Judul Buku: Jifara, Sniper Wanita di Perang Suriah || Penulis: R. Armando || Penerbit: Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup) || Cetakan: Pertama || Tahun Terbit: 2013
Armando, R. 2013. Jifara, Sniper Wanita di Perang Suriah Cetakan Pertama. Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup)

Srikandi-srikandi Islam akan selalu ada di setiap masa. Tak terbatas tempat, tak terbatas waktu. Kepahlawanan yang ditorehkan para pejuang dari kaum hawa ini selalu hadir menghiasi lembar sejarah manusia.

Tak ada yang tahu identitas detail tentang wanita ini. Dengan sebuah senapan laras panjang tersandar di bahunya, ia mulai berbaur dengan Mujahidin yang pada hari itu kedatangan tamu, wartawan dari Telegraph, surat kabar Inggris.

Memang, aneh rasanya jika mengungkapkan identitas diri dalam situasi peperangan seperti itu. Batu, dinding, tembok, seakan bisa mendengar dan memberi kabar pengkhianatan. Dalam peperangan ini, nama dan identitas asli hanya bisa dikonsumsi oleh mereka yang bisa dipercaya. Tidak kepada orang yang tidak dikenal, apalagi kepada warga asing.

Di zona Perang Suriah, zona perang saudara yang berdarah-darah, kerahasiaan identitas adalah hal yang utama. Inilah perang saudara, perang antara pemerintah rezim Bashar Assad beserta pendukungnya melawan rakyat oposisi yang menentangnya. Dulu kawan, saat ini bisa menjadi lawan. Begitu pun sebaliknya.

Namun yang pasti, teman-teman seperjuangannya dengan senang hati memanggil si wanita ini dengan nama ‘Jifara’.

Jifara Guevara. Jifara merupakan julukan yang diberikan kepada wanita hebat ini oleh atasannya. ‘Jifara’ adalah dialek arab dari nama ‘Guevara’. Bisa jadi, nama ini diambil dari nama seorang pemberontak sosialis yang berani melawan rezim pemerintahnya yang didukung oleh kekuatan blok kapitalis, ‘Che Guevara’.

Sebagaimana tugas yang diembannya, kerahasiaan identitas Jifara benar-benar sangat dijaga. Maklum, keberadaan para sniper dalam setiap medan pertempuran memang tersembunyi. Perannya yang seperti hantu mampu membuat ciut nyali musuh. Tak heran jika keberadaan sniper menjadi ancaman yang harus diburu.

Dalam memburu sniper yang selalu tersembunyi digunakan cara yang bisa memancing kemunculan ‘hantu’ mematikan ini. Salah satunya dengan menyandera keluarga untuk memancingnya keluar dan menyerahkan diri.

Cara lain dengan menghabisi keluarga atau orang dekatnya agar emosi “sang buruan” tidak stabil dan melakukan kesalahan. Akibat dari kesalahan itulah yang membuat keberadaannya bisa diketahui. Inilah yang menyebabkan identitas seorang sniper harus ditutupi.

Keberadaan seorang sniper sangat berguna di medan tempur, begitu pula dalam propaganda. Oleh sebab itu, selama peperangan belum berakhir maka identitas sniper akan terus disembunyikan.

Di sisi lain, informasi terbatas tentang keberadaan sniper juga dibutuhkan dalam propaganda, salah satunya untuk menimbulkan rasa takut pada barisan pasukan musuh. Jika propaganda ini berhasil, musuh akan batal melakukan serangan. Begitu juga dengan Jifara, sang sniper cantik dari Aleppo ini.

Awalnya tak ada yang mengira keberadaan Jifara, jika saja Telegraph tidak mempublikasikan hasil pertemuan dan wawancaranya dengan sang sniper cantik ini. Dunia maya pun menjadi heboh mengomentari sosok ibu muda yang dengan heroiknya berani terjun dalam kancah pertempuran melawan pasukan rezim Bashar Assad.

Jifara. Ia adalah wanita Suriah kelahiran Palestina berumur 36 tahun. Namun, siapa sangka jika wanita cantik ini telah berhasil menumbangkan banyak nyawa pasukan loyalis Assad dengan peluru senapannya. Jifara adalah seorang guru Bahasa Inggris. Namun, perang mengubah sikapnya 180 derajat, meski ia pun mengakui sifat dasar dirinya sebagai seorang wanita yang seringkali menangis jika teringat kedua anaknya yang telah meninggal saat revolusi yaitu dibunuh oleh pasukan Bashar Assad sebelum Jifara menjadi sniper.

Memakai penghitam alis tipis, hijab, dan gelang emas menunjukkan sisi kefeminimannya. Ditambah dengan jaket kamuflase dan sebuah senapan Belgium FN Sniper Rifle, ia berpatroli di tengah puing-puing bangunan dan bangunan kosong.

Dengan sabar ia menunggu dan mengintai mangsa yaitu loyalitas Assad hingga masuk dalam jangkauan tembaknya.

Setelah berlatih dan memahami misi yang diembannya, Jifara pun mulai menggelar aksinya. Sebagai sniper keberadaannya sangat diandalkan oleh pasukan perlawanan lainnya.

Dalam misinya sebagai seorang sniper, Jifara terkadang bergerak sendiri dan terkadang bergabung dengan tim penyerbu lainnya. Tugas utama yang diemban saat mendukung misi penyerbuan yaitu membersihkan lokasi pertempuran dari sniper pihak musuh. Sebagaimana berbahayanya dirinya, seberbahaya itulah posisi sniper di pihak musuh.

Sejauh ini ada dua orang sniper wanita yang berpihak kepada kelompok perlawanan, yaitu Jifara dan Ummu Ja’far.

Di samping kesulitan dalam memahami peran dan tugas serta kemampuan yang harus dimiliki seorang sniper, ternyata untuk menjalankan misi pun menjadi kendala yang berat. Bayangkan, bagaimana seorang wanita yang telah terbiasa dengan kelemah-lembutannya sebagai seorang guru yang mengajar muridnya kini harus membunuh seseorang.

Meskipun begitu, kekejaman pasukan rezim yang telah memporak-porandakan kehidupan masyarakat Suriah dan pembantaian dimana-mana itu ikut menyeret memori Jifara pada dua buah hatinya yang kini telah tiada. Bayangan rumahnya yang meledak dan hancur karena serangan udara pasukan pemerintah, tubuh anaknya yang tertindih di bawah reruntuhan membakar amarahnya.

Berbulan-bulan sudah Jifara bergabung dalam Katiba dan bergerak memberikan pukulan-pukulan mematikan bagi kekuatan militer dan milisi loyalitas Bashar Assad. Selama itu pula suka dan duka dalam perjuangan ia rasakan.

Tak ada yang lebih indah selain berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan hidup yang sama. Saling membantu di kala susah dan berbagi kala gembira. Bahkan di medan tempur yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa, kebersamaan itu ada untuk membuat situasi yang ada menjadi tampak begitu mudah untuk dilalui bersama.

Inilah yang membuat Jifara begitu bersedih saat ada rekan-rekannya yang gugur dalam pertempuran. Wajar bersedih, bukan? Jika selama ini ada orang-orang yang bisa kita andalkan untuk berjuang bersama lalu di suatu saat mereka tak ada lagi ada bersama kita. Adapun tentang kedudukan mereka, jika Allah SWT menilainya sebagai jihad yang ikhlas, pada hakikatnya mereka tetap hidup.

Setiap kali Jifara mendapati kawan seperjuangannya terbunuh, hal itu menjadi motivasi bagi dirinya untuk mencari dan merobohkan pasukan dan milisi Bashar Assad lainnya.

 

Rewrite oleh: Salwa Nabilah || Medium Leader Departemen Jaringan JMMI ITS 1516

Editor: Hafshah Mahfuzhoh, Arning Susilawati