LGBT untuk saat ini telah menjadi lifestyle yang bernaung dalam lingkaran yang bernama “Hak Asasi Manusia dan Demokrasi.” Faktor inilah yang menjadi pangkal dari persolan LGBT dimana mereka mampu berekspresi termasuk dalam urusan seksual. Sebagai contoh, perzinaan dilegalkan, sah bergonta-ganti pasangan semuanya telah dijamin dalam sistem liberalisme. Hal ini yang bertentangan dengan Islam, dimana sebagaimana agama yang sempurna setiap perbuatan manusia memiliki aturan hidup untuk menjaga kepentingan manusia itu sendiri. Dasar dari perbuatan LGBT termaktub dalam hadits ini:

Tidaklah setiap manusia lahir lahir melainkan dalam keadaan fitrah , kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani dan Yahudi sebagaimana hewan ternak kalian dilahirkan apakah ada padanya anggota tubuhnya yang terpotong  hingga kalian membuatnya cacat.” (HR. Riwayat Bukhari)

Dari Hadits ini menunjukkan setiap anak lahir dalam keadaan yang bersih dan siap menerima hidayah dari Allah tapi orang tuanyalah yang membentuk karakter seorang anak yang keluar dari hidayah Allah.Dan jelas pula dari hadits ini, pengaruh lingkungan pergaulan dan norma-norma yang ditanamkan pada seorang anak akan mebentuk karakternya. Jadi untuk  menjauhi prilaku menyimpang setiap anak harus ditanamkan aqidah Islam secara mantap, dimana orang tua mampu mengontrol perkembangan anak jangan sampai ada anak perempuan yang kehilangan sosok seorang ayah, maka ia merubah diri sosok yang hilang dalam kehidupannya sehingga ia berlaku selayaknya laki-laki padahal  Rasulullah SAW bersabda :

Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan melaknat wanita yang berpakaian seperti laki-laki”. (HR. Abu Dawud no.4098,Ahmad 2/325)

Dari kondisi inilah perkembangan orientasi seksual seorang anak secara tidak langsung akan menyimpang. Selanjutnya memisahkan tempat tidur anak seperti hadits Rasulullah :

Ajarilah anak-anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukulah mereka (jika tidak mau shalat) ketika berumur sepuluh tahun pisahkanlah tempat tidur mereka.”(HR. Abu Dawud)

Dari hadits tersebut sangat perlu adanya pembentukan karakter anak dengan membiasakan mereka melakukan ibadah dan taat terhadap hukum Islam dan pemisahan tempat tidur dilakukan untuk meminimalisir kecendrungan anak dengan sesama jenis atau menhindarkan zina antara mereka. Selanjutnya menjauhi ikhtilath (bercampur baur) karena perzinaan, dimulai dari pandangan mata, lalu hati meninginkannya dan kemaluanlah yang melaksanakannya.

Masyarakat untuk saat ini telah mengembangkan gaya hidup hedonis dimana telah membentuk seorang individu menjadi budak nafsu  termasuk dengan melakukan perbuatan yang menyimpang perilaku  seperti ini dapat mengancam keberlangsugan pertumbuhan hidup manusia. Wajar dan tepat jika Islam mengaharamkan prilaku seperti ini. Sekurang-kurangnya ada 3 jenis sanksi hukum yang ditawarka dalam kitab fikih pertama pelaku homoseksual dibunuh, kedua dikenakan hukuman pidana (had) sebagaimana had zina, yaitu jika pelakunya belum menikah maka ia harus dicambuk tetapi jika sudah maka maka ia dikenakan hukum rajam sampai mati, ketiga dipenjara (ta’zir) dalam waktu yang telah ditentukan hakim.

Untuk itulah tugas kita disini untuk menyelamtkan saudara-saudara kita yang terjerumus dalam lingkungan LGBT, terlepas dari sisi negatif mereka, mereka manusia yang butuh tuntunan dan perhatian untuk para pelakuu yang telah terjerumus salah satu solusi nya adalah :

  1. Dengan pendekatan dan penanaman aqidah yang benar, atas izin Allah aqidah yang benar merupakan benteng yang menjaga dari setiap penyimpangan
  2. Semangat menasehati antar sesama, contohnya dengan mengadakan seminar-seminar tentang bahaya dari LGBT, sehinngga mendorong mereka dari tersebarnya kemungkaran yang mendatangkan azab Allah.

Dan untuk kita sendiri agar terhindar dari bahaya  LGBT salah satu solusinya adalah dengan puasa:

Rasulullah SAW bersabda “ Wahai para pemuda , siapa saja yang mampu diantara kamu untuk menikah maka menikahlah; sebab ia dapat mendapat menahan pandangan dan  menjaga kemaluan .Dan siapa saja yang tidak mampu melakukannya, maka hendaklah ia berpuasa sebab ia merupakan solat baginya.” (HR.Al-bukhari  dan Muslim).

Sebenarnya sifat gay adalah  sifat yang bisa disembuhkan bukan sikap bawaan yang bisa ditolerir keberadaannya, teori yang menyatakan gay adalah sifat genetis  adalah sebuah propaganda yang dugunakan untuk melegitimasi penyimpangan perilaku tersebut dalam perlindungan “demokrasi dan HAM”. Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Penulis : Renna Febryanita || Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Islamic Press JMMI ITS 1516

Editor: Arning Susilawati