Abu Ali Ibnu Sina (908-1037). Sang Dokter-Filsuf Muslim, dikenal dengan karyanya Magnum Opus Al Qanun Fi At-Thibb dan As-Syifa (penyembuhan) yang melegenda dalam khasanah keilmuan. Hingga sekarang karyanya masih menjadi pedoman dalam bidang kedokteran di seluruh belahan dunia. Ia mendapat gelar As-Syeikh Ar-Rais (syekh tertingggi) berkat kemampuan penyembuhan yang ia miliki.

Ibnu Sina atau dikenal dengan “Avicenna” di dunia Barat, lahir di Bukhara tahun 908 Masehi. Ia merupakan anak sulung dari keluarga sederhana yang pandai bersyukur. Ayahnya, Abdullah, setelah pindah dari Asyfana ke Bukhara mendapat pekerjaan terhormat di masa pemerintahan Nuh ibn Manshur as-Samani (Raja Nuh II). Oleh sebab itu, sejak masa kanak-kanak Ibnu Sina telah bergaul dengan kalangan ulama dan ilmuwan. Ibnu Sina kecil telah mempelajari dasar agama, tata Bahasa Arab (nahwu-sharaf), dan mathiq (logika) dari guru pertamanya, Syeikh Nahawi. Di usianya yang baru sepuluh tahun ia sudah hafal dan memahami hukum-hukum yang ada di Al Quran.

Kita semua tahu bahwa Allah telah melebihkan sebagian individu dan memberi mereka sesuatu yang tidak Dia berikan kepada orang lain. Dan kelebihan itu salah satunya diberikan kepada Ibnu Sina. Kecerdasan, kemampuan berpikir logis-matematis yang ia miliki membuatnya mampu menerima berbagai macam ilmu pengetahuan dengan cepat. Ayahnya pun memberikan fasilitas pendidikan terbaik untuk Ibnu Sina dengan mencarikan guru terbaik di Bukhara. Setelah berguru pada beberapa Syekh di Bukhara, Ibnu Sina memutuskan untuk mempelajari dan mendalami ilmu kedokteran. Dalam kesehariannya, Ibnu Sina menghabiskan waktu dengan membaca berbagai macam buku kedokteran. Ia membaca buku siang dan malam bahkan saat orang lain telah terlelap. Ibnu Sina juga rutin membaca Al Quran untuk menjaga hafalannya.

Hingga suatu ketika Ibunya, Sattarah jatuh sakit. Dua dokter telah memberi penanganan pada sang ibu. Namun tidak terlihat tanda-tanda pemulihan. Saat itu, di usianya yang baru 18 tahun, Ibnu Sina mohon ijin pada ayahnya untuk memeriksa ibunya. Abdullah awalnya tidak mengijinkan, namun Ibnu Sina berhasil meyakinkan ayahnya itu. Setelah memeriksa denyut nadi, menanyakan keluhan, Ibnu Sina pergi membeli ramuan obat, kemudian meraciknya dan meminumkan pada ibunya. Selang beberapa waktu, Sattarah menunjukkan keadaan membaik dan dapat kembali berjalan.

Sejak saat itu tetangga sekitar yang sakit pun kemudian lebih memilih berobat ke Ibnu Sina. Kabar itu menyebar ke seluruh penjuru Bukhara dan sampai ke jajaran pemerintah Raja Nuh II. Mengetahui kemampuan penyembuhan yang dilakukan Ibnu Sina, salah satu pejabat kerajaan meminta Ibnu Sina untuk mengobati Raja Nuh II yang saat itu sedang sakit keras. Telah ada beberapa dokter yang memberi penanganan di Istana. Namun keadaan raja belum membaik. Dengan kemampuan analisis, diagnosis, dan ilmu pengobatan yang dimiliki Ibnu Sina, tentu juga dengan ijin Allah SWT, akhirnya Raja Nuh dapat kembali sehat. Mulai saat itu Ibnu Sina menjadi dokter pribadi Raja. Di Kawasan kerajaan itulah ia bertemu Ibnu Sahl, dokter terbaik di Bukhara yang menjadi guru sekaligus kawan baik Ibnu Sina.

Dari Ibnu Sina kita dapat belajar adab dalam menimba ilmu. Dengan kesabaran, keikhlasan, ketekunan, kecerdasan, dan kerendahan hati, ilmu yang diperoleh dapat dipahami dengan mudah. Kemudian ilmu yang diaplikasikan dengan baik dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Penulis: Imaniar Vanda Sandria || Mahasiswa Desain Produk ITS || Staff Ahli Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor: Arning Susilawati

————–

Sumber:

“Tawanan Benteng Lapis Tujuh” –Husayn Fattahi-

“Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam : Ibnu Sina, Suhrawadi, dan Ibnu ‘Arabi” –Seyyed Hossein Nasr-

NO COMMENTS