Salah satu dari lima panca indera yang sangat istimewa adalah mata. Dari mata inilah setiap diri manusia bisa menjadi saksi betapa indah dan luar biasa ciptaan-Nya. Dari benda optik ini pula setiap diri manusia bisa mengambil pelajaran dari alam sekitarnya. Dan dari indera yang menunjukkan keindahan diri ini, manusia bisa membaca firman-Nya.

Ketika kita melihat, banyak proses yang dilalui dalam tubuh kita. Seberkas cahaya akan dipantulkan oleh suatu benda, sehingga cahaya yang mengenai benda tersebut akan masuk melalui kornea. Kemudian difokuskan oleh lensa, diatur intensitasnya oleh pupil, hingga masuk ke dalam retina. Foton atau berkas cahaya yang mengenai retina ini akan mengenai zat di dalam retina tersebut hingga menghasilkan ion.

Ion ini akan menimbulkan energi listrik yang kemudian dikirim ke otak hingga akhirnya manusia dikatakan bisa melihat. Proses yang luar biasa hebat dan sangat cepat ini tidak akan mampu ditandingi oleh kamera atau teknologi lain buatan manusia yang paling canggih sekalipun. Sungguh luar biasa ciptaan Allah SWT.

Namun hal berbeda terjadi pada orang yang mengalami tuna netra. Cahaya tampak seperti apapun tidak akan mampu diproses oleh retina dan dikirimkan ke otak. Mereka tidak mampu untuk mengetahui karakteristik cahaya yang masuk ke dalam matanya sehingga dikatakan tidak bisa melihat. Mereka tidak mengetahui secara visual betapa indahnya ciptaan Allah SWT di dunia ini. Mereka tidak mengetahui bagaimana suatu cahaya menerangi wajah-wajah yang penuh senyum dan keceriaan pada orang-orang di sekitar mereka. Mereka hanya bisa percaya di dalam hati bahwa itu semua benar adanya.

Meskipun hidup tanpa cahaya di dunia, mereka tak pernah putus asa. Karena mereka tahu dan menyadari bahwa Allah melebihkan kemampuan yang lain disaat satu kemampuan lainnya dikurangkan atau dihilangkan. Dengan semangat yang tinggi digunakanlah indera lain yang diberikan Allah kepadanya. Cukuplah dengan telinga, hidung, kulit dan lidah mereka bisa berinteraksi dengan dunia. Mereka yakin bahwa Allah tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Semua manusia yang Allah ciptakan memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing. Prinsip itulah yang selalu ada di dalam diri mereka. Sungguh teladan yang luar biasa.

Terlebih di kala melantunkan firman-Nya. Sungguh kita dibuat haru oleh kegigihan mereka dalam setiap ayat yang terucap. Bergetar hati ini ketika Al-Quran braille mereka raba. Perlahan Al-Quran di tangannya dibuka, lembar demi lembar diraba untuk mencari lanjutan bacaannya. Hingga satu ayat terucap dari bibir ikhlasnya. Status tuna netra bukan alasan untuk tidak membaca dan merenungi firman-Nya. Tidak heran di antaranya ada seseorang yang hafal 30 juz Al-Quran (saat acara tabligh akbar bersama Syekh Ali Jaber, masjid ITS, 6 Desember 2015).

Sikap dalam mensyukuri nikmat Allah pun sangat tinggi. Terlihat wajah yang gembira dan bahagia tatkala Al-Quran braille terbaru berada di genggamannya. Syukur tak terkira karena harapan mereka untuk terus mendekatkan diri dengan ayat-Nya menjadi nyata. Semangatnya menjadi semakin luar biasa tatkala mendapat jalan tambahan untuk terus membaca Al-Quran. Mungkin bukan wujud bendanya yang membuat sang tuna netra bahagia, namun keikhlasan orang-orang di sekelilingnyalah yang membuat mereka merasa tidak sendiri.

Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang dianugerahi penglihatan yang masih sempurna, meskipun beberapa diantara kita memakai berbagai macam bentuk kacamata, ucapan syukur harus selalu kita haturkan kepada Allah SWT. Masih ada banyak orang yang mungkin nasibnya tidak lebih baik dari kita. Rasa mengeluh terhadap apa yang diberikan-Nya hanya akan menambah beban dalam diri sendiri.

Sebagai makhluk yang masih diberi kemampuan untuk melihat secara visual, alangkah baiknya digunakan semaksimal mungkin. Tentu sewajarnya kita tidak meninggalkan bacaan Al-Quran dalam keseharian, bahkan seharusnya kita membaca ayat-Nya lebih banyak dibanding dengan saudara kita yang tuna netra. Seperti nasihat dari Syekh Ali Jaber:

“Orang yang tuna netra ketika ditanya Allah kelak mengapa tidak membaca Al-Quran, mereka masih punya alasan karena tidak bisa melihat. Lalu, apa alasan kita?”

Penulis: Muhammad Richa Saputra || Divisi Pena, Departemen Islamic Press JMMI AKSI 1516

Editor: Hafshah Mahfuzhoh