Secara umum, mahzab yang paling banyak dianut oleh masyarakat Indonesia adalah mahzab As-Syafi’i. Sebagian masyarakat menyadari mahzab yang mereka anut, sebagian lagi menganutnya tanpa sadar. Nah, sesungguhnya apa itu mahzab?

Secara fiqih pengertian mahzab adalah hasil ijtihad seorang imam tentang suatu masalah yang belum ditegaskan oleh nash. Kategori masalah yang bisa digolongkan ijtihad adalah hal yang sifatnya prasangka bukan hal yang sudah pasti. Misalnya hukum tentang menyentuh kulit wanita yang bukan mahrom, dalam hal ini terdapat perbedaan pandangan sehingga menghasilkan ijtihad yang berbeda antara Imam Syafi’i dan imam lainnya.  Sebagai orang awam yang tidak mampu berihtijad, kita wajib bermahzab. Nah, karena kita mempercayai hasil pemikiran dan mengikuti hasil ihtijad imam Syafi’i alangkah baiknya kita mengenal sang imam lebih dekat.

Imam syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah di Ghaza, Palestina. Pada tahun kelahiran beliau, bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, guru para ahli fiqih Irak. Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad ibn Idris al-Abbas ibn Ustman ibn Syafi’i ibn al-Said ibn ‘Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Muthalib ibn Manaf. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Nabi Muhammad, tepatnya di Abdi Manaf sebagai kakek moyang Nabi Muhammad, oleh karena itu beliau dikatakan bernasab mulia. Nama Syaf’i sendiri merupakan hasil nisbah dari Syafi’i ibn al-Sa’ib, beliau adalah kakek dari kakek Imam Syafi’i yang merupakan sahabat Rasulullah generasi akhir.

Syafi’i terlahir dari seorang ibu yang berasal dari Azad, salah satu kabilah Arab yang masih murni sedangkan bapaknya adalah keturunan Quraisy. Bapaknya meninggal dunia saat Syafi’i masih dalam buaian sang ibu, Syafi’i pun menjadi anak yatim yang miskin. Kemiskinan yang disandingkan dengan nasab yang mulia menjadikan Syafi’i tumbuh baik, memiliki akhlak yang lurus dan menempuh jalur yang mulia.

Karena ketinggian nasab mendorongnya untuk memiliki nilai-nilai mulia dan menjauhi hal-hal yang hina. Hal ini tak terlepas dari peran sang ibu dalam mendidik Syafi’i. Ibunda sang imam merupakan perempuan yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Ibunda Syafi’i memiliki andil besar dalam membentuk dan membina kepribadian Syafi’i. Ibunda Syafi’i tak lantas berlepas tangan ketika Syafi’i beranjak remaja. Ia mengirim Syafi’i dari Ghaza ke Mekkah. Hal ini ia lakukan agar Syafi’i hidup dekat dengan pusat ilmu kala itu.

——

Keterangan:

Ijtihad : usaha yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan nalar untuk menyelidiki dan menetapkan hukum suatu perkara berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.

Nash : hanya menunjukkan satu makna karena dalilnya jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lainnya. Contoh nash dalam Al-Qur’an : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya.” (QS. Al Ma’idah :38)

Nasab : kerabat, mencakup setiap orang yang ada kekerabatan denganmu baik dekat maupun jauh, dari jalur ayah maupun ibu.

Nisbah : perhubungan keluarga, nama yang menyatakan keturunan.

—-

Penulis: Deby Theresia || Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor: Arning Susilawati