Indonesia dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember patut berbangga, sang anak bangsa telah berhasil membawa harum namanya di kancah Internasional. Yasya’ begitu ia akrab disapa, memiliki nama lengkap Moh. Yasya’ Bahrul Ulum. Seorang mahasiswa kelahiran 12 Agustus 1994 asal Kediri yang saat ini sedang menempuh pendidikan S1Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Ia berhasil menjadi juara pertama, peraih medali emas pada
ajang bergengsi Mathematics Competition for University Student 2014 di Blageovard Bulgaria 29 Juli – 4 Agustus lalu.

Mengulik sedikit ceritanya tentang bagaimana ia bisa mengikuti ajang bergengsi tersebut dan menjuarainya. Semua diawali ketika ia ingin mengikuti OSN Matematika di Graham tetapi dengan persyaratan harus memiliki prestasi berskala nasional. Motivasi tersebut memacu dirinya untuk mengikuti perlombaan yang lebih dari sekadar nasional tetapi internasional. Suatu hal yang membanggakan diri serta almamater.

Cukup asing sebenarnya jika kita mendengar mahasiswa selain jurusan matematika yang tertarik pada bidang olimpiade matematika. Namun hal inilah yang terjadi pada Yasya’. Kecintaannya terhadap matematika membawa ia hingga seperti ini. Mahasiswa alumni SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School ini mengaku tidak ada bimbingan atau semacamnya dalam mempersiapkan ia menjadi juara. “Yang terpenting latihan setiap persoalan yang diberikan. Dan satu kuncinya, harus tetap senang matematika,” imbuhnya.

Menurut Yasya’, tidak ada tips-tips khusus untuk menjadi juara. Yang terpenting dalam pengerjaan soal olimpiade jangan menghafalkan rumus, tetapi mengerti akan matematika dan berpikir sesuai logika. Mahasiswa yang sekarang sedang sibuk dengan programming ini mengaku dalam waktu dekat belum ingin mengikuti perlombaan apapun.”Kalau
sekarang mau vakum dulu,” tuturnya diiringi tawa ketika ditanya.

“Terus berprestasi sobat muslim, karena prestasi itu pasti bisa diraih. Jangan lupa, banyak-banyak tahajud juga,”

Tidak ada waktu khusus untuk Yasya’ dalam membagi kegiatan-kegiatannya dengan waktu belajar. Menurutnya, ketika waktunya ia harus belajar, maka ia belajar dan semua itu tergantung prinsip. Impian atau cita-cita terbesarnya ialah menjadi dosen. Tetaplah semangat menjalani kehidupan adalah motto hidupnya. “Terus berprestasi sobat muslim, karena prestasi itu pasti bisa diraih. Jangan lupa, banyak-banyak tahajud juga,” pesan Yasya’ kepada sobat muslim mengakhiri sesi wawancara kami. (ebj/fzb)

SHARE
Previous articleSafari Kajian
Next articleApa Arti Pemuda?
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!