Indahnya Subuh
Sumber Gambar

Shalat Subuh berjamaah di masjid bagi laki-laki, dan tepat waktu bagi perempuan merupakan permasalahan yang sungguh sangat penting bagi umat Islam, dalam membangun sebuah peradaban. Permasalahannya bukan sekedar dua rakaat, dan bukan sekedar pahala melimpah di sisi Allah, akan tetapi ada yang jauh lebih besar dari pada itu.

Shalat Subuh menghubungkan hamba dengan sang Rabb yakni sejak awal terbitnya fajar hingga penghujung hari. Dan bila umat Islam shalat Subuh berjamaah di masjid maka mereka akan menjadi umat yang setiap harinya dalam lindungan Allah SWT.

Shalat Subuh juga merupakan tolak ukur nilai dan kekuatan sebuah umat. Umat yang melalaikan shalat Subuh merupakan umat yang tidak pantas untuk bangkit. Bahkan, mereka hanya pantas untuk diganti oleh umat lainnya. Sungguh aneh, ada di antara umat Islam yang melalaikan shalat Subuhnya, kemudian ia berbicara menggebu-gebu tentang syariat Islam, kebangkitan Islam, dan sebagainya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Allah menolong orang-orang yang melalaikan hak-Nya?

Kebangkitan Palestina

Kita semua telah mendengar ungkapan salah seorang pemimpin Yahudi, bahwa mereka tidak akan takut kepada umat Islam kecuali bila umat Islam melakukan satu hal. Yaitu, bila jumlah umat Islam yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid sama dengan jumlah umat Islam yang melaksanakan shalat Jumat berjamaah.

Ungkapan Yahudi ini—baik telah diungkapkan atau tidak—adalah benar. Karena tanpa shalat Subuh berjamaah, umat Islam sangatlah lemah. Dan mereka adalah umat yang sama sekali tidak menakutkan.

Dan tatkala membaca wasiat langsung pelaku bom syahid termuda di Palestina, Muhammad Fathy Farahat (17 tahun). Inilah wasiatnya: “Saudaraku umat Islam, ketahuilah bahwa shalat shubuh berjama’ah adalah rahim yang melahirkan para pejuang dan pahlawan. Ia adalah tempat peraduan orang-orang ikhlas. Melaksanakan shalat shubuh berjama’ah adalah ciri-ciri para mujahidin, indikasi kemenangan, dan sifat orang-orang shalih. Sungguh amat banyak kebaikan yang tak ternilai di waktu itu.” Wasiat itu ditulis oleh Farahat pada hari Jum’at 1 Maret 2002, 1 hari sebelum ia melakukan serangan yang mengantarkannya pada syahid yang ia dambakan. Subhanallah.

Shalat shubuh berjama’ah. Demikian penting dan hebatkah pengaruhnya? Begitu muliakah waktu tersebut sehingga ia menjadi salah satu diantara rahasia para pejuang Palestina yang tak pernah takut menghadapi tentara dan tank-tank Israel? Tak pernah gentar dengan serangan rudal. Bahkan tak pernah gemetar meskipun melakukan aksi bom meraih syahid. Subhanallah…

Shalahuddin Al-Ayyubi
Inilah modal yang paling penting untuk sebuah kebangkitan umat Islam. Ingatlah ketika perang Salib berkecamuk. Bahwa hal yang sangat dipentingkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi adalah mengarahkan pasukan untuk shalat berjamaah di masjid. Dan ia mengajarkan bahwa pasukan yang menegakkan shalat berjamaah, merekalah tentara yang meraih kemenangan yang gemilang, kemenangan atas pasukan Salib dan atas musuh-musuh Islam lainnya.

Ia melakukan segalanya, tapi ia juga sadar bahwa kemenangan tidak akan diraih kecuali Allah ‘Azza wa Jallâ menolong mereka. Dan bagaimana mungkin Allah menolong orang-orang yang melalaikan kewajiban yang telah ditetapkan-Nya? Melakukan shalat Subuh diluar waktunya dan melalaikan hak-hak Allah lainnya? Untuk itu, yang paling penting sebelum berperang adalah menolong agama-Nya. Allah berfirman, “…Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya…” (QS. Al-Haj: 40).

Sungguh, umat Islam hanya akan ditolong oleh Allah jika mereka menerapkan syariat Islam secara kaffah, seluruh sisi, sekecil apapun. Yaitu orang-orang yang taat beribadah kepada-Nya, teguh terhadap akidah Islam, bersikap sesuai akhlak Islam, mengikuti peraturan Allah (baik besar maupun kecil), mereka selalu tunduk terhadap peraturan-Nya. Merekalah orang-orang yang pantas memperjuangkan syariat Islam (menolong agama Allah), dan hanya merekalah yang pantas ditolong oleh Allah.

Kebathilan Akan Dihancurkan di Waktu Subuh

Dan subhanallâh lihatlah kembali Al-Quran. Bahwa Allah mengubah keadaan dunia, dari kedhaliman menuju keadilan dan dari kerusakan menuju kebaikan adalah terjadi di waktu Subuh. Subhanallâh… ini merupakan kesaksian Al-Quran. Jadi, Subuh adalah waktu perubahan ke arah kebaikan. Maka berusahalah sekuat tenaga untuk tidak tidur di waktu ini.

Lihatlah, kapan kehancuran kaum Luth? Allah membinasakan mereka di waktu Subuh. Allah berfirman, “…Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu Subuh. Bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81).

Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla mampu menghancurkan mereka kapan saja, baik siang maupun malam. Tapi, mengapa Allah memilih waktu Subuh? Tidak lain karena Subuh merupakan waktu perubahan menuju kebaikan. Karena ia merupakan waktu awal munculnya cahaya setelah kegelapan, awal munculnya keadilan setelah kedhaliman, awal munculnya kebaikan setelah kerusakan.

Begitu juga dengan kehancuran kaum ‘Adh di masa nabi Hud. Allah menghancurkan mereka dengan angin topan yang sangat dingin di waktu Subuh. Begitu juga kaum Tsamud, Allah menghancurkan mereka di waktu Subuh.

Tidak hanya kaum terdahulu, Rasulullah juga menyatakan bahwa kebathilan akan dihancurkan di waktu Subuh. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya jika kita memasuki sebuah kaum, maka peringatilah akan kehancuran mereka di pagi hari..!!” Inilah waktu perubahan, waktu jihad, dan waktu kemenangan.

Imam Mahdi, Nabi Isa, dan Dajjal

Perhatikanlah detik-detik turunnya Al-Masîh a.s. ke bumi, ternyata peristiwa itu terjadi di waktu Subuh. Sedangkan generasi yang berhak menyambut Al-Masîh a.s. hanyalah generasi yang menjaga shalat Subuhnya. Rasulullah Saw. menggambarkan keadaan saat itu dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah r.a. dan Umamah Al-Bahili r.a., bahwa Rasul bersabda, “Sesungguhnya tidak ada fitnah yang lebih besar di muka bumi ini—sejak diciptakannya Adam hingga akhir dunia—kecuali fitnah Dajjal. Dan Allah tidak mengutus nabi kecuali memerintahkannya untuk memperingati umatnya terhadap fitnah Dajjal. Dan aku adalah Nabi yang terakhir. Sedangkan kalian adalah umat yang terakhir. Dan Dajjal akan muncul di tengah-tengah kalian.”

Setelah itu, Rasulullah menjelaskan tentang sifat-sifat yang melekat pada Dajjal, dan tentang keadaan dunia saat kemunculannya. Kemudian Rasul juga menjelaskan tentang Ya’jud dan Ma’jud. Setelah itu barulah Rasul menjelaskan tentang waktu paling akhir dari kehidupan dunia. Khususnya tentang ciri-ciri kelompok Mukminin yang Isa a.s. turun kepada mereka, untuk bersama-sama menegakkan keadilan baru berdasarkan syariat Muhammad Saw.. Maka berkatalah Rasul, “Mereka berkumpul di Baitul Maqdis (Palestina).”

Kemudian Rasul melanjutkan, “Dan Imam mereka adalah seorang yang shalih. Ketika imam mereka hendak mengimami Mukminin untuk shalat Subuh, saat itulah Isa ibnu Maryam turun ke dunia.”

Ya Allah… Perhatikanlah, turunnya Isa ibnu Maryam di waktu Subuh bukanlah secara kebetulan. Tapi memang telah menjadi sunatullah bahwa perubahan itu akan terjadi di waktu Subuh. Inilah yang tertera dalam Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah.

Jadi mengapa masih ada di antara umat Islam yang tidur di waktu Subuh. Bagaimana mungkin seorang hamba Allah dan ia beriman kepada-Nya bisa lalai terhadap waktu yang sangat menentukan keadaan umat Islam masa depan.

Kemudian Rasul melanjutkan hadisnya, “Mengetahui Isa ibnu Maryam telah hadir di jamaah, Imam tersebut langsung berjalan dengan tergesa-gesa untuk mempersilahkan agar Nabi Isa mengimami shalat Subuh di saat itu. Maka berkatalah Nabi Isa sambil meletakkan kedua tangannya di bahu imam tersebut, ‘Majulah, sesungguhnya shalat ini telah ditegakkan agar kamu mengimaminya.’ Kemudian mereka shalat Subuh berjamaah tepat pada waktunya di Masjid Al-Aqsha.” Pada riwayat lainnya dikisahkan bahwa imam tersebut adalah imam Mahdi Al-Munthadhar. Subhanallâh..

Sebuah Impian
Kita sangat memimpikan suatu saat masjid-masjid dipenuhi oleh seluruh umat Islam. Mereka menantikan azan Subuh dengan penuh kerinduan. Mereka mengulang kalimat azan dan segera menuju masjid dengan tergesa-gesa. Karena mereka akan mengadakan pertemuan khusus dengan Allah Swt..

Kita sangat memimpikan ada seorang Muslim yang tertinggal shalat Subuh berjamaah, dan sepenjang hari itu ia sangat bersedih. Karena ia telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupnya. Kita juga bermimpi suatu saat syariat Islam-lah yang mengatur dunia.

Sebuah perjuangan harus kita mulai dari sini. Dari shubuh ini. Bila shubuh kita terlambat lagi, kita hanya akan melengkapi deretan generasi belakangan yang jelek dan menyia-nyiakan shalat. Negeri ini dan Islam hanya akan bangkit di tangan orang-orang yang kuat, yang punya energi Subuh. Dengarlah ungkapan Ibnu Mas’ud: “Selagi engkau berada dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Allah. Dan, siapa yang mengetuk pintu Allah, maka pintu itu akan dibukakan untuknya.”

Inilah jalan menuju kemenangan islam, Islam Rahmatan lil ‘alamin. Semoga Allah memudahkan jalan untuk menerapkan syariatnya secara sempurna.

 

Editor: Arning Susilawati