LGBT (Lesbuan, Gay, Bisex dan Transgender) adalah topik hangat yang banyat menarik perhatian masyarakat baik dari kalangan tokoh agama dan akademisasi setelah dilegalkannya pernikahan sejenis di seluruh penjuru negara Amerika Serikat. Kaum LGBT sendiri sudah memperjuangkan sejak lama keberadaannya di tengah masyarakat dengan berlindung dalam naungan HAM.

Salah satu dari kaum LGBT menegaskan bahwa, LGBT adalah sebuah hak dan martabat setiap manusia dan yang perlu digaris bawahi adalah komunitas LGBT berhak untuk hidup bebas dari ketakutan, kekerasan dan diskriminasi terlepas dari siapapun mereka dan siapapun yang mereka cintai. Bahkan tuntutannya menyentuh ranah yang paling sakral yaitu pernikahan. Dalam konteks masalah ini kaum Islam Liberal pun ikut meyuarakan pendapatnya bahwa, homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam (Hidayatullah.com).

LGBT dalam pandangan Islam sendiri  bukan suatu hal yang baru, karena penyakit ini pun sudah mewabah semenjak jaman Nabi Luth, bahkan Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan kepada umatnya sebagaimana yang telah diriwiyatkan oleh Jabir bin Abdillah “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth”(HR. Ibnu Majah : 2563).

Bahkan dalam hadist lainnya Rasulullah bersabda, ”Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth” (HR.Nasa’i No 7337).

Dalam sebuah penelitian BF Mussalam, homoseksual telah mewarnai kehidupan masyarakat pada awal kehadiran Islam. Salah satu penyebabnya adalah perasaan keterasingan serta pergaulan yang lebih banyak dengan lelaki. Sedang Lesbian, pertama kali dipraktikkan oleh istri Nu’man ibn Mundzir (al-khatib dalam kitab Jawami’).

Penelitian lainnya mengatakan bahwa kaum LGBT terjadi karena faktor gen dan juga faktor lingkungan. Secara biologis ketidakseimbangan hormonal juga berpengaruh terahadap orientasi seksual misalnya ketika seorang laki-laki kelebihan hormon wanita memungkinkan ia menjadi biseksual dan dilain pihak, faktor lingkungan bisa jadi lebih berperan dalam membentuk orientasi seksual karena disebabkan traumatik atau pengidolaan yang berlebihan kepada lawan jenisnya sehingga timbul rasa ingin menjadi idolanya dan menyebabkan seseorang menjadi transgender.

Jika ditelusuri lebih jauh, praktik ini sah dihadapan hukum bahkan pasangan gay/lesbi yang “menikah” maka akan menghancurkan sebuah konsep pernikahan itu sendiri. Pasalnya, pernikahan bertujuan untuk menghasilkan sebuah keturunan tapi jika praktik ini dilegalkan bukan hal yang mustahil bahwa mereka akan membuat sebuah keturunan dengan insemnisasi buatan yang akan menghasilkan problem baru, dan juga masalah lainnya yaitu peran antara suami dan istri dalam sebuah keluarga itu akan berdampak besar, baik secara sosiolgis dan psikologis.

Dilihat dari sisi sosiologi, akan meningktakan gejala sosial dengan mengikis kehidupan bermasyarakat. Dari psikologi, problem tersebut akan memberikan efek yang sangat kuat pada syarafnya sehingga pelaku merasa dirinya bukan lelaki atau wanita sejati, dan merasa khawatir tehadap identitas diri dan seksualnya. Fenomena LGBT ini juga dapat berdampak buruk dari aspek kesehatan yang dapat menyebabkan infeksi penyakit berbahaya.

Jika kita bayangkan kalau penyimpangan ini dilegalkan secara hukum maka sesuatu yang merusak masyarakat akan diakui keabsahannya dan dijamin hak-haknya. Maka atas nama “perlindungan HAM” seseorang mampu merusak sebuah masyarakat.

Semoga Allah berkenan memberikan hidayah untuk  hamba-hambaNya untuk bisa menjalankan fitrah yang telah Dia berikan sebaik-baiknya. Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Penulis : Renna Febryanita || Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Islamic Press JMMI ITS 1516

Editor: Arning Susilawati