Pernahkah kita bertanya, siapakah manusia paling sempurna di dunia? Atau pernahkah kita mencari sosok yang paling ideal untuk menjadi contoh kehidupan kita? Setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda, namun tidak bagi setiap muslim! Ya, bagi seorang muslim. Jawaban atas pertanyaan itu hanya satu! Bukan Steve jobs, bukan pula Obama, bukan pula Bob Sadino, tapi Rasulullah Muhammad SAW!
Maulid Nabi Muhammad SAW - 12 Rabiul Awal 1437 H
Maulid Nabi Muhammad SAW – 12 Rabiul Awal 1437 H

Hari ini, adalah 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. 1489 tahun yang lalu, manusia paling agung di dunia itu dilahirkan, membawa risalah Yang Maha Agung, Allah Jalla Jalaluh. Dialah manusia yang disebutkan dalam kitab Taurat dan Injil. Dialah manusia yang paling ditunggu kaum Yahudi. Dialah manusia yang ketika dilahirkan, padamlah api-api Persia.

Dia adalah Muhammad, yang tidak sempurna syahadat kita tanpa bersaksi dan mengimaninya. Dialah manusia, yang karena keteguhannya menyebarkan risalah, kita dapat beriman saat ini. Bahkan, sesungguhnya dialah sang pembawa kabar gembira dan peringatan di akhir zaman, tiada rasul dan nabi setelahnya. Shalallahu alaihi Wassalam.

Betapa agungnya manusia yang diutus oleh Allah, Rabb semesta alam. Sosok yang menjadi realitas wahyu, tanpanya umat ini akan tersesat karena tidak memiliki teladan. Syariat dakwah sempurna karena tuntunan dan contoh beliau. Syariat rumah tangga hingga negara pulalah sempurna karena teladan beliau. Tidak mampu dijabarkan biografi beliau kecuali berjilid-jilid hingga setiap sendi kehidupan beliau hadir sebagai contohnya. Beliau adalah satu-satunya manusia yang dibutuhkan manusia era ini untuk kembali meraih kejayaan dalam kehidupan.

Bukankah telah kita tau, bahwa hanya dalam waktu 23 tahun beliau mampu membina dan mencetak para pemimpin peradaban sekaliber Abu Bakar As-Shidiq (penakluk Persia), Umar ibnu Khattab (penakluk Romawi), Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib (yang keduanya adalah sahabat mulia). Lalu masih selalu ingat dalam kepala kita, ketika beliau mengubah wajah Madinah yang sebelumnya merupakan kota kecil dan tertinggal, sering perang antarsuku menjadi kota pusat peradaban. Hingga kota itu menjadi ibu kota muslimin hanya dalam waktu hanya 5 tahun bahkan pemerintah dunia tidak ada yang bisa menandingi. Tentu, kejayaan dan kebesaran Muhammad Rasulullah adalah nyata dan pernah terjadi. Tidak pernah ada bantahan dalam keagungannya sebagai pemimpin peradaban.

Beliau yang terlahir yatim, dibesarkan melalui pengembalaan kambing hingga berdagang bersama Khadijah. Sangat memahami permasalahan ekonomi hingga bagaimana cara memberdayakan masyarakat. Dialah seorang yang dikenal kejujurannya, dalam berdagang sekalipun. Kafilah Muhammad adalah kafilah yang selalu ditunggu pelanggan setianya, tidak ada pedagang serupa dengannya. Bukankah Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan adalah juga sosok hartawan ketika itu? Namun di tangan beliau, harta akan mampu menjadi berkah.

Kami tidak berbicara tentang orang-orang kafir yang sangat senang mencaci maki Rasulullah, menghinanya dengan gambar bahkan dengan kata-kata jorok. Karena sungguh, caci maki itu juga telah ada ketika Rasul masih hidup. Apa yang beliau lakukan ketika mengahadapi mereka? Bahkan malaikatpun menawarkan diri untuk menimpakan gunung kepada pencaci itu. Namun, masyaAllah, Rasulullah bersabda, “Tidak! Sesungguhnya, mereka berlaku demikian karena mereka belum mengetahui kebenaran.” Lihatlah! Betapa mulia pribadi beliau.

Tidak hanya itu, sejarah juga telah mencatat betapa sempurnanya pribadi Muhammad ketika peristiwa fathu Makkah. Dimana delapan tahun sebelumnya, penduduk Mekkah sering menyakiti Muhammad serta pengikutnya, memboikot perdagangan dengannya, mengusir hingga memeranginya. Akan tetapi, kala itu fathu Makkah, beliau mengatakan di depan Ka’bah, “Idhabu wa antum tulaqqo” yang artinya pergilah dan kalian semua bebas. Tidakkah rasul memiliki hak untuk membalas perbuatan mereka? Sungguh maha mulia perangai beliau. Setiap penaklukan yang dilakukan oleh kafir yang kalah selalu menjadi budak dan sengasara, tapi tidak terjadi pada peradaban Islam.

Lalu, belum cukup buktikah kita hingga kita masih enggan menjadikan beliau sebagai sosok ideal teladan kita? Ataukah kita lebih memilih orang lain yang bahkan tidak akan menjadikan kita selamat dihari kelak? Celakalah kita, celaka! Mengapa kita berpaling dari mengikuti Muhammad? Manusia yang dipilihkan oleh pencipta kita untuk kita panuti. Bahkan kita sedikit tertawa ketika sahabat kita mengatakan, “Idolaku adalah Muhammad.”

Sehingga cukup aneh bagi kami, ketika banyaknya manusia yang berlomba mengambil teladan selain beliau padahal dia telah bersyahadat. Dalam tataran konsep kehidupan dan berakhlak pun, sering kita temui orang–orang yang merasa bangga bisa meniru konsep diluar Islam. Meniru pemikiran-pemikiran yang kontra Islam, meniru konsep yang sejatinya Islam lebih baik darinya. Kita telah berperilaku seakan-akan tidak pernah datang seorang Rasul pada kita, astaghfirullah.

Kawan, bukalah mata. 14 abad silam, kejayaan agama kita telah dimulai. Kini, agama ini, dunia ini, kehidupan ini dititipkan pada kita semua. Apakah beliau, Muhammad, akan rela melihat kita berjalan berdua dengan yang bukan muhrim kita? Apakah beliau akan senang dengan keseharian kita yang menomorduakan Islam?

Kita hidup dalam kecintaan dan kerinduannya. Kitalah umat yang dengan kelembutannya, beliau bersabda, “Yang paling menakjubkan imannya,” ujar Rasul, “Adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku, tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.”

Kita juga umat yang dikhawatirkan oleh beiau ketika akhir hayatnya, seraya berucap “Ummati, ummati, ummati”. Celakalah kita, yang tidak pernah memikirkan beliau, bahkan menangisi beliaupun tidak. Betapa hina diri kita, ketika sebatang kurma bekas mimbar beliau, menjerit menangis karena rindu bertemu dengan beliau. Cukuplah renungan kelahiran sekaligus hari wafat beliau sebagai pengingat dan cambuk bagi kita agar segera berhijrah, segera memantaskan diri menjadi umatnya. Jadikan dia sebagai idola! Semoga sholawat selalu terimpah kepadanya.

Penulis: Ferdion Firdaus || Mahasiswa Teknik Geofisika ITS 2014 || Staff Departemen Islamic Press JMMI ITS 1516

Editor: Arning Susilawati