Al kisah seorang mahasiswa kurang mampu tinggal di sebuah kontrakan. Ia telah lama tinggal disana dan sayangnya dua bulan ini ia belum mampu melunasi pembayarannya. Suatu hari, datanglah ibu pemilik kontrakan menemui sang mahasiswa.

“Assalamualaykum dik, bisa bicara sebentar? “ kata sang ibu sambil membuka pintu rumah yang kebetulan sedikit terbuka.

Sang mahasiswa yang kebetulan ada di ruang tamu pun menjawab, “Silakan Bu, ada apa?” kata sang mahasiswa kaget melihat ibu yang tumben tumbennya datang ke kontrakan.

Firasatnya pun mengatakan bahwa sang ibu pemilik kontrakan datang untuk menagih uang tunggakan kontrakan. “Jadi begini Dik,“ sang ibu memulai percakapan yang alih–alih menagih uang ternyata beliau justru menawarkan kontrakan tersebut kepada sang mahasiswa.

Sang ibu melanjutkan, “Saya ingin menjual kontrakan ini, saya kira Adik yang mampu membelinya.“

Kaget bukan kepalang sang mahasiswa tersebut diminta untuk membeli kontrakan yang selama dua bulan ini belum dibayarnya. Namun ia sebenarnya yakin dan optimis bisa membelinya, “Kesempatan tidak datang dua kali“ kata mahasiswa tersebut dalam hati.

Dengan percaya diri mahasiswa tersebut menjawab, “InsyaAllah Bu, berapa Ibu tawarkan harganya?”

“300 juta, Nak“ sang ibu menyebutkan harga rumah besar itu sambil tersenyum.

“Baik Bu, InsyaAllah tiga minggu lagi saya bayar DP nya!“ sang mahasiswa menjawab tanpa pikir panjang.

Ternyata hingga tiga minggu setelah kesepakatan sang mahasiswa masih belum juga punya uang untuk membayar, padahal ia telah mencoba berbagai cara, bekerja dan berdoa. Ia pun memutuskan untuk mendatangi sang ibu kontrakan.

“Bu, alhamdulillah sampai saat ini saya masih ada sedikit uang namun belum cukup untuk membayar DP,“ sang mahasiswa menyatakan ketidaksanggupannya dengan senyum dan tanpa beban.

“O begitu ya Dik, kebetulan juga kemarin ada yang menawar dan siap membayar DP, tapi saya bilang masih nunggu keputusan Adik, kalo tidak jadi tidak apa,” sang ibu memaklumi.

Si mahasiswa tersebut lantas berterimakasih karena telah diberi kesempatan, sang ibu kontrakan juga dengan tetap menghormati sang mahasiswa tersenyum.

Sang mahasiswa tidak pernah menyesali apapun dalam keputusannya menerima tawaran untuk membeli rumah tersebut, ia tetap yakin dan optimis bakal bisa membeli rumah. Singkat cerita, rumah kontrakan tersebut telah dibeli oleh seorang kaya, yang kemudian mendatangi mahasiswa tersebut sambil menjelaskan, “Rumah ini telah saya beli Dik, tapi Adik tidak usah pindah, saya butuh orang untuk menjaga rumah ini. Adik saya minta untuk tetap disini, dan Adik tidak saya anggap mengontrak. Adapun tunggakan adik tiga bulan lalu telah saya lunasi ke pemilik sebelumnya.“

Sang mahasiswa tersebut tersenyum lebar dan sangat senang dengan berita tersebut. Ia tidak menyangka, bahwa doanya terkabulkan untuk dapat memiliki rumah tersebut meskipun dengan cara yang berbeda.

Tentu cerita diatas adalah cerita fiksi yang di ceritakan oleh ustadz Yusuf Mansur saat berkunjung ke kampus ITS Sukolilo siang tadi (06 Agustus 2015). Beliau memberi contoh sosok mahasiswa yang pola pikirnya sangat positif. Tak pernah satupun kata negatif yang ia ucapkan. Dalam keadaan tidak punya uang ia tidak lantas mengiba, namun justru bersyukur mengucap “Alhamdulillah.“ Saat segala usaha dan doanya masih belum membuahkan hasil, ia tetap saja yakin dan tak pernah sedikitpun menyerah.

Menurut Ustadz yang dulu memiliki nama Jam’an Nur Khatib Mansur ini, kelemahan umat islam khususnya masyarakat Indonesia saat ini adalah selalu negative thinking atau pola pikirnya selalu negatif. Bukannya memperlihatkan kemampuan dan kelebihannya tapi justru cenderung menceritakan kelemahannya pada orang lain, menceritakan permasalahannya seakan–akan orang lain juga harus turut merasakannya. Seperti, pernah suatu ketika ada salah seorang pejabat berpidato di depan umum. Dalam mukadimahnya ia terus menerus menceritakan keterbelakangan, bencana dan musibah yang menimpah Indonesia tanpa sedikitpun keluar kata yang positif dari mulutnya.

Menurut Ust. Yusuf Mansur, setiap manusia memiliki masalah, tinggal bagaimana orang menyikapinya. Orang-orang yang sukses mengolah masalah menjadi peluang untuk maju, ia tidak menceritakan latar belakang masalahnya hingga berniat memohon belas kasih namun justru memohon doa agar ia mampu bangkit dan menolong yang lain. Berbeda dengan orang yang jauh dari keberuntungan, mereka hanya bisa mengeluh.

Pola pikir positif itu berangkat dari rasa yakin percaya diri akan kemampuan yang Allah berikan untuk melakukan sesuatu. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan manakala Allah Yang Maha Kuasa bersama kita. Saat keyakinan dan percaya diri itu tumbuh melekat dijiwa seseorang, maka apapun masalahnya akan ia hadapi dengan senyuman, direspon secara positif. Respon positif inilah yang akhirnya mengahantarkan seseorang pada keberhasilannya.

Hingga sebagai penutup tausiyahnya, beliau mengingatkan seluruh hadirin terutama warga ITS untuk memulai merubah mindset nya agar selalu positif. Dream, pray and act adalah contoh nyata aplikasi berpola pikir positif. Berani bermimpi jauh, selalu berdoa, dan tidak lagi menunda aksi untuk memulai langkah baik.

“Jika bermimpi aja kagak berani, gimana mau didapetin tuh cita-cita,” pungkas beliau.

Penulis: Ferdion Firdaus || Staff Islamic Pers JMMI 1516
Editor  : Muhammad Aulia