Pagi itu nuansa sedikit berkabut di bandara Tokyo Narita, suhunya sekitar tujuh derajat celcius kata pramugari di pesawat sesaat sebelum pendaratan. Begitu burung besi besar itu bersarang para penumpang turun, dan brrrr sangat dingin bagiku yang terbiasa dengan suhu kota Surabaya 29 derajat. Padahal saat itu kami keluar dari pesawat melalui lorong-lorong menuju ruang di bandara yang sangat luas itu. Aku dan partnerku terus menyusuri lorong-lorong itu melewati eskalator naik, turun, mendatar. Menahan senyum aku terus melangkahkan kaki, tidak ku sangka akan kupijaki tanah negeri impian, Jepang. Kemarin sore dengan terburu-buru dan menikmati kemacetan aku diantar temanku ke Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya untuk mengambil visa dan langsung ke Bandara Juanda. Sekitar pukul tiga sore pesawat dari Surabaya ke Kuala Lumpur berangkat.

Suara azan magrib berkumandang di Bandara Kuala Lumpur. “Masya Allah baru pertama kali naik pesawat dan sekarang sudah di negeri orang, Alhamdulilah”, batinku. Dua akhwat polos yang hanya bermodal nyali ini terus menyusuri lorong dan kami putuskan untuk keluar dari bandara sebentar. Kami naik eskalator lalu berjalan lagi kebingungan, hingga akhirnya ada mobil pengangkut yang mengantarkan kami ke tempat pemeriksaan paspor dan seorang Makcik yang sangat baik menolong kami. “Hehe. Makcik ini orang Malaysia, bener-bener kaya di animasi Upin Ipin dan Boboiboy”, aku tersenyum. Terima kasih, Makcik.

Tengah malam kami berangkat dari Kuala Lumpur ke Tokyo. Disinilah kami bertemu dengan teman-teman yang bertujuan sama, HISAS di Universitas Hokkaido, Sapporo. Kami saling berkenalan, tiga orang dari UNDIP, tiga orang dari IPB, satu orang dari UNNES dan mereka semua sudah pernah pergi ke luar negeri sebelumnya. Memang terlihat dari barang bawaan mereka dan persiapan mereka yang matang. “Tak apalah, pengalaman pertamaku”, batinku. Kami pun menaiki pesawat yang sama bahkan duduk bersebalahan.

Sesampainya di Tokyo kami terpencar karena pesawat kami ke Sapporo berbeda jadwal. Aku dan partnerku harus segera check in pesawat, karena keberangkatannya sekitar dua jam kemudian. Kami menunggu di ruang tunggu dan luar biasa orang-orang Jepang itu sangat disiplin. Mereka sudah berbaris rapi di depan pintu untuk antri pengecekan tiket dan masuk ke lapangan udara dengan diantar sebuah bis khusus. Tiap pintu itu terbuka udara dingin masuk dan aku langsung menggigil, sepertinya udara semakin dingin. Aku merasa kami menjadi pusat perhatian, karena kami berbahasa Indonesia dan berjilbab pula, tapi tidak kupedulikan karena saat itu sangat istimewa rasanya. My First Experience.

Bandara New-Shinchitose Sapporo, udara lebih dingin dan terlihat gundukan-gundukan putih salju di sekitar area bandara. Dingin sekali, pikirku. Segera kami turun, dan lagi-lagi berjalan tak tahu arah mencari stasiun kereta api bawah tanah. Kami memesan tiket dan segera memasuki kreta dan.. Subhanallah ramainya sampai-sampai kami berdiri di depan toilet. Disitu kami berkenalan dengan seorang adik kecil bersama ibunya dan tujuan kami sama. Kami mengobrol dan mencoba saling memahami, walaupun agak kesulitan. Arigatou gozaimashita, sayounara. Segera kami turun dari kereta dan bertemulah kami dengan teman-teman dari UGM dan panitia HISAS ke-12. Kami berjalan kaki menuju Universitas Hokkaido, sangat dingin rasanya darah membeku. Suhu saat itu masih minus 2 derajat sangat dingin bagiku, tetapi sudah cukup hangat bagi mereka yang sudah terbiasa. Segera kami naik ke lantai tujuh gedung tersebut untuk sholat di mushola. Masya allah, musholanya lumayan besar. Ternyata muslim disana sangat dihargai, bahkan setiap kamar mandi terdapat tempat khusus untuk berwudhu. Menurutku seperti bath tube disini. Orang-orang Jepang memiliki budaya disiplin dan kebersihan yang luar biasa. Bahkan kamar mandi tidak boleh ada percikan air, apalagi sampai basah-basah seperti di Indonesia. Jorok katanya. Alhasil kami harus mengelap-elap lantai dan peralatan hingga kering setiap kami berwudhu.

Malamnya kami berjalan-jalan ke beberapa ikon disana. Tepatnya berlari-lari karena sangat dingin. Saat itu jam 11 malam waktu Indonesia atau sekitar jam 1 dinihari disana. Jalan-jalan masih cukup ramai banyak orang yang sepertinya baru pulang kerja. Benar-benar totalitas dan penuh tanggung jawab mereka, pikirku. Esok harinya adalah hari dimana HISAS Meeting dilaksanakan. Sebelumnya ada beberapa pemateri yang luar biasa. Mereka adalah professor dan doctor yang ada di fakultas tersebut. Bahkan kami bisa bertemu langsung dengan Dr. Chairil Anwar. Orang asal Indonesia yang mengembangkan 4G. Beliau menyampaikan bahwa beliau sedang mengembangkan 5G yang kecepatanya hingga ratusan megabites. So cool.

Sesi presentasi pun tiba, kami dibagi menjadi tiga kelas berdasarkan tema paper yang kami kirim. Penelitian-penelitian yang luar biasa. Memang tidak begitu kupahami karena latar belakang ilmu yang kami miliki juga sangat berbeda. Tak apalah pengalaman yang luar biasa. Usai itu kami berjalan pulang ke apartemen tempat kami menginap bersama.

Hari berikutnya panitia mengajak kami jalan-jalan ke tempat oleh-oleh dan kebun binatang. Lagi-lagi naik kereta kecepatan tinggi, beberapa kali kami ganti kereta dan waktu yang dibutuhkan sangat singkat sekitar lima menit mungkin. Saat membeli oleh-oleh tidak boleh sembarangan, karena banyak makanan yang tidak halal tentunya. Jadi setiap makanan yang ingin kami beli harus kami konsultasikan dulu ke pihak panitia, apakah muslim diperbolehkan. Membutuhkan waktu cukup lama ternyata karena hampir setiap makanan ada saja bahan yang diharamkan. Setelah itu, kami menuju Maruyama Zoo. Kebun binatang di atas perbukitan dan saljunya masih sangat tebal namun sinar matahari disana cukup menghangatkan badan kami. Sesi foto hampir disetiap sudut kebun binatang. Kenangan yang berharga tentunya. Lalu kami berjalan terpisah karena tujuan kami berbeda. Aku dan beberapa teman dari UGM bersama satu panitia berjalan kaki pulang lewat jalan yang berbeda. Disanalah kami bertemu dengan seorang wanita yang ternyata adalah seorang penyanyi lokal disana. Lalu kami berjalan-jalan disekitar kuil dan tidak lupa pada sesi foto. Apalagi bersama artis, wiiih gak nyangka. Hingga kini kami masih terus saling sapa lewat akun facebook.

Sayang keesokan harinya kami harus pulang dengan jalur yang sama. Jalan kaki menuju stasiun kereta. Naik kreta sampai Bandara New-Shincitose dan naik pesawat ke Bandara Tokyo Narita. Lalu dari Tokyo ke Kuala Lumpur dan akhirnya kami semua berpisah mulai dari Kuala Lumpur. Sebagian ke Jakarta dan sebagian ke Surabaya. Akhirnya sampai juga di Bandara Juanda, saat itu sekitar pukul 10 di Juanda.

Sungguh beberapa hari yang menyenangkan. Tidak menyangka negeri kedua yang kucintai, Jepang. Aku pernah menjejakkan kakiku disana. Membuatku percaya bahwa ada banyak negeri yang ingin kudatangi dihari-hari selanjutnya. Semoga Allah meridhoi, Amiiin.

Penulis : Enira
Editor : Aulia

SHARE
Previous articleHikmah Di Balik Hari Raya Kurban
Next articleDoa JMMI Untuk Mina
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!