Masih Hidupkah Kita?

0
641

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja,” Buya Hamka.

Kembali, umat ini mengalami distorsi akan arti sebuah makna kehidupan. Kembali, bangsa ini mengubah cara pandang fitrah kehidupan yang telah digariskan. Pengaruh urusan perut merongrong habis akal dan pikiran ini. Sehingga tak ada lagi batas antara mana yang dikatakan manusia dan mana yang dikatakan binatang ternak. Semuanya melebur dalam wadah liberalisasi.

Kembali, kita dapati bahwa, kebanyakan manusia diantara kita menjadikan harta, pangkat kekuasaan sebagai puncak dari kebahagian. Berlomba-lomba manusia yang hidup di muka bumi ini untuk menjadi yang terbaik, menjadi yang terdepan, menjadi yang paling unggul dalam hal keduniaan. Saling sikut kanan sikut kiri pun dilakukan asalkan apa yang menjadi tujuan perut dapat tertunaikan.

Lupakah kita apa yang sebenarnya tubuh ini butuhkan? Lupakah kita default penciptaan diri ini sebenarnya difungsikan untuk apa? Lupakah kita apa yang seharusnya menjadi capaian tertinggi yang harus diraih dalam hidup ini?

Allah Swt sebagai zat yang menjadikan hidup dan mati, zat yang menciptakan segala kehidupan, zat yang mengatur segala rizki, zat yang maha mengayakan dan maha menghinakan. Ialah Allah SWT tiada lain zat yang lebih berhak kita sembah selain zat-Nya. Bukan zat perebutan jabatan, bukan zat perebutan tender proyek, bukan zat adu kepentingan politik ataupun zat perebutan harta kekayaan negara.

Tidaklah familiar ditelinga kita bahwa hakikat penciptaan kita adalah hanya untuk beribadah kepada Allah semata. Selama masih ada nikmat atas nafas yang melewati tenggorokan ini, maka selama itu pula semua hal yang kita lakukan, kita pikirkan, kita rasakan, kita nikmati, kita saksikan dan lain sebagainya adalah semata-mata dalam kerangka ibadah kita sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ribuan kali kita lupa dan lengah bahwa semua nikmat yang kita peroleh hingga hari ini nantinya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt. Dan kita sudah menyadari bahwa setting-an default tubuh ini adalah untuk beribadah hanya semata-mata untuk Allah semata.

Apa yang akan terjadi jikalau kita ingin mencuci pakaian menggunakan mesin, namun kita memasukkan pakaian kita kedalam blender juz buah, kira-kira bagaimana hasilnya? Bukan hanya pakaian kita saja yang rusak melainkan blendernya tersebut pun akan rusak pula.

Begitu juga perjalanan kita sebagai manusia yakni di-setting untuk beribadah kepada Allah SWT, dan menjadi seorang khalifah (pemimpin) dalam kehidupan ini. Lantas jikalau yang kita lakukan adalah tidak sesuai fungsi dan kapabilitas kita sebagai manusia, maka yang akan timbul adalah sebuah kerusakan, keburukan, dan bencana. Ya, itu semua karena kita tidak memperlakukan segalanya pada tempatnya, dan sesuai hakikat penciptaanya seperti analogi pakaian dan mesin blender diatas.

Bahkan benarlah ayat di dalam Al-Quran yang mensejajarkan manusia dengan binatang ternak. Kita tahu binatang ternak adalah mahluk Allah yang tidak diberikan pikiran dan hak untuk memilih. Namun mahluk Allah yang disebut hewan ternak tersebut adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat, dan sesuai fungsinya. Mereka dilahirkan di bumi untuk menebarkan manfaat kepada manusia. Mereka diciptakan di muka bumi untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup manusia. Dan dalam kematianya manfaat yang dihadirkan hewan ternak tidak kalah banyak, dagingnya dapat diperjual belikan, dapat dikonsumsi fakir miskin pada saat idul adha dan masih banyak lagi.

Namun apakah ini berlaku juga untuk manusia? Disinilah kita dapat mengambil hikmah bahwasanya manusia diciptakan di muka bumi dalam sebaik-baik penciptaan. Bahkan malaikat-malaikat pun diperintahkan Allah SWT untuk sujud kepada kakek kita Adam as. Tetapi dalam fase kehidupan yang kita jalani tak sedikit diantara kita yang selama hidupnya lebih rendah dari daripada binatang ternak, tidak memberikan manfaat sedikit pun, menyebabkan kehancuran di muka bumi, dan dalam kematiannya pun tak sedikit manusia yang malah mewariskan bencana kepada anak keturunanya yakni pewarisan tanggung jawab atas apa yang telah diperbuat selama hidup.

Masihkah kita mengaku berkehidupan sedangkan kita jauh dari apa yang menjadi tujuan penciptaan kita? jangan sampai kita yang mengaku masih hidup, namun hakikatnya kita adalah hanya sebuah bangkai bangkai mayat yang berjalan di muka bumi, mati dan lebih hina daripada binatang ternak.

Untuk itu penulis disini mengajak kita semua untuk kembali ke jalan yang memberikan fitrah kehidupan.yakni fitrah untuk menghadirkan kebermanfaatan dalam kepemimpinan yang semuanya adalah dalam kerangka beribadah sepenuhnya kepada Allah SWT.

Editor: Arning Susilawati