Sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/55823af924a9d59f3b8b4567.png?t=o&v=760

Apa kabar iman kita hari ini saudaraku? Apa semakin meningkat? Atau semakin menurun? semoga kita selalu berada dalam naungan Allah SWT.

Siapa yang tidak pernah mendengar kata iman? kata “iman” mudah sekali terucap, sama mudahnya saat lidah mengatakan kalimat “Islam”, namun betapa sulitnya menancapkan “iman” tersebut dalam hati manusia.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka), Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ’Kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’.” (QS. Al-Hujurat : 14)

Kebanyakan ungkapan lidah tidak sesuai dengan keyakinan hati. Begitu juga dengan beribu ungkapan lisan yang tidak sesuai dengan amal perbuatan. Mukmin yang benar adalah mukmin yang sesuai antara perkataan dan pebuatannya. Perkataannya seiring dengan apa yang ada di dalam hatinya. Sedangkan orang munafik, secara kasat mata tampak baik, namun hatinya keras bagai batu, atau bahkan lebih keras lagi.

Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati. Mengetahui mata yang tidak jujur dan segala yang tersembunyi dalam dada. Mengetahui yang munafik dari yang mukmin, serta mengetahui yang dusta dari yang jujur. Mereka diberi ujian, akan tetapi sebagian besar dari mereka gagal dalam ujian tersebut. Allah menjadikan ujian sebagai standar bagi semua manusia tanpa terkecuali, semenjak diciptaknnya Adam hingga hari kiamat kelak. Allah berfirman dalam kitab-Nya :

“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan :’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS A-Ankabut : 1-3)

Melalui ujian, Allah ingin membersihkan barisan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik, sebagai rahmat dari Allah bagi orang-orang mukmin. Karena bercampurnya orang mukmin dengan orang munafik akan melemahkan barisan, menyebabkan kegoncangan, dan mengakibatkan kekalahan serta kehancuran. Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan dan seeorang mukmin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya.

Inilah ujian yang sesungguhnya. Ujian yang sulit, namun bukan satu hal yang mustahil. Nilai tertinggi dalam ujian ini bagi seorang laki-laki adalah shalat subuh berjamaah rutin di masjid. Sedangkan bagi perempuan, shalat subuh tepat pada waktunya di rumah. Manusia dianggap gagal dalam ujian ini apabila mereka terlambat melaksanakan shalat, sesuai yang telah ditetapkan Allah swt.

Rasulullah telah membuat klasifikasi yang beliau jadikan tolak ukur untuk membedakan antara orang mukmin dan munafik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatanginya dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksanakan shalat, lalu shalat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat bersama orang-oarang. Kemudian beberapa laki-laki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, sehingga aku bakar rumah mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa besar permasalahan dan kejahatan dalam persoalan ini., sampai Rasulullah yang dikenal dengan segenap kasih sayanag dan lembut terhadap umatnya hendak membakar rumah-rumah mereka. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah ini sebenarnya untuk menyelamatkan ummatnya dari api akhirat, dengan menakut-nakuti mereka dengan api dunia. Meski antara api dunia dan akhirat sungguh begitu jauh perbedaannya.

Kalau seseorang meninggalkan shalat ini dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. Barangsiapa ada pada dirinya sifat kemunafikan maka hendaklah ia segera bermuhasabah (introspeksi diri). Sungguh dikhawatirkan su’ul khatimah (akhir hayat yang buruk) akan menimpanya. Oleh sebab itu, mari kita memohon kepada Allah agar mengaruniai kita dan segenap kaum muslimin kesehatan, keselamatan, dan husnul khatimah (kesudahan hidup yang baik).

 

Penulis: Desy Puspitasari || Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor: Muhammad Richa