Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih akrab disapa Buya Hamka adalah sosok ulama yang menomorsatukan akidah dalam setiap aktivitasnya dari sejak remaja hingga akhir hayat.

Hamka pernah bersekolah di Sekolah Desa namun tidak tamat. Tidak tamatnya tersebut tidak menyulutkan semangat dan niat beliau untuk menjadi manusia yang berguna.Sehingga yang dilakukan ulama kelahiran Maninjau, 17 Februari 1908 itu adalah semakin banyak membaca buku. Dari mulai buku agama Islam, sejarah, sosial, politik maupun roman, dan buku-buku tersebutlah yang semakin membukakan hati Hamka untuk melihat luasnya dunia. Ketika usia 13-14 tahun, beliau telah membaca tentang pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh seperti Djamaluddin Al-Afgani dan Muhammad Abduh yang keduanya dari negeri Arab, sedangkan untuk dalam negeri (tepatnya Jawa) Hamka sering membaca pemikiran dari HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, H. Fachruddin, dan masih banyak lagi sehingga semakin membuat wawasan politiknya semakin luas.

Kelihaian dalam berpolitik dan pemahaman agama yang luas membuat lelaki ahli bela diri tanah Minang tersebut disegani oleh petinggi-petinggi negara Indonesia dan luar negeri seperti Arab. Buktinya, Hamka pernah menjadi Ketua Front Pertahanan Nasional (1947), Ketua Sekretariat Bersama Badan Pengawal Negara dan Kota (1948), pegawai negeri Departemen Agama RI (1950), anggota kontituante RI yang berfungsi untuk merumuskan ideologi negara (1955-1957) hingga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama (1975-1979). Dari menjadi ketua MUI inilah diputuskan bahwa mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada kaum nasrani di haramkan dan sejak adanya pro dan kontra mengenai keputusan tersebut Hamka memilih untuk mengundurkan diri.

Sederet rentetan prestasi yang diraih Hamka, membuat orang terkagum dan bertanya apa, siapakah, dan bagaimanakah semua itu terjadi? Dari segi ruhiah, Hamka dikenal sebagai seorang yang taat dalam beribadah, menyayangi keluarga, dekat dengan masyarakat. Pernah suatu waktu, Hamka berkata kepada Irfan anaknya terkait pegangan hidup, “Pegangan hidup Ayah dalam menghadapi perjuangan hidup ini adalah niat karena Allah harus diyakini, tidak terombang ambing dengan niat yang lain. Jangan merasa takut, gentar, mudah menyerah. Harus tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan berpikir jernih.”

Dari lingkungan keluarga, Hamka menikah dengan Siti Raham Rasul, darinya dikarunia anak sebanyak 10 orang anak, 7 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Irfan berpendapat “Akhlak Buya Hamka, tercermin juga dalam diri dan akhlak Ummi (Ibu) sebagai seorang perempuan yang hidup bermasyarakat, seorang istri, sekaligus juga sebagai ibu bagi anak-anaknya.”

Istri Hamka, dikenal sebagai perempuan yang mencintai silaturrahim baik keluarga dan membantu siapa pun yang sedang kesusahan. Kesetiaan istri Hamka tercermin saat Hamka di tahan oleh rezim Soekarno. Saat dimana karya-karya hamka dibumihanguskan, dan saat itu pula Hamka berhasil menghasilkan tulisan berupa tafsir 30 juz Al-Qur’an. Kesukaannya dalam menulis melahirkan karya-karya yang banyak diminati, terbukti dengan beredarnya buletin dan opini hingga ratusan semenjak era Orde Baru, ceramah agama yang disiarkan di RRI dan TVRI yang tidak terhitung rekamannya serta karya-karya yang tidak hanya terfokus pada satu bidang, melainkan banyak bidang diantaranya ilmu-ilmu keislaman, politik, sejarah, budaya dan sastra misalkan Tasawuf Modern, Kenang-Kenangan Hidup (I, II, III), Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Seorang yang besar terlahir dari semangat juang yang besar pula. Dengan berlandaskan niat hanya untuk Allah. Berusaha sekuat mungkin untuk mencari ilmu meskipun banyak rintangan yang mengahadang, tetapi semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain tetap terpatri dalam nikmatnya membaca buku. Ketika membaca telah sampai pada titik paham, aplikasi dari itu akan sangat membantu dalam menjalani hidup. Kata Hamka bahwa “Jangan jadi pendendam sebarat apapun cobaannya.” Ketika semua orang menyalahkan, tetaplah berpegang teguh pada Allah, karena Dia yang membenarkan melalui cara-caranya yang istimewa.

Dari seorang Hamka yang besar namanya itu, saya menyimpulkan bahwa yang diperlukan dalam hidup itu adalah meluruskan niat karena Allah dengan tetap mencari ilmu tentang cara mendekati-Nya, menuntut ilmu dengan membaca setiap apa yang terjadi pada manusia, berperilaku yang baik terhadap ciptaan-Nya, serta menulis jangan dilupakan. Sekian.

Buku Ayah

Buku: Ayah, Kisah Buya Hamka (Masa Muda, Dewasa, Menjadi Ulama, Sastrawan, Politisi, Kepala Rumah Tangga, Sampai Ajal Menjemputnya) Cetakan IV || Tahun: 2013 || Oleh: Irfan Hamka || Penerbit: Jakarta-Republika

—-

Penulis Resensi: Arning Susilawati || Editor: Aul

NO COMMENTS