Abu At Turab ialah Ali bin Abi Thalib, Julukan pemberian Rasulullah as.

Ali bin Abi Thalib dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab pada tanggal 17 Maret 599M (13 Rajab). Saat lahir, Beliau bernama Asad (Haidar). Nama tersebut hasil pemberian sang ibu sebagai kenangan dari nama bapaknya (kakek Ali) yang bernama Asad bin Hasyim. Asad (Haidar) berarti Singa, adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Makkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haidar, Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).

Beliau memiliki kedua orang tua. Ayah bernama Abu Thalib (Abdu Manaf) bin Abdul Muthalib bin Hasyim dan Ibu bernama Fatimah binti Asad. Beliau memiliki 3 saudara laki –laki yaitu Thalib, Ukail, Jafar dan 2 saudara perempuan yaitu Ummu Hanik dan Jumanah. Beliau mempunyai sepuluh Istri yaitu Fatimah binti Muhammad SAW, Khaulah binti Ja’far bin Qais bin Masmalah, Laila binti Mas’ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hizam bin Khalid bin Jaf’ar bin Rabi’ah. Jumlah anak beliau yang diperoleh dari semua istrinya adalah 14 anak laki-laki dan 19 anak perempuan.

Ibnu Abdul Barr bercerita mengenai sifat-sifat fisik Ali, mengatakan bahwa beliau memiliki perawakan yang ideal, fisiknya tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi, matanya hitam bersinar dan lebar, wajahnya tampan seperti bulan purnama, dadanya lebar, fisiknya kuat dan sigap, lehernya panjang, botak, kepalanya tidak ada rambutnya kecuali di bagian belakang, berjenggot panjang, sangat perkasa sehingga ketika dia memegang orang dengan tangannya dan menyekapnya, maka orang itu tidak bisa bernafas, dan jika berjalan sangat cepat, tangguh dan pemberani.

Kisah Awal Ali bin Abi Thalib Masuk Islam
Pada saat kaum Quraisy ditimpa krisis, dan Abu Thalib memiliki keluarga besar (banyak anak ), pada saat itu Muhammad Saw yang belum diangkat menjadi Nabi melihat itu dan berkata kepada Al-Abbas, pamannya yang dianggap sebagai orang kaya dari Bani Hasyim,

kata Rasulullah “ Wahai Abbas , sesungguhnya saudaramu Abu Thalib memiliki keluarga yang besar. Kamu tau krisis yang saat ini sedang melanda masyarakat, maka marilah kau berada bersama kami untuk meringankan beban mereka, saya akan mengambil satu orang dari anaknya dan kamu juga mengambil satu orang anaknya untuk kita cukupi segala kebutuhannya.”

Lalu Abas berkata, “Ya, wahai Muhammad .” Kemudian, keduanya berangkat menuju rumah Abu Thalib.

Sampai di sana keduanya berkata, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya kami berniat untuk meringankan beban keluargamu.”

Berkatalah Abu Thalib kepada keduanya, “Jika kalian berkehendak, maka tinggalkanlah untuk kami anak kami yang bernama Ukail lalu ambil siapa yang kalian kehendaki selain dia.“

Kemudian Rasulullah mengambil Ali untuk hidup bersamanya dan Abbas Juga mengambil Ja’far untuk hidup bersamanya. Berawal dari situlah Ali hidup bersama Rasulullah hingga datangnya risalah kenabian.

Bagaimana Ali Masuk Islam???
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib datang menemui Nabi as setelah Khadijah masuk Islam. Ali melihat keduanya sedang shalat lalu Ali berkata, “Ini apa Wahai Muhammad?”

Kemudian Nabi pun bersabda, “Ini adalah agama Allah yang telah Allah pilih dengan kehendak-Nya, dengannya Dia mengutus rasul-Nya. Saya ajak engkau wahai Ali untuk bersaksi terhadap Allah yang Maha Esa dan untuk menyembah-Nya. Dan agar engkau mengingkari Latta dan Uzza.”

Mendengar ajakan Rasulullah, Ali pun bermaksud untuk meminta pendapat sang ayahnya. Namun, satu sisi, Rasulullah menyuruh Ali untuk merahasiakan tentang Islam sebelum Ali masuk Islam. Ali pun berdiam diri selama satu malam itu kemudian Allah memberi kepadanya hidayah Islam.

Pada suatu pagi beliau menghadap kepada Rasulullah dan berkata,”Apa yang engkau perintahkan kepadaku wahai Muhammad?”

Rasulullah bersabda, “Kamu bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan tidak menyekutukannya serta engkau mengingkari tuhan Latta dan Uzza, serta melepaskan diri dari segala bentuk penantang kepada Allah.” Ali pun melakukan apa yang yang Rasul Allah perintahkan tersebut dan menyatakan diri masuk Islam.

Dari kisah ini memberitahukan kepada kita, bahwa, kita tidak tahu seberapa besar kekuasaan Allah Saw untuk menjadikan seorang muslim.

Penulis: Tegar Rilo (Mahasiswa Diploma Teknik Sipil ITS || Staff Islamic Press JMMI ITS 1516)

Editor: Arning Susilawati