Pada literatur sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia kaum pemuda memiliki peranan penting dalam membangun bangsa (nation). Spirit pentingnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan untuk menjadikan nusantara sebuah negara kesatuan yang merdeka telah muncul di jiwa pemuda jauh sebelum pembacaan teks proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.

Pemuda merupakan penerus perjuangan generasi terdahulu dan menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa. Pemuda lah yang dapat merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Berbicara mengenai pemuda beserta ambisinya memang tidak bisa lepas dari impian untuk hidup secara ideal dan cita-cita setinggi langit. Pada umumnya, beragam impian yang dituliskan para pemuda itu sedikit banyak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, keluarga maupun lingkungan tinggal mereka. Misalnya, di kampus perjuangan yang lekat dengan predikat kampus teknik ini, mayoritas mahasiswanya bercita-cita untuk bekerja di perusahaan oil and gas asing karena dianggap menjanjikan gaji selangit yang mampu menunjang kehidupan mereka di masa depan. Apalagi, banyak mahasiswa yang notabene calon engineer masih menganggap bahwa bekerja di perusahaan asing lebih ber-prestise.

Memang benar, saat ini kita hidup di era globalisasi dan internasionalisasi. Tidak salah juga jika berkeinginan untuk go international. Namun, hendaknya kita juga tidak lupa dengan kondisi daerah, terutama daerah asal kita. Jika ditelisik lebih jauh, sebagian besar mahasiswa di kampus ini berasal dari daerah. Para putra daerah tersebut jauh-jauh menuntut ilmu di institut teknologi ini dalam rangka ingin mendapatkan pendidikan dengan kualitas terbaik. Sayangnya, masih sedikit putra daerah yang memiliki mimpi untuk berkontribusi membangun daerah yang telah membesarkannya. Padahal seharusnya, salah satu tujuan utama menuntut ilmu hingga ke negeri Cina adalah untuk kembali dan memajukan daerah yang tingkat perkembangannya masih relatif lamban. Dan salah satu cara untuk mencapai tujuan itu adalah mengoptimalkan peran aktif putra daerah yang telah bertransformasi menjadi seorang intelektual di berbagai bidang.

graf1
Sumber : BPS (2012)
Grafik Perbandingan Angka Kemiskinan di Desa dan Kota Wilayah Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua

graf2
Sumber : BPS (2012)
Grafik Perbandingan Angka Kemiskinan di Desa dan Kota Wilayah Jawa

Grafik di atas menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemiskinan di pedesaan masih tergolong banyak dibandingkan tingkat kemiskinan di perkotaan terutama pada indonesia bagian barat dan indonesia bagian timur yang memiliki ketimpangan yang sangat besar terutama di propinsi Papua dan Nusa Tenggara. Berbeda dengan propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, DI yogyakarta, dan Banten memiliki jumlah kemiskinan di pedesaan yang relatif lebih sedikit daripada di perkotaan. Hal ini cukup menjadi alasan kuat bagi para putra daerah untuk kembali dan mengembangkan daerahnya.
Langkah pertama dalam berkontribusi mengembangkan daerah adalah menganalisa potensi dan masalah yang ada di daerah tersebut lalu memberikan solusi sesuai bidang keahlian masing-masing. Misalnya seorang engineer Teknik Kimia bisa berkontribusi untuk membuat industri yang bisa menjadi lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Pembangunan daerah akan lebih efektif jika dilakukan oleh putra daerah itu sendiri karena sejak kecil mereka dibesarkan di sana dan pasti sudah sangat paham terhadap kondisi daerahnya.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menghimbau kembali kepada semua putra daerah yang sudah jauh-jauh belajar ke luar kota, luar pulau atau bahkan ke luar negeri agar menyelipkan setidaknya satu impian untuk kembali dan memajukan daerah asalnya di ratusan list mimpi yang ditulisnya. Memang tidak semua putra daerah harus kembali dan berjuang di kampung halaman, karena beberapa diantara mereka yang lebih dibutuhkan di luar sana. Namun, adalah suatu hal yang penting bagi para putra daerah untuk memiliki dan memegang teguh idealisme untuk membangun daerah hingga tercapai tujuannya.

_________

Ulfatin Nadliroh
Tulisan tersebut adalah tulisan terbaik peringkat ke-1 dari karya yang masuk dalam JMMI Writing Challenge November 2014 – #Pemuda. Selengkapnya baca disini.

SHARE
Previous articleSecarik Surat Cinta untuk Pemuda Indonesia
Next articleJMMI Writing Compilation : #Pemuda
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!