disitu yang berdakwah? Ternyata tidak hanya pembicara atau ustadnya saja, namun mulai dari sie konsumsi, sopir yang menjemput pembicara, kameraman, dan siapapun yang mendukung jalannya acara tersebut dapat dikatakan turut serta berperan dalam dakwah.

Jadi, jangan sepele-kan orang-orang yang di belakang layar dan jangan pula ragu untuk turut andil sesuai kemampuan bahkan hobi kita. Misalnya bagi yang hobi berkendara maka bisa menjadi sopir yang handal dan gesit menjemput pembicara, bagi yang hobi wisata kuliner bisa menjadi sie konsumsi untuk memberikan hidangan terbaik kepada peserta agar peserta betah dan tertarik mengikuti kajian selanjutnya, dan masih banyak peran lain untuk berkontribusi dalam dakwah ini.

Tidak dalam suatu kajian pun dapat dilakukan dakwah. Orang yang doyan “nyangkruk” di warkop atau bikers yang senang touring pun bisa. Sembari “nyangkruk” ya ngobrol lah bersama yang lain tentang masalah di masyarakat dan munculkan lah solusinya berdasarkan ajaran Islam. Sambil touring dan saat adzan tiba ajak bikers lain mampirlah di masjid dan sholat berjamaah, syukur istirahat sambil tilawah atau murojaah.

Pada jaman yang moderen ini sarana juga sangat mendukung untuk berdakwah. Bagi yang hobi update status di media sosial, ya tulislah kalimat-kalimat hikmah yang berisi ajakan kebaikan atau yang mudah lagi hanya sekedar me-repost postingan dari akun dakwah yang ada.

Persiapan Penting Sebelum Berdakwah

Jika dakwah diartikan menyeru dan mengajak maka sudah menjadi kewajiban bahan seruan dan ajakan ini harus dipahami dan telah dilakukan oleh pendakwah (da’i) tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (QS. Ash-Shaff 61 : 2)

Bukan berarti harus memahami total Al Qur’an dan Al Hadist, menjadi santri, kyai, kemudian baru berdakwah, namun sambil mempelajari, apa yang telah dipahami lakukan, sampaikan, dan ajak orang lain walaupun satu ayat.

Selain itu, sebelum berdakwah pun harus memahami objek dakwah demi kenyamanan objek dakwah menerima apa yang kita sampaikan. Dalam hal ini pintar-pintarnya kita dalam memainkan “seni” dakwah ini. Apabila sudah berpengalaman terhadap objek yang beragam tentunya hal ini akan mudah.

Bila kawan yang biasa “nyagkruk” itu tidak memahami tentang kata-kata “akhi, ukhti, ikhwan, akhwat” maka gunakanlah bahasa mereka namun tetap dengan batas syariat Islam.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ibrahim 14 : 4)   

Dakwah Harus Menyatu dalam Jiwa

Raihlah jiwa dakwah dengan ilmu dan peka. Karena bila dakwah sudah menjadi jiwa, dimanapun dan kapanpun pasti radarnya selalu mencari objek untuk melampiaskannya. Jiwa ini akan selalu menganalisa, mencari ilmunya, dan memecahkan masalahnya sekalipun dimulai dengan cara paling sederhana. Wallahua’lam Bisshowab.

Penulis : Asa Taufiqurrahman | Middle FSLDK Komisi A JMMI ITS
Editor : Muhammad Aulia / Ce2