Apakah kalian menyadari? Dalam dunia pendidikan kita, banyak yang kurang memenuhi kelayakan serta belum mencapai harapan. Pelajaran sangat berharga yang dikutip dari ust Dr. Adian Husaini bahwa “Pendidikan dan mendidik jika kita lihat sekilas maknanya pasti sama namun sebenarnya berbeda, tapi keduanya sangat erat kaitannya, satu dengan lainnya, karena pendidikan adalah sebagai sarana dan prasarana sedangkan mendidik merupakan pelaksana dari pendidikan tersebut.”

Pengembangan pendidikan agama Islam pada sekolah juga mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Akan tetapi, reaitanya belajar hanya untuk menentukan prestasi atau tingkat sosial di masyarakat dan sungguh sangat disayangkan sebagian besar sistem pendidikan di kampus sekarang ini berbasis industrialisasi. Mahasiswa dididik selama bertahun-tahun untuk job oriented, seakan-akan belajar bertahun-tahun hanya untuk mendapat pekerjaan layak di perusahaan atau kantor, demi mendapatkan uang, menikah, dan hidup senang. Berangkat pagi pulang sore, weekend pergi berlibur, dan begitu siklus hidupnya.

Menjadi pekerja profesional seakan menjadi impian semua mahasiswa saat ini. Seakan hal itu adalah tujuan utama dalam mengenyam pendidikan di kampus ternama, kelelahan menghadapi dosen-dosen yang tidak semuanya ramah, keletihan mengerjakan tugas-tugas dan praktikum yang menumpuk, letihnya menulis tugas akhir atau skripsi yang memakan waktu berbulan-bulan, hanya rela diganjar dengan pangkat tinggi di perusahaan.

Jikalau hanya itu tujuan mahasiswa belajar bertahun-tahun, bukannya terlalu murah? Bukankah terlalu mahal perjuangan bertahun-tahun itu diganjar hanya dengan uang? Tidak berlebihan kita membuat permisalan sederhana seperti ini:

‘Keledai itu dilatih untuk menarik gerobak, dia profesional dalam bidang itu,
Kerbau itu dilatih untuk membajak sawah, dia profesional di bidangnya,
Monyet dilatih untuk bermain topeng monyet, dia mahir dalam pertunjukan itu.”

Bukankah kita terlalu rendah jika diperbudak dalam sistem seperti sistem itu? Tentu jawaban yang akan kita ucapkan “Tidak!”

Coba kita tengok sejarah didirikannya universitas, pelopor berdirinya universitas adalah di Maghrib (Maroko), atau terkenal dengan Al-Qarawin. Al-Qarawin dalam bahas arab disebut “Jamiah” artinya “Yang mengumpulkan” yakni mengumpulkan berbagai disiplin ilmu untuk memanusiakan manusia, membuat manusia menjadi manusia sebenarnya, bukan robot industri, juga bukan robot perusahaan. Adapun kata “Kuliah” adalah serapan dari bahasa arab “Kulliyyah” artinya menyeluruh, tidak setengah-setengah.

Mengetahui bahwa makna universitas adalah mengumpulkan, namun oleh orang barat, makna tersebut dipersempit menjadi konsep orientalis, hingga datang zaman industrialisasi, yang akhirnya universitas dituntut untuk bisa kearah industrialisasi, hingga sekarang ini. Adanya tuntutan tersebut bukan melarang mahasiswa untuk menjadi seorang profesional, akan tetapi, coba kita telaah kembali seperti apa tugas terciptanya seorang manusia di muka bumi ini.

Mari buka mindset lebih lebar, kita ini manusia! Manusia yang diciptakan Allah untuk menjadi abdillah, menjadi khalifah di atas muka bumi ini. Kita adalah pemegang amanat agung, dimana langit dan gunung-gunung pun tidak sanggup dan menolak untuk memikulnya. Kita ini manusia yg dimuliakan Allah di atas makhluk lainnya. Kita diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk dan ciptaan. Kita diberikan nikmat akal dan pikiran dan perasaan yang malaikat pun tidak diberikan itu oleh Allah.

Kita kadang mengira bahwa kita hanya butiran tak berharga. Padahal dalam diri kita ada potensi yg tak ternilai harganya. Karena “Kita adalah manusia.” Umat ini jumlahnya sangat banyak, permasalahan di dalam tubuh umat itu sangat komplek. Setiap hari ada saja permasalahan baru yg muncul, apalagi di negara berkembang seperti Indonesia kita ini. Pertanyaannya, siapakah yg bisa memecahkan permasalahan itu? Tentu saja, kita para manusia terpelajar. Karena nikmat Allah berupa pendidikan tinggi dan ilmu yang cukup mumpuni ini haruslah bisa menjadi solusi konkrit, bisa menjadi the win solutions.

Musuh Islam tidak pernah berhenti menyerang kita dari berbagai arah. Tiap hari, tiap waktu, siapakah yang seharusnya melawan mereka? Ya, KITA ini! Generasi muda pembawa misi dan amanat ummat.

Jangan sampai kita hanya terjebak dalam sistem yang sengaja diciptakan oleh barat dan antek-anteknya. Kita harus keluar dari kekengan itu. Kita katakan dengan suara lantang bahwa “Kita bukan robot, kita adalah manusia.”

Mumpung masih muda, bekal ilmu, wawasan, bahasa, dan skill harus kita perkuat. Medan perang ada di depan kita, ghazwul fikri yang tidak usai, pengikisan akidah yang dimana musuh tak pernah lelah, kristenisasi yang tak pernah berhenti, dan lain sebagainya. Itu adalah sekelumit dari tantangan umat Islam sekarang ini, mari siapkan bekal dari sekarang!

Akan menjadi luar biasa jika kita bisa menjadi seperti ibnu Rusyd yang menulis kitab fiqh, tapi juga punya karangan bidang kedokteran. Menjadi seperti Imam Bukhary, yang menjadi rujukan bidang hadits tapi juga kompeten dalam bidang fiqh dan ushul fiqh. Menjadi seperti dr. Zakir Naik, ahli kedokteran tapi sangat mantap dalam bidang kristologi dan debat antar agama. Majulah pemuda-pemudi Islam! Ummat menunggu kiprah kalian!

Semua itu ada hikmah yang bisa kita petik, Imam Al-Ghazzali menilai bahwa “Ilmu itu harus mengantarkan orang yang mempelajarinya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah yang disebut dengan ilmu bermanfaat. Sekiranya keduanya tidak bisa diraih, paling tidak kebahagiaan akhirat bisa diperoleh karena inilah kebahagiaan yang hakiki.”

Sekiranya ilmu itu memberi kebahagiaan bagi kehidupan dunia tapi tidak mengantarkan kebahagiaan akhirat maka ilmu ini bukan termasuk ilmu yang dimaksud Imam al-Ghazzali karena tidak ada artinya memperoleh kebahagiaan dunia tetapi memperoleh kesengsaraan akhirat.

Penekanan Imam al-Ghazzali terhadap ilmu jalan akhirat, tidak berarti mengabaikan atau meremehkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk kemaslahatan dunia atau ilmu-ilmu duniawi. Selama ilmu-ilmu dunia tersebut satu arah dengan tujuan mencapai kebahagiaan akhirat, maka itulah ilmu yang bermanfaat.

Imam Al-Ghazzali berkata:
“Agama tidak teratur kecuali dengan teraturnya dunia, karena sesungguhnya dunia itu adalah ladang akhirat. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang mengambilnya (dunia) sebagai alat dan persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat menetap dan tanah air.”

Pada dasarnya setiap hal yang diwajibkan Allah kepada manusia merupakan ibadah, sedangkan menuntut ilmu diwajibkan (fardhu) bagi setiap muslim. Maka dari itu, menuntut ilmu adalah ibadah.

Imam Al-Ghazzali mengibaratkan menuntut ilmu dengan shalat. Jika shalat, yang merupakan ibadah lahir, harus didahului dengan membersihkan badan (wudhu), maka demikian pula halnya dalam menuntut ilmu yang juga perlu dimulai dengan membersihkan jiwa dari berbagai bentuk kotoran. Karena ilmu tidak akan masuk ke dalam jiwa yang kotor sebagaimana tidak diterimanya shalat jika dilakukan dalam keadaan tidak suci yang menunjukkan bahwa untuk belajar perlu ada persiapan kejiwaan.

“Menuntut Ilmu itu fardhu bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

Di sini juga Imam Al-Ghazzali mengisyaratkan suatu bentuk seleksi yang bukan hanya berdasarkan kecerdasan intelektual tetapi seorang murid juga harus memiliki suatu kriteria akhlak sebelum mendapat pelajaran atau diterima sebagai seorang murid. Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan yang berlaku saat ini yang menghilangkan aspek akhlak dalam pendidikan dan hanya fokus pada aspek intelektual.

Sistem pendidikan seperti ini akan menghasilkan lulusan yang berpengetahuan tinggi tapi pengetahuannya tidak membawa kebaikan, akan tetapi berpotensi membawa kerusakan di dalam masyarakat. Mengenai pentingnya kriteria akhlak, sebaiknya dalam seleksi penerimaan mahasiswa di tingkat pendidikan tinggi kriteria akhlak (perilaku) merupakan sesuatu yang harus menjadi pertimbangan. Ini berarti penerimaan mahasiswa di pendidikan tinggi tidak seharusnya berlandaskan pada prestasi-prestasi akademik formal saja.

Meskipun sistem seleksi berbasis akhlak (perilaku) itu belum ada atau belum banyak dipraktikkan sampai saat ini. Namun sistem seleksi itu bukanlah sesuatu yang sulit atau tidak praktis. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena alumni pendidikan tinggi adalah orang-orang yang akan memegang jabatan penting di masyarakat, sehingga baik-buruknya perilaku mereka akan berdampak besar terhadap kemaslahatan masyarakat banyak.

Wa Allahualam bi’shawab

Reposted by Riskhany Yuliarti Riskhany Yuliarti ||Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Departemen Islamic Press JMMI 1516 from Muhammad Fajar D

Editor : Muhammad Aulia