Adalah mustahil bila ada yang mengatakan “Mustahil bagi saya bangun shalat subuh.” Sesungguhnya permasalahannya kembali pada kemauan. Anda mau atau tidak?

Pernah salah seorang berkata kepada temannya, “Sebenarnya aku sudah tahu kapan harus shalat subuh. Sayangnya, mustahil bagiku untuk bangun pada saat itu. Kamu tidak tahu bagaimana kondisiku. Kondisi fisikku tidak mengizinkan. Tuntutan pekerjaan juga tidak memungkinkan. Situasi rumah dan minimnya penghasilan tidak bisa membantu. Bukankah Allah, seperti yang Anda ketahui Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang tentunya akan mentolerir keadaanku ini dan mengampuni dosaku.”

Temannya pun menanggapi pernyataan tersebut, “Perkataan bahwa ‘Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ adalah perkataan yang benar. Namun dalam hal ini kamu menggunakan untuk maksud yang keliru. Itu sama saja dengan membuka pintu masuk lebar-lebar bagi setan. Bila Allah mengampuni setiap manusia jujur dan manusia pendusta, orang taat dan orang bermaksiat, orang yang cinta akan syariat-Nya, dan orang yang tidak suka, lantas apa gunanya amal? Mengapa pula harus bersungguh-sungguh? Dan, untuk apa orang yang taat kepada Allah menekan atau memaksa hawa nafsunya, sehingga ia harus bangun di tengah malam yang begitu dingin untuk pergi ke masjid?”

Memang, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, mengampuni dosa siapa saja yang memohon ampunan kepada-Nya. Akan tetapi, kata-kata saja tidak cukup. Kesungguhan memohon ampun harus dibuktikan dengan amal. Mari kita renungi firman Allah ini:

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar,” (QS Thaha: 82).

Tidak semua manusia mendapat ampunan dari Allah. Syaratnya, ia harus bertaubat secara sungguh-sungguh, keimanan yang benar, ama shalih, dan mengikuti perintah Allah.

Ungkapan “kemustahilan” pada kehidupan seseorang untuk melaksanakan shalat subuh pada waktunya, sebenarnya masih bisa kita diskusikan.

Bukan bermaksud meragukan adanya “kemustahilan” yang menyebabkan kita tidak mampu bangun pagi guna menunaikan shalat subuh. Tetapi ada beberapa hal yang harus kita renungkan terlebih dahulu.

Pertama: Allah tidak membebani hamba sesuai dengan kadar kemampuannya

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (Q Al-Baqarah: 286).

Ini merupakan salah satu kaidah paling dasar dari kaidah syariat Islam. Ketentuan dan syariat agama yang murni dari Allah. Dia mengetahui usaha dan kemampuan ciptaan-Nya dengan pengetahuan yang pasti. Dengan demikian, semua hukum syariat berada pada batas yang mampu dikerjakan oleh hamba Allah. Kita tidak meragukan hal itu.

Selanjutnya, marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing:

  • Apakah shalat subuh merupakan sebuah kewajiban ataukah tidak?
  • Apakah shalat subuh kewajiban bagi setiap muslim, atau ada yang dikecualikan?

Jawabannya tentu saja sangat jelas: Shalat subuh wajib bagi setiap muslim ! Tidaklah pantas disebut sebagai muslim dan mukmin seseorang yang meyakini keadilan Allah, kebijaksanaan, dan pengetahuann-Nya masih merasa bahwa kewajiban melaksanakan shalat subuh adalah sesuatu yang mustahil.

Sumber:

Judul buku: Misteri Shalat Subuh || Penulis: Dr. Raghib As-Sirjani || Tahun terbit: Cetakan Pertama tahun 2013 || Tempat terbit: Solo || Penerbit: Qawwam

Pereview: Desy Puspita Sari

Editor: Arning Susilawati