Dalam lembaran sejarah, di dunia Islam telah membangun rumah sakit berlevel tinggi. Mulai desain bangunan hingga manajemen pengelolaan, sekaligus menjadi fakultas-fakultas ilmu kedokteran.Bîmâristân melahirkan dokter-dokter handal dan mencetuskan berbagai karya dalam bidang kedokteran. Inilah yang menginspirasi teknologi kedokteran di Barat sekarang. Untuk tahu apa arti kata dari Bîmâristân dan apa yang membedakan dengan Hospital dan Rumah sakit (baca Sebut Bîmâristân’Bukan Rumah Sakit)

Kemegahan
Bîmâristân

Dr Mushthafa As-Siba`i menulis dalam bukunya “Min Rawai` Hadlaratina”, tentang desain dan rencana pembangunan Bîmâristân.Sejak awal para dokter memilih tempat yang baik untuk pembangunan Bîmâristân.

Misalnya saja, rumah sakit Adhudi Baghdad yang dibangun oleh Daulah Bin Buwaih tahun 371 H. Untuk mengetahui kondisi kebersihan lingkunganya, dokter ar-Razy menempatkan empat buah daging mentah selama satu malam di beberapa penjuru. Setelah pagi tiba, tempat daging yang paling segar dipilih sebagai tempat pilihan berdirinya Rumah sakit. Ini sebuah tanda bahwa dilingkungan yang bersih, pasti sedikit kuman yang memakan daging itu.

Adapun pengelolaan di mayoritas seluruh ‘Bîmâristân’ sebagai berikut. Laki-laki dan perempuan dirawat di ruangan berbeda.

Ruangan pun di desain sesuai dengan berbagai jenis penyakitnya. Ada ruangan penyakit dalam seperti sakit mata, jantung, tulang. Ada pula khusus penyakit bagian luar. Setiap bagian terdiri dari para dokter dan dikepalai dokter ahli yang biasa disebut dengan ‘Sa`ur’.

Kamar-kamar, perabotan dan alat-alat kesehatan tertata dengan sangat bersih dan steril. Pembersihan ini dilakukan oleh beberapa pegawai dengn gaji tertentu.

Dalam setiap ‘Bîmâristân’ terdapat apotik yang berisi berbagai macam obat-obatan.

Penangan pasien dilakukan dengan penuh perhatian. Jika penyakitnya tergolong ringan, maka dia cukup diperiksa dan diberi obat. Namun, jika butuh opname maka namanya akan dicatat, dibersihkan di kamar mandi, diberi pakaian khusus, dan ditempatkan di ruangan sesuai jenis peyakitnya. Pemberian makanan dengan piring dan gelas berbeda dan tidak boleh digunakan pasien lain.

Dalam tahap penyembuhan, pasien akan dipindahkan diruangan khusus. Untuk mempercepat proses penyembuhan, pihak ‘Bîmâristân’ akan melakukan pertunjukan komedi. Jika telah benar-benar sembuh maka dia diberi pakaian baru dan uang ‘pesangon’ sampai pasien tersebut benar-benar bisa bekerja dan beraktifitas secara normal. Namun, jika meninggal akan dikafani dan dikebumikan secara terhormat. Model ‘service’ seperti ini berlanjut di Mesir hingga Tahun 1798 M yang membuat orang prancis berdetak kagum.

Analisa Perbandingan

Kondisi rumah sakit eropa pada masa ‘dark ages’ sangat memprihatinkan. Max Turdeau dan Tenon menggambarkan rumah sakit Atutille Dieux Paris sebagai dikutip Dr. Mushthafa As-Siba`i: “Serambi-serambinya pengap, tidak berventilasi. Ada sekitar 800 pasien tidur terlentang, bertindihan, anak-anak kecil berdampingan dengan orang tua. Perempuan berbau dengan laki-laki. Perempuan kritis mau melahirkan disamping anak-aak terserang ‘typhus’. Pasien ‘korengen’ menggaruk nanah di kulit dan menetes di selimut. Kasur-kasur berbau dan menjadi sarang serangga. Sehingga perawat yang masuh menutup hidugnya dengan bunga karang bercuka di hidung mereka”. Inilah gambaran singkatnya.

Para dokter Eropa pun kurang mengetahui tekhnik pengobatan. Laporan Usamah bin Munqidz dalam Kitab “al-I`tibar” bisa dijadikan acuan. Penguasa al-Manaitaharah meminta mengirimkan dokter bernama Tsabit untuk mengobati beberapa tentara yang terkena bisul. Tsabit hanya memberikan air hangat pada prajurit hingga bisu pecah. Di satu sisi Tsabit heran melihat dokter tentara salib, dia berkata kepada pasien lain “mana yang kau pilih, hidup dengan satu kaki atau mati dengan dua kaki ?”. Prajurit lain menjawab “hidup dengan satu kaki”. Akhirnya dokter itu menyuruh memotong kakinya. Darah mengalir deras pada tebasan pertama. Karena belum putus, patas di tebas sekali lagi. Akhirnya prajurit bisulan itu mati dengan kaki terputus. Inilah gambaran rumah sakit dan dokter Barat waktu itu. Sumber 

Kesimpulan
Inilah konsep besar dalam islam, bahkan menurut Dr Emilie Savage-Smith dari St Cross College di Oxford, islam adalah peradaban pertama yang memiliki rumah sakit. Menurut dia, rumah sakit pertama di dunia dibangun Kekhalifahan Abbasiyah di kota Baghdad, Irak sekitar tahun 800 M. ”Rumah sakit  yang berdiri di Baghdad itu lebih mutakhir dibandingkan rumah sakit di Eropa Barat yang dibangun beberapa abad setelahnya,” paparnya  dalam halaman berikut .

Dari sini kita tahu bahwa islam mempunyai sejarah yang kuat dalam membangun dunia. Bukan saatnya lagi fakta kebesaran islam ini hanya dijadikan dongeng bagi kita. Maka marilah bersama-sama kita menggali kembali peradaban islam, karena fase ini adalah fase dimana bukan saatnya kita menjadi penonton karena ini saatnya umat islam tampil ke gelanggang untuk menjadi inisiator perubahan, membawa perubahan bagi bangsa, dan agama ini.

SHARE
Previous articleSebut Bimaristan bukan Rumah Sakit
Next articleIlmu dan Adab Tidak Dapat Dipisahkan
lahir di Malang, 13 Oktober 1994, setelah lulus dari SMAN 71 Jakarta penulis melanjutkan studi di ITS jurusan Teknik Sipil. Selain sebagai akademisi, penulis juga aktif di dunia dakwah dengan menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Dakwah Jurusan JMAA pada 2013-2014 dan saat ini mengemban amanah Kepala Departemen Islamic Press LDK JMMI 2015-2016.