Jalan hidup seorang pewaris bumi merupakan sebuah jalan  ditempuh dengan jalan yang panjang. Ketika dimulai kehidupan yaitu ditiupkannya roh kedalam rahim ibu kita, maka sejak saat itu lah kita mendapat anugrah yaitu sebuah kehidupan. Proses panjang untuk menjadi manusia seutuhnya sebagai wakil Allah di bumi ini dipahami manusia ketika masih balita. Ketika merangkak adalah cara untuk berjalan maka dia akan merangkak, ketika berjalan adalah cara untuk berlari maka dia akan berlari. Begitulah proses untuk melakukan hal yang lebih baik dengan cara evaluasi pada setiap hal yang telah kita lakukan.

Muhasabah atau yang dikenal dengan evaluasi diri merupakan cara seorang tokoh besar Islam yang terkenal kuat dan tegas  di era Rasuluallah yaitu ‘Umar r.a. beliau menyampaikan kepada kaum muslimin bahwa “hisablah diri kalian sebelum Allah menghisab kalian”. Hal ini sebagai peringatan dan motivasi untuk menilai kegiatan yang telah kita lakukan baik dalam bentuk ucapan, perbuatan atau yang lainnya sebagai bentuk evaluasi diri sebagai tindakan konkret menjadi seorang muslim yang selalu rendah hati dan tidak congkak. Dengan banyaknya hal negatif pada diri kita maka perbaikan harus segera diupayakan dalam bentuk amal sholeh yang nyata.

Perbaikan dalam rangka menjadi pribadi yang lebih maju sepatutnya mendapat tantangan spesial dari musuh – musuh kaum muslim. Setan adalah musuh paling nyata umat islam yang mempunyai tendensi mendorong manusia jauh dari sifat muhasabah karena setan menghijabi hati kita dengan kesombongan. akan tetapi musuh yang paling besar bagi manusia adalah manusia itu sendiri. Itulah mengapa kita sebagai manusia sangat rentan untuk digoda oleh setan laknatullah.

Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya saya berkaca untuk meneliti tubuh iniseakurat  mungkin mulai ujung rambut hingga ujung jari sesering mungkin guna memperbaiki kualitas iman dan taqwa serta amal – amal shaleh lainnya. Hal penting dalam hidup saya sebagai awal untuk evaluasi adalah meluruskan kemabali niat. Karena niat berhubungan dengan keikhlasan dan segala bentuk ibadah adalah bentuk otentik kepasrahan kepada Allah. Maka niat itu haruslah seikhlas mungkin dalam beribadah karena niat adalah fajar di ufuk timur. Meluruskan niat dalam menuntu ilmu menjadi urgensi bagi diri saya. Saya yang diterima di kampus ini yakin dapat membawa kebahagian di wajah kedua orang tua. Akan tetapi rapuhnya niat saya selama tinggal dan belajar di Surabaya telah termaksum dan itu membuat diri ini tersiksa secara batin. Tujuan awal saya datang disini adalah menuntut ilmu, namun saya sendiri harus memaksa untuk membuka diri kepada siapapun. Karena bisa jadi manusia lain yang menjadi teman atau lawan adalah tempat untuk menanam embrio amalan – amalan shaleh dan bermanfaat. Dari senyuman kepada teman sudah dianggap sedekah dan mendengarkan lawan mengolok adalah referensi muhasabah.

Seperti kalimat pembuka diatas bahwa manusia di bumi adalah pewaris tunggal yang diberi mandat secara eksklusif oleh Allah untuk mengatur bumi dan memanfaatkan apa yang ada di dalamnya. Untuk urusan ini, manusia bahkan saya sendiri sering dihinggapi kelalaian. Kerusakan alam, ketimpangan neraca sosial dan keadialan adalah bukti bahwa kita adalah penyebabnya. Bumi dengan segala kenikmatannya sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan manusia (human needed) akan tetapi tidak untuk memenuhi keinginan tinggi manusia (human desire) yang relatif tinggi. Sebagai seorang muslim yang beriman terhadap Al-quran maka sudah sewajibnya dimulai dari saya untuk melaksanakan perintah-perintah ayat yang ditulis Allah dan sunnah-sunnah rasul sebagai standard operational procedure dalam menjalankan tugas sebagai khalifatullah di buminya sebelum datang suatu bencana.

Momentum awal tahun baru 2015 mungkin akan menjadi momentum spesial bagi sedikit atau banyak saudara muslim kita di tanah air. Harapan dan doa yang dipanjatkan agar kehidupan di tahun 2015 menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Apabila momen muhasabah dijadikan agenda tahunan mungkin kita akan lupa dengan kejadian atau perbuatan kita selama setahun sehingga kita akan meremehkan dan upaya perbaikan kurang menjadi maksimal. Semoga saya dan saudaraku seiman (Islam) tidak luput dari evaluasi yang terucap melalui taubat setiap malamnya.(aamiin) “Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya sendiri” (Rasulluallah SAW). Semoga kita dan saya pribadi meneladani Rasuluallah yang tidak henti – hentinya memohon ampun padahal surga adalah jaminannya, meneladani para khulafaur rasyidin dan para ‘ulama.(aamiin)

_________

Penulis: M. Eko Yulianto
Tulisan tersebut adalah tulisan terbaik peringkat ke-2 dari karya yang masuk dalam JMMI Writing Challenge Desember 2014 – #Refleksi. Selengkapnya baca disini.

SHARE
Previous articleAkhir Tahun
Next articleMengejar Waktu
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!