jejak-kaki1

Gulungan ombak masih menyapu jejak kakiku. Udara segar dan sengatan matahari masih menyelimuti diriku. Aku masih di sini, memandangi lautan dan merenungi ttentang jati diriku yang harus kubentuk. Kata kebanyakan orang, jati diri haruslah dicari. Tapi, tidak! Itu tidak sepenuhnya benar. Sepanjang aku mengukirkan namaku di kehidupanku, aku belum pernah menemukan jati diriku hingga aku berpikir bahwa aku harus membentuk jati diri itu sendiri, segala hal tentang apapun yang kurasa pas dengan diriku dan segala hal yang membuatku merasa benar-benar hidup. Hari ini, aku mulai melangkah dan perlahan menemukan satu-persatu hal-hal yang aku butuhkan untuk mendapatkan jati diriku seutuhnya.

September 2012
Hari ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kampus kebanggaanku. Rasanya aku ingin terus menangis haru, tapi mengingat perjalanan berat di sini masih panjang jadi kuputuskan lebih baik menyimpan air mata bahagiaku sembari terus bersyukur kepada Allah. Aku terus menyusuri jalanan baru, lingkungan baru dan atmosfer baru. Banyak hal baru yang kutemui, banyak teman baru yang juga harus kutemui dan harapan terbaikku adalah semoga aku dapat menemukan diriku yang baru dan jauh lebih baik selama aku menempuh pendidikan di sini.

Aku bukanlah satu-satunya orang dengan pakaian hitam-putih di sini, disekitarku juga banyak teman seperjuangan yang sedang berlalu-lalang. Ada yang berjalan gontai seolah sedang mencari-cari gedung kuliahnya, ada yang berjalan dengan sigap dan penuh percaya diri yang cukup menunjukkan kalau ia sudah yakin ingin melangkah ke mana dan ada juga yang masih sibuk bertanya kesana kemari berharap menemukan jawaban tentang letak gedung jurusan tercintanya berada.

“Giska!!” suara seorang wanita terdengar sedang memanggilku samar dari kejauhan. Aku mencoba memutar badanku perlahan dan memerhatikan sekitar, berharap menemukan seseorang yang memanggilku.
“Kamu Giska, kan? Bener?” ujarnya lagi sambil berlari kecil menghampiriku. Aku masih bisa mendengar nafasnya yang tersengal-sengal sembari melemparkan senyum cerianya padaku. Ia seorang gadis dengan rambut hitam lurus terurai rapi, hanya berantakan sedikit karena tertiup angin saat berlari.
“Hai. Iya aku Giska. Kamu Mila ya?” Ujarku dengan membalas senyumnya.
“Iya, kenalan lagi deh. Aku Milianna, biasanya dipanggil Mila sih hehe…” sahutnya sambil tertawa kecil diselingi merapikan rambutnya yang mulai bertambah berantakan.
“Giska. Salam kenal!” ujarku singkat sambil menyodorkan telapak tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
“Hallo Giska. Ehm… jadi, kamu udah ketemu temen yang lain belum? Aku sih kemarin baru ketemu Bagas aja waktu daftar ulang.”
“Ya lumayan banyak sih, aku udah ketemu beberapa temen waktu daftar ulang juga dan keliatannya mereka orang-orang yang asyik.” Mila hanya membalas ucapanku dengan senyuman, percakapan ini akan terasa canggung jadi aku mengajak Mila untuk segera melanjutkan perjalanan ke gedung tujuan kami.

“Gis, ngerasa nggak sih? Temen-temen mahasiswa baru di sini banyak yang pake jilbab ya. Aku sering mikir, kapan ya aku pake jilbab juga? Apa mungkin suatu hari nanti aku juga bakalan betah pake jilbab kayak mereka.”
“Pasti kok, Mil. Pasti bakalan ada saatnya kita bisa tergerak buat pake jilbab juga. Ya, mantepin hati dulu lah. Aku sendiri sih juga belum tau mau pake jilbab kapan. Waktu aku kuliah S2 nanti mungkin.”
“Serius kamu Gis mau pake jilbab kalo udah S2? Tapi…. iya juga sih, mungkin waktu aku udah punya anak nanti baru pake jilbab. Tapi apa mungkin ya bakalan ada anugerah yang datang ke aku terus bikin aku jadi kepingin banget pake jilbab?”

Aku menatapnya datar, seakan aku sedang memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
“Yang jelas nih ya Mil. Menurutku semua orang pasti punya jalannya masing-masing. Kalo pintu hati udah terbuka pasti bakalan dijalanin juga. Udah ah, jangan bahas jilbab terus. Aku jadi merasa bersalah sama diriku sendiri nih nanti hehe…”
“Hehe.. iya juga sih Gis. Bener banget kamu!” Aku tak pernah benar-benar memikirkan obrolanku dengan Mila pagi itu dan lebih memilih hidupku terus mengalir bagaikan air.

April 2013
Aku sudah hampir menjadi seorang aktivis sekarang. Hari-hariku sudah mulai terisi dengan jadwal-jadwal sibuk di organisasi. Agenda rapat, ikut pelatihan, screening, tes beasiswa, jadi panitia ini dan itu sudah mulai memenuhi daftar kegiatan di buku agendaku. Aku mulai menjadi orang sibuk, yang selalu kuelu-elukan adalah sebuah jati diri dariku. Aku pun sudah mulai punya banyak relasi di kampus. Banyak hal baru yang kutemui dan banyak pelajaran berharga yang kudapat. Hingga suatu hari, saat pada sebuah gathering, ada satu kalimat yang benar-benar meledak di atas kepalaku bak petir di siang bolong dari salah seorang teman. Awalnya tidak ada yang aneh dengan suasana sore hari itu, cuacanya cukup cerah hanya saja suasana hatiku yang sedang tidak menentu karena aku baru saja gagal losos screening pelatihan. Aku berjalan gontai membuntuti dua orang temanku yang sedang berjalan di depanku.
Memasuki wilayah gathering, sesorang menyapa kedua temanku yang berada sekitar dua meter di depanku.

“Assalamualaikum….” ujarnya, ia seorang pria seumuran kami yang menyambut kedatangan kami.
“Walaikumsalam..” jawab kedua temanku serempak. Mereka berdua segera duduk berbaur dengan yang lain sedangkan aku masih berjalan malas, jarakku dengan mereka semakin bertambah jauh.
“Hai cewek, kok murung aja?” jawab si pria tadi sambil tertawa mengeledek.

Aku yang memang sedang memiliki suasana hati tidak baik langsung menyambar perkataannya “Hei!! Dua temanku yang lain kamu sambut pake salam, kok nyambut aku pake ngeledek kayak gitu sih?” sahutku geram tetapi berusaha agar suara yang kukeluarkan tidak bernada tinggi agar tidak ada yang mengira kalau aku membentaknya.
“Hehe… maaf-maaf Gis. Nggak bermaksud ngeledek kok. Tapi, jujur aku takut salah kalo nyambut kamu pake salam, masalahnya aku nggak tau kalo kamu muslim apa bukan. Maaf ya?” jawabnya dengan nada menyesal. Mendengar jawabannya, sungguh rasanya aku seperti dilempar granat, tersambar petir dan jatuh dari sebuah air terjun. Yaa Allah… aku melupakan sesuatu, identitasku dan jati diriku sebagai seorang muslim. Bahkan tanpa jilbab seperi dua orang temanku tadi, aku tidak disambut dengan ucapan salam. Aku hanya bisa tertunduk dan tersenyum kecut ke arah si pria yang kukenal bernama Anton itu. Hariku rasanya bertambah kelabu, ragaku seperti tidak bernyawa lagi dan rasanya ingin menangis.

September 2013
Kami baru kembali dari liburan semester genap. Liburan panjang yang kuhabiskan dengan menulis sebuah novel baru. Sungguh liburan yang cukup berwarna dengan kehadiran buku-buku pemberian kakakku. Banyak buku tentang motivasi, fiksi bahkan tentang leadership. Sedikit terbesit sebuah tanya mengapa kakakku tidak membawakanku buku tentang, yaaa… sesuatu yang bisa menyuruhku untuk berjilbab, aku rasa buku-buku seperti itu sedang marak-maraknya beredar di toko buku. Aku mencoba positive thinking, mungkin hal seperti ini haruslah kucari sendiri, karena memang hal ini terkait dengan hidupku sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain.

Di kampus, aku sering terlihat gelisah. Satu hal yang kubenci, aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi dan isi hati lewat mimik wajah dan gerak-gerikku. Teman-teman selalu bisa menebak apakah aku sedang sedih, marah. Gelisah atau sakit. Aku memang tidak berbakat untuk bermain drama.

“Gis, kenapa? Lagi ada masalah ya?” tanya Nila penasaran. Ia memang sedang memperhatikanku mondar-mandir di depan kelas sejak tadi. Aku masih resah, belum menjawab pertanyaannya.

Aku menarik sebuah kursi dan segera duduk di depannya, kira-kira berjarak setengah meter “Nil, kapan sih kamu mulai pake jilbab? Dan alasannya kenapa?” tanyaku penasaran, sama penasarannya dengan mimik wajahku yang tidak bisa kusembunyikan.

Nila tersenyum an seolah sudah paham betul dengan pokok permasalahanku “Jadi, kamu udah kepingin pake jilbab? Kalo gitu langsung pake aj, Gis. Nunggu apa lagi? Berarti kamu sudah mulai dikasih jalan-Nya. Berjilba itu bagus, menyelamatkan ayah dari api neraka. Nggak mau kan pintu surga ayahmu tertutup gara-gara kamu?” Aku menggeleng dan benar-benar berpikir keras ”Jelas nggak mau, Nil. Aku bakalan berdosa banget.” Sahutku lirih. Jadi, apakah ini memang sebuah anugrah itu. Sebuah bagian dari jati diriku yang sedang aku cari. Diskusiku dengan Nila terus berlanjut dan mulai membuka pikiranku tentang segala manfaat berjilbab. Membuka hati dan pikiranku bahwa mungkin ini adalah waktunya untuk memantapkan hati dan melangkah menjemput hidayah.

Oktober 2013
Di sinilah aku sekarang. Masih menajamkan mataku ke hamparan luas samudera biru. Tempat di mana aku selalu bisa berpikir jernih. Tempat yang selalu bisa membuatku bersyukur atas kebesaran-Nya lewat suara ombak yang kian menderu. Di sinilah aku, seorang Giska yang baru. Seorang Giska yang menguatkan jati dirinya sebagai seorang muslimah dengan penutup kepala yang mulai kini akan selalu menghiasi hari-harinya.

Percayalah, bahkan seorang Giska yang dulu terkenal tomboy, kini aku lebih terlihat feminim, anggun dan ya, aku lebih merasa dihormati. Percayalah, awalnya sulit untuk membuat keputusan, sulit untuk melaksanakannya, tapi lama-kelamaan menutup aurat sesuai dengan perintah-Nya akan menjadi terbiasa. Suatu hal yang kuyakini, ikhlas dari dalam hati, segalanya kutunjukkan untuk Allah, bahwa kecantikanku sejatinya adalah milik-Nya dan lewat berjilbab kuyakini kecantikanku tidak akan berkurang karena InsyaAllah aku akan selalu tampak cantik dihadapan-Nya. Lembaran baru seolah dimulai kembali dalam hidupku. Aku harus kembali melukiskan jejak demi jejak langkahku dengan diriku yang baru dan dengan sebuah kerudung yang akan senantiasa menemani perjalanan hidupku. Bismillah..

Giska Arianna
Oktober 2013
***************************

JUARA 1 LOMBA CERPEN event “ROAD TO IHSD” JMMI ITS
DITULIS Oleh:
Tri Dika Syaidharni
Jurusan Biologi ITS

SHARE
Previous articleKelas Kreatifitas Muslimah
Next articleMentoring Days
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!