Resolusi merupakan sebuah keinginan atau impian yang menjadi tujuan dari seorang atau sekelompok manusia. Mengenai sebuah resolusi/keinginan, saya teringat kembali sebuah kajian yang mengulas cerita Nabi Yusuf yang ada di QS. Yusuf: 4-110. Mengenai takwil mimpinya saat remaja. Sebuah mimpi “Wahai Ayahaku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Lalu, Nabi Yakub menjawab ucapan anak lelakinya tersebut, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan) mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”

Mengapa Nabi Yakub mengkhawatirkan mimpi Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya? Ialah “Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.”

Saudara-saudara Nabi Yusuf pun berkata “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.”

Pada suatu malam, saudara-saudara Yusuf meminta izin kepada ayah mereka untuk mengajak Yusuf bermain pada keesokan paginya. Dibenak ayahnya, kepergian mereka adalah suatu kekhawatiran bahwa saudaranya akan asik bermain sehingga lupa untuk menjaga Yusuf. Yakub juga khawatir jika saat saudaranya lengah, Yusuf bisa saja dimakan serigala.

Pagi hari Yusuf dan saudaranya pun pergi bermain, dan sesuai rencana saudara-saudaranya tersebut, Yusuf diasingkan ke dalam sumur dan mereka pulang dengan membawa baju gamis milik Yusuf (yang berlumuran darah palsu) serta berkata “Wahai Ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf didekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan engkau tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”

Nabi Yakub menjawab dengan “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu, maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Benar. Kekhawatiran Yakub terjadi, dan hanya kepada Allah beliau menyerahkan semua urusan atas hilangnya Yusuf disisinya. Meninggalkan kepiluan kisah Yakub dan saudara-saudara Yusuf, kini Yusuf hidup di dalam sumur, hingga suatu waktu ada sekelompok musafir yang kehausan dan menyuruh sebagian orang untuk mengambil air di sumur tempat Yusuf dibuang. Ketika seorang tersebut menurunkan timbanya, dia berkata “Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!” Kemudian, mereka membawa Yusuf dan menyembunyikannya sebagai barang dagangan dan dijuallah Yusuf dengan harga yang sangat rendah yakni beberapa dirham saja, sebab musafir tersebut tidak tertarik kepada Yusuf.

Diperniagaan, seorang pembesar Mesir yang sering disebut sebagai Al-Aziz bersama istrinya membeli Yusuf sembari berkata kepada istrinya “Berikanlah tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Demikianlah Allah memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri Mesir untuk mengajarkan takwil mimpinya.

Ketika usia Yusuf beranjak dewasa, Allah memberikan kekuasaan dan ilmu kepadanya. Hingga suatu waktu, istri Al-Aziz hendak ‘berkeinginan’ terhadap Yusuf, yakni dengan menggoda dan merayu Yusuf. Namun, dengan kuasa Allah, ‘keinginan’ tersebut ditepis oleh Yusuf dengan meninggalkan bekas koyakan di gamis bagian belakang karena Yusuf berusaha menghidar dari istri Al-Aziz serta Yusuf berkata “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.”

Dan koyak dibagian belakang adalah pertanda bahwa Yusuf adalah orang yang berkata jujur. Sebelumnya, Al-Aziz percaya pada sebuah kesaksian dari keluarga perempuan (istri Al-Aziz) bahwa “Jika baju gamisnya koyak dibagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta dan dia (Yusuf) termasuk orang benar.”

Terbuktilah di mata sang Al-Aziz bahwa Yusuf tidak melakukan perbuatan buruk tersebut dan Al-Aziz menyuruh istrinya untuk meminta ampun atas dosa yang telah diperbuatnya.

Itulah awal cerita perwujudan mimpi Nabi Yusuf, mengajarkan bahwa, apapun mimpinya adalah tidak salah jika diucapkan kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut turut mendoakan ketercapaian keinginan/mimpi kita. Meskipun, ketika mimpi itu terlontar dan didengar oleh orang yang tidak kita inginkan untuk mendengarkan mimpi kita (karena biasanya orang yang demikian adalah yang tidak suka mendengar bila kita senang) dan mereka berkata tidak mungkin bahwa kita akan mencapainya, yakinlah, Allah yang akan memungkinkan terwujudnya mimpi tersebut. Seperti Yusuf yang tetap percaya bahwa mimpinya suatu saat akan menjadi kenyataan, ibarat itu pula keteguhan hatinya menuju kenyataan atas mimpinya.

Di awal jalan menuju mimpi tersebut, Yusuf menjadi korban ketidaksukaan saudara-saudaranya karena sang ayah (Yakub) lebih menyukai Yusuf daripada anak-anaknya yang lain, menghadapi godaan keimanan dari istri Al-Aziz, dan akan masih banyak lagi serentetan peristiwa perjuangan nabi Yusuf memperjuangkan “sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Satu poin, bahwa tajamnya keimanan dengan paket keilmuan yang kuat akan membawa manusia menjadi muslim yang dinantikan kehadirannya, ketiadaannya menimbulkan rindu, serta keberadaannya membawa manfaat. Waallahu A’lam.