“Di Bazel saya mendirikan negara Yahudi. Barangkali dalam waktu lima tahun, dalam limapuluh tahun, orang niscaya akan menyaksikannya.”

Ungkapan ambisisus itu terlontar dari Theodore Herzl pada Kongres I Zionis (29-31 Agustus 1897) di Basel (terletak di wilayah Swiss tetapi masih berbatasan dengan Jerman), yang dihadiri oleh 200 sampai 250 pria dan wanita dari 24 negara di dunia. Kongres tersebut melahirkan pribadi-pribadi yang akan memperjuangkan hak-hak kaum Yahudi diseluruh dunia untuk memperjuangkan berdirinya sebuah negara bernama Israel.

Agama Yahudi memerintahkan pengikutnya untuk menguasai bukit “Zion” (kata Ibrani sebagai asal kata “Zionisme”) yang merupakan bangunan Haykal nabi Sulaiman yang terletak di sebalah barat daya Al-Quds (Jerussalem). Bahwa, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun Kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan.’ Dan Al-Masih akan memerintahkan dari atas puncak bukit Zion” adalah penyemangat bagi zionis untuk melakukan digdaya dalam mengusai Al-Quds yang waktu itu masih tergabung dalam wilayah Palestina.

Hasil yang menakjubkan jika menelik pada 108 tahun dari pernyataan Theodore Herzl, dari sebuah gagasan untuk memiliki negara, kini, Israel memiliki wilayah yang lebih luas dari pada Palestina. Padahal, wilayah yang ditempati Israel saat ini adalah wilayah Palestina.

Gencarnya Israel dalam menggaungkan “Negara Israel” pada 14 Mei 1948 yang langsung diakui oleh Amerika Serikat (AS) (peristiwa Nakbah), berakibat pada meluasnya wilayah jajahan Israel yang mencapai 85% dari keseluruhan wilayah Al-Quds. Bahkan, selama beberapa tahun terakhir, penjajah Zionis Israel telah meningkatkan penyerbuan terhadap Masjid Al-Aqsha untuk memaksakan pembagian tempat ibadah, di mana ribuan ekstremis Yahudi telah menyerbu kompleks Al-Aqsha untuk menyatakan niat mereka secara terbuka, menekankan hak orang-orang Yahudi yang mereka klaim di Kota Al-Quds dan membuka jalan dengan membagi Al-Aqsha antara Muslim dan Yahudi karena hal itu telah dilakukan mereka pada Masjid Ibrahimi di Kota Hebron sejak 20 tahun yang lalu.

Masjid Al-Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun pertama kali di bumi dan masjid tersuci ketiga setelah Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid An-Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Al-Aqsha juga merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya datang perintah Allah kepada Rasulullah untuk menghadap kiblat ke Baitullah (Ka’bah) di Masjidil Haram. Masjid Al-Aqsha terletak di Kota Tua Al-Quds, Jantung Palestina.

Kondisi terbaru, puluhan polisi Israel memasuki kawasan masjid setelah solat malam dan mengusir 70 warga Palestina pada hari Sabtu (3/10). Mereka dilaporkan naik ke atap masjid dan menyebabkan kerusakan pada salah satu menara. Sejak September 2015 lalu, Israel telah memperkuat pasukannya di Al-Quds. Setiap hari ratusan personil polisi ditambah, menyusul terjadinya konfrontasi di Masjid Al-Aqsha. Menurut laporan Radio Israel, Inspektur Jenderal Polisi Israel, Bentzi Sao telah memerintahkan untuk perkuat batalyon Al-Quds. Karena itu, ratusan personil polisi ditambah tiap harinya demi menjaga al-Aqsha dari umat Muslim.

Umat Islam pun harus dituntut bersikap proaktif dalam menyelamatkan Masjid Al-Aqsha. Banyak yang tidak mengambil peduli tentang ancaman para ekstrimis Yahudi yang akan menghancurkan Masjid Al-Aqsha, bahkan tidak tahu sama sekali keberadaan dan kondisi Masjid Al-Aqsha saat ini. Setiap Muslimin harus merasakan tanggungjawab untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsha dari upaya pembakaran untuk kedua kalinya, atau dihancurkan dan diganti dengan kuil Yahudi, maka harus ada tindakan nyata yang segera dilakukan.

Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadits).

Penulis: Dinda Sarihati Sutejo dan Arning Susilawati