“Dalam sejarah, kuasa wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat. Konon, Napoleon lebih takut pada pena seorang wartawan daripada pasukan sebesar apapun,” (Salim A. Fillah, 2007).

Artinya, yang menguasai wacana pada sebuah negeri adalah pena! Pena dari pemilik media.

Kuasa wacana merupakan sebuah bentuk mengondisian sebuah isu agar tetap menjadi yang ter-hits dan menjadi penting untuk diperhatikan. Banyak kita temui, pemberitaan di berbagai media di Indonesia, baik televisi, online maupun cetak selalu berkaitan atas kepentingan politik dari pemilik media yang bersangkutan. Media yang notabene untuk umum, sedikit banyak masih cenderung untuk memihak dan kepemihakannya cenderung negatif.

Perlu kita ketahui, sebagian besar pucuk pimpinan pemilik media di Indonesia adalah bukan dari kalangan orang muslim. Padahal, ketika muslim menguasai media, bisa dipastikan pemberitaan yang akan disampaikan akan sangat memberikan informasi yang akurat dan membangun. Dengan begitu, syiar Islam dapat dengan mudahnya menghiasi pikiran umat muslim dimana jumlah umat Islam di Indonesia adalah terbanyak ke-2 di dunia.

Mengapa media menjadi penting untuk dimiliki oleh umat Islam? Bukankah akan baik ketika tampuk pimpinan media di Indonesia memiliki aqidah keIslaman yang kuat. Ibadah, keilmuan dan akhlaknya yang terjaga akan menambah nilai positif yang nantinya akan berpengaruh pada kualitas media.

Islam yang memberi peringatan terhadap orang fasik perihal pemberitaan, bahwa:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang seorang yang fasik datang kepadamu membawa sebuah berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.”

Berkaca pada QS. Al-Hujarat ayat ke-6 di atas, menjadi penting bagi kita untuk melakukan sebuah “konfirmasi” untuk memastikan apakah pemberitaan tersebut memang benar adanya. Terlebih ketika yang memberikan informasi adalah dari orang-orang fasik dan mereka yang pemahaman keislamannya masih kurang.

Seperti pernyataan Napoleon yang lebih takut pada pena (media) daripada pasukan sebanyak apapun, adalah media yang nantinya berkuasa dalam menggiring opini-opini publik. Apa jadinya, ketika media selalu menyuguhkan gosip selebritis (apalagi sang selebritis adalah perempuan muslim) dan yang belum menjaga auratnya? Bukankah akan membawa wacana “Tidak menutup aurat tidak apa-apa kok. Artis Indonesia kan gak pake kerudung.”

Disadari atau tidak, wacana tersebut telah berkuasa bagi sebagian perempuan muslim. Tentu akan menjadi berbeda ketika wacana dikuasai oleh orang muslim. Pemberitaannya adalah kondisi terkini keumatan, gosipnya berkaitan dengan “Trik menghafalkan Al-Qur’an bagi anak-anak,” pun dengan kajian-kajian keilmuan yang dapat menambah tsaqofah bagi penontonya, dan menjadi pahala karena diterapkannya ilmu tersebut. Sehingga akhlak menjadi lebih baik.

Karena bermula pada ilmu yang menambah keimanan seseorang sehingga akhlak menjadi bentuk luaran yang dapat dilihat dari seorang muslim.