Islam adalah agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia hari ini. Dimana jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sesuai data sensus tahun 2010 adalah sebesar 237.556.363 jiwa, dan 58% nya bertempat tinggal di pulau Jawa.

Jika kita melihat angkat yang sangat besar diatas, sudah sepantasnya kita berpikir bahwa pasti ada suatu karya besar yang terlahir dari orang-orang hebat sehingga Indonesia bisa menjadi negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Menilik kembali sejarah perkembangan Islam di Indonesia, maka akan kita dapati bahwa Islam lah yang menjadi jati diri bangsa Indonesia, dan berkat kerja keras serta keikhlasan para tokoh-tokoh Islam pula, Indonesia menjadi negara berkembang.

Berawal dari berdirinya kerajaan Samudra Pasai di Aceh, kerajaan Demak di Jawa Tengah sekaligus membawai kerajaan Cirebon, Jayakarta, Banten yang menjadikan penyebaran Islam menjadi sangat pesat di nusantara. Dampak dari pesatnya penyebaran islam di pulau Jawa, menyebabkan Indonesia masuk di bawah wilayah kekuasaan Turki Ustmani selama lebih dari 500 tahun.

Melihat kemajuan Islam di Nusantara pada tahun 1402 M, membuat Sultan Muhammad I sebagai pemimpin tertinggi Turki, membetuk tim dakwah terdiri dari sembilan orang yang berasal dari daerah timur tengah dan Afrika Utara untuk dikirim ke pulau Jawa yang saat ini kita kenal dengan sebutan walisongo. Ketua dari tim dakwah walisongo ini bernama Maulana Malik Ibrahim.

Maulana Malik Ibrahim memiliki nama lain Kakek Bantal, Sunan Thandes, Wali Quttub, Sayyidul Auliya’ Wali Sanga, Mursyidul Auliya, dan Sunan Gribig. Beliau adalah putra dari Syekh Jumadil Kubra yang dianggap termasuk garis keturunan Rasulullah Saw, walaupun hal ini masih terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ahli sejarah.

Maulana Malik Ibrahim tiba pertama kali di Indonesia pada tahun 1402 m di kota Gresik. Syekh Maulana adalah seorang ahli di bidang irigasi dan tata negara, hal tersebut terbukti pada saat beliau ditugaskan membangun sistem irigasi di daerah Hindustan yang pada saat itu merupakan daerah dibawah kerajaan Mongolia. Melihat keahlian beliau tersebut tak heran Sultan Muhammad I mengirim beliau untuk berdakwah di pulau jawa yang memiliki tanah yang sangat subur. Pada saat kedatangan beliau, kota Gresik saat itu masih dibawah tonggak kepemimpinan kerajaan Majapahit. Kondisi masyarakat Gresik saat itu mengalami krisis pasca Perang Paregreg

Melihat masyarakat yang kesusahan dan sangat menderita tersebut membuat hati nurani Maulana Malik Ibrahim terenyuh dan dengan berdasar pengalaman beliau yang hebat di bidang Teknik Sipil, serta melihat banyaknya hutan, ladang dan persawahan sebagai mata pencaharian utama masyarakat maka Syekh Maulana merasa pembangunan irigasi sangatlah penting agar masyarakat dapat melanjutkan hidup. Hal pertama yang dilakukan adalah membangun bendungan dari aliran sungai Bengawan Solo, dan air dari bendungan tersebut dipergunakan untuk mengairi sawah milik warga. Berkat karya tersebut masyarakat di Gresik dapat panen 2-3 kali dalam setahun.

Hasil bangunan sistem irigasi karya Syekh Maulana Malik Ibrahim ini menjadi pusat percontohan sistem irigasi terbaik di jamannya. Dan para petani dari berbagai daerah berbondong-bondong belajar dan melihat bagaimana sistem pengairan sawah terbaik tersebut. Tak hayal Syekh Malik menjadi menjadi sangat disenangi oleh masyarakat maupun para tokoh pada saat itu.

Melihat peran besar syekh Maulana kita bisa lihat betapa terangnya kubur dari syekh Maulana Malik Ibrahim  karena jasa beliau yang terus kita rasakan manfaatnya hingga hari ini. Karya besar dari Maulana Malik Ibrahim adalah suatu bukti bahwa hari ini Indonesia berhutang besar terhadap para Walisongo.

Editor: Arning Susilawati