Apa yang terpikir ketika kita memasuki bulan Dzhulhijah terlebih ketika akan masuk pada tanggal 10 Dzulhijah?

Bulan Dzulhijah merupakan salah satu bulan di kalender hijriah yang tenar dengan musim haji dimana pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji menunaikan wukuf di Arafah (salah satu rukun haji) dan melaksanakan juga hari raya Kurban (idul adha).

Awal Mula Perintah Kurban

Kurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban juga disebut dengan al-udhhiyyahdan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.(1)

Berkurban, telah Allah perintahkan pertama kali pada zaman Nabi Adam As yakni kepada dua putra beliau untuk berqurban dengan harta terbaik yakni Habil yang berprofesi sebagai petani dan Qabil seorang peternak.(2)

Di dalam Al-Qur’an disebutkan dalam Al-Maidah ayat 27 bahwa “Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam (habil dan Qabil), ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Pun identik dengan cerita dua putra Adam untuk menunaikan kurban, adalah Nabi Ibrahim juga diperintahkan Allah untuk berkurban yakni dalam QS. As-Saaffaat ayat 102, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Kurban pada zaman nabi Ibrahim berawal dari perintah Allah untuk menguji keimanan pada diri nabi besar Ibrahim. Di awali dengan kondisi Ibrahim yang belum mempunyai keturunan hingga suatu waktu, Ibrahim berdoa (QS. As-Saaffaat: 100), “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shaleh.”

Lalu Allah menghadiahkan Ismail sebagai putra pertama dari ibunda Siti Hajar. Sejak kelahiran hingga usia sekitar tujuh tahunan, Ismail dirawat oleh sang Ibu, dengan penanaman akhlak yang baik, Ismail pun tumbuh menjadi anak yang penyabar, cekatan serta elok rupawan. Dan beberapa saat kemudian, nabi Ibrahim mengunjungi keduanya.

Dalam pertemuan tersebut, datanglah perintah Alllah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail (QS. As-Saaffaat: 102) dimana Ismail menyetujui untuk dirinya disembelih. Namun, ketika tiba waktu penyembelihan, datanglah setan seraya berkata, “Ibrahim, kamu orang tua macam apa? Anak sendiri disembelih? Apa kata orang nanti? Apa tidak malu? Tega sekali, anak satu-satunya disembeli!…“

Pertanyaan-pertanyaan setan tersebut tidak mampu menggugah niat baik Ibrahim untuk menyembeli Ismail. Adapun yang dilakukan Ibrahim adalah dengan mengambil batu sembari mengucapkan, “Bismillah. Allahu akbar.” Dari kegiatan melempar batu tersebut, akhirnya sampai detik ini dijadikan salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.(3)

Usai melempar batu, Ibrahim melanjutkan prosesi penyembelihan yakni dengan membawa Ismail ke suatu tempat yang sepi di Mina diamana sebelum disembelih, Ismail mengajukan tiga syarat yakni pisau yang digunakan harus tajam, menutup wajah (agar tak timbul rasa ragu dalam hatinya) dan ketika selesai penyembelihan telah, pakaiannya yang berlumur darah dibawa kepada ibunya, sebagai bukti bahwa qurban telah dilaksanakan. Keduanya pun berserah diri pada Allah untuk menunaikan penyembelihan tersebut.(2)

Namun ketika pisau akan mendarat menuju pelipis Ismail, Allah berfirman pada QS: As-Saffat ayat 103-105 yakni “(103) Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). (104) Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!” (105) Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Pada saat pisau telah diarahkan ke arah leher Ismail, lalu Allah SWT menggantikannya dengan seekor domba yang besar. Dengan demikian, nyatalah kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dan untuk meneruskan kurban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Ayat tersebut pula yang menjadi dasar disyariatkannya kurban yang dilakukan pada hari raya kurban atau idul adha atau hari raya haji.

Maka, dari awal mula perintah kurban inilah Allah hendak melihat ketaatan, ketakwaan, serta kedekatan umat terhadap-Nya.

Footnote1

Footnote2

Footnote3

 

  • http://act.id Ariawan Handi

    alhamdulillah terimakasih atas artikel kurbannya semoga bermanfaat.