“…Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu,” (QS. Al-Hadiid :20).

Kehidupan duniawi ibarat samudera yang luas, sedang hati dan diri kita adalah kapal-kapalnya. Kapal diciptakan untuk mengarungi samudera demi mencapai satu tujuan. Dan samudera diciptakan sebagai sarana agar kapal bisa mencapai tujuannya.

Lantas, bagaimana bila kita menjadikan samudera sebagai tujuan akhir? Pada akhirnya kita akan tenggelam.

Sama seperti samudera, dunia ini diciptakan Allah sebagai sarana untuk kita mencapai tujuan yang mulia; surga. Surga adalah tempat kembali kita seharusnya. Tapi, kebanyakan kita memilih menenggelamkan diri dalam samudera, menenggelamkan diri dalam dunia, hingga lupa pada tujuan yang sesungguhnya.

Ketika ada lubang kecil di badan kapal, pelan-pelan air mulai masuk ke dalam kapal. Sedikit demi sedikit kapalpun akan tenggelam. Sama seperti hati kita, jika ada celah sedikit yang sekiranya bisa dimasuki oleh dunia, maka pelan-pelan kita juga akan tenggelam. Kita tidak akan sadar ketika dunia mulai membuai kita, menyilaukan mata dengan gemerlapnya hingga akhirnya kita tenggelam ke dalamnya.

Lalu bagaimana menutup celah pada hati kita? Ingatkah apa yang dikatakan Rasulullah tentang dunia? Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi,

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia ini? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengembara yang berhenti sejenak di bawah pohon rindang, setelah beristirahat lalu melanjutkan perjalanan dan meninggalkan pohon tersebut.”

Rasulullah mengajarkan kita untuk zuhud terhadap dunia, tapi bukan berarti kita harus menarik diri dan tidak berinteraksi dengan dunia. Seperti perumpamaan di atas, dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan, maka kita berhak mengendalikan dunia, bukan malah sebaliknya.

Tentang zuhud, Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Zuhud bukan berarti kamu tidak boleh memiliki sesuatu, melainkan tidak ada sesuatu pun yang boleh memilikimu.”

Semoga tulisan di atas mampu menjadi refleksi bagi diri kita untuk kembali memperbaiki celah-celah di hati kita. Semoga pula mampu membenahi pemahaman kita tentang apa artinya berada dalam dunia tanpa harus menjadi bagian darinya.

Penulis: Deby Theresia || Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor: Hafshah Mahfuzhoh