Di akhir bulan Ramadhan 1436 H, Hafid Lutfan Ihwani, Mahasiswa Jurusan Teknik Fisika ITS angkatan 2012 berkesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam acara International Optical Society of America Network Student (IONS) Nanjing 2015, di Nanjing University, China. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2015 s.d. 12 Juli 2015 ini diselenggarakan oleh Optical Society yang merupakan organisasi internasional bidang optik dan fotonika yang berisikan akademisi, ilmuan, ataupun pengusaha di bidang tersebut.

Tujuan utama dari acara IONS Nanjing 2015 adalah sebagai ajang pertemuan anggota dari setiap student chapter dari berbagai negara untuk mempublikasikan hasil penelitiannya, mempresentasikan sistem managemen masing masing student chapter, dan menjalin jaringan dalam pengembangan bidang tersebut. Sebagai satu-satunya delegasi Indonesia yang mewakili Optical Society of AmericaITS Student Chapter, saya berkesempatan untuk mempresentasikan sistem managemen Student Chapter Osa di ITS dan menampikan poster Penelitian tentang dermoscope (bidang Teknik Biomedis).

Sisi lain dari kegiatan IONS Nanjing 2015, bertepatan pula dengan bulan Ramadhan, tak lengkap rasanya jika tidak mengamati lingkungan masyarakat muslim Nanjing. Pada bulan Ramadhan, dari segi waktu terdapat perbedaan antara Waktu Indonesia Barat (WIB) dengan kota yang pernah menjadi ibukota negara China sebelum kota Beijing ini adalah 1 jam, yakni lama puasa di Kota Nanjing, Provinsi Jiansu, China, selama 16,5 jam terpaut hanya 1,5 jam dengan lama puasa di Indonesia. Dari jumlah penduduk, meskipun Islam adalah agama minoritas di negeri Tirai Bambu ini, tetapi tetap tersedia beberapa warung makan muslim di sekitar Nanjing University dengan harga yang cukup terjangkau +8 Yuan s.d. 18 Yuan (Rp 16.000,- s.d. Rp.36.000,-) dengan porsi dua kali lipat makanan Indonesia.

Di daerah Nanjing sendiri terdapat tiga masjid, dua di antaranya bernama Masjid Zhujianglu dan Masjid JingJue. Ketika menjelang buka puasa, kebersamaan muslim terlihat dari mereka yang berkumpul di masjid untuk melaksanakan buka puasa bersama dimana menu buka telah disediakan oleh pengurus masjid setempat. Momen tersebut tidak hanya sebatas untuk mendapatkan buka puasa saja, tetapi juga sebagai sarana silaturrahim untuk mempererat ukhuwah diantara mereka, yang mungkin sulit untuk mereka dapatkan di bulan lainnya.

Mereka begitu ramah, terhadap sesama muslim yang lain, termasuk muslim dari luar China. Setiap kali bertatapan dengan muslim yang lain, mereka langsung menyalaminya dengan jabat tangan yang erat sembari mengucapkan “Assalamualaikum.” Suatu hal yang kadang kala terlupakan bagi beberapa muslim di Indonesia, karena hanya menyapa sesama muslim yang lain dengan sapaan, hai, selamat pagi, ataupan hanya sebatas dengan senyuman.

Keguyupan muslim di kota Nanjing saat buka puasa di ruang bawah Masjiid Zhujianglu, yang terletak hanya 500 meter dari Nanjing University
Keguyupan muslim di kota Nanjing saat buka puasa di ruang bawah Masjiid Zhujianglu, yang terletak hanya 500 meter dari Nanjing University

Di samping itu, saat sholat wajib dan sholat tarawih, jumlahnya tidak kalah saat waktu berbuka puasa. Selepas adzan berkumandang mereka bersegera menuju tempat wudhu dan masjid. Ada hal unik dari muslim Nanjing di antaranya yaitu beberapa muslim menyimpan gamis mereka di dalam masjid yang digantung secara berjajar, sehingga ketika tiba waktu sholat memudahkan mereka untuk mengenakan kembali tanpa harus membawanya pulang. Selain itu, selepas sholat bagi mereka yang tidak memiliki keperluan, berkumpul terlebih dahulu secara melingkar untuk mendengarkan pembacaan kitab Riyadhus Shalihin.

Suasana sholat berjamaah di Masjid Zhujianglu
Suasana sholat berjamaah di Masjid Zhujianglu

Salah satu masjid yang memiliki nilai sejarah Islam yang kuat bagi perkembangan Islam di China, yaitu Masjid JingJue, yang terletak di daerah Shansan, Nanjing. Dibangun saat Dinasti Hungwo Ming, masjid ini menjadi masjid tertua di kota Nanjing. Dengan luas + 4000 m2, di dalam komplek masjid ini terdapat beberapa ruang penginapan, sekolah dasar, ruang pertemuan, dan halaman yang cukup luas. Berdasarkan cerita setempat, masjid ini adalah tempat berkumpulkan kebanyakan muslim di Nanjing saat sholat Jumat.

Kondisi Masjid JingJue dan suasana saat Sholat Jumat berlangsung
Kondisi Masjid JingJue dan suasana saat Sholat Jumat berlangsung

Sekian ulasan pengalaman saya selama di Nanjing, semoga mampu menjadi nilai tambah bagi kita sebagai bagian umat Islam di dunia bahwa kita juga memiliki saudara sesama muslim di belahan negara lain yang juga perlu untuk dipelajari dan meningkatnya ukhuwah Islamiyah bagi sesama umat Islam.

——-

Penulis: Hafid Lutfan Ihwani – Direktur FSLDK JMMI ITS 1516 || Editor: Arning Susilawati