Sore yang penuh berkah, Sabtu (31/5) pukul 16.00, di Serambi Utama Masjid Manarul Ilmi telah dipenuhi jamaah yang akan mengikuti acara Bedah Buku : ‘Pak Guru’. Bedah Buku pertama yang diadakan JMMI Kabinet Kolaborasi Harmoni ini bertemakan ‘Merenungi Kembali Hakikat Pendidikan’. Bedah buku ini menghadirkan penulis buku, Bapak Awang Surya. Acara ini dihadiri oleh kalangan masyarakat umum, tidak hanya mahasiswa ITS.

Sedikit tentang Penulis

Lulusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya ini telah menulis lima buku. Buku ‘Pak Guru’ merupakan bukunya yang kelima setelah ‘Bahagia Tanpa Menunggu Kaya’, ‘Pesan dari Langit’, ‘Kiai Sableng Santri Gendeng’. Bapak asal Lamongan ini mengatakan bahwa buku kelimanya yang berjudul ‘Pak Guru’ adalah buku yang paling menguras emosi dan kisahnya telah lama ingin ditulis. Pak Awang menulis buku ini dengan alasan setiap orang tentu memiliki idola. Selain Nabi Muhammad, sosok seorang guru merupakan idolanya. Tokoh guru, sekaligus kepala sekolah, merupakan ayah dari Pak Awang, sang inspirator penulisan buku ‘Pak Guru’ ini.

Buku ‘Pak Guru’

Buku yang berdasar kisah nyata ini merupakan sebuah novel yang berisi tentang kisah pendidikan negeri di tahun 70-an, dimana tokoh guru merupakan sosok yang sangat disegani, dihargai dan dihormati oleh masyarakat. Musa, tokoh utama adalah seorang guru dengan idealisme yang kuat dan menerapkan nilai-nilai kebaikan tentang hakikat pendidikan. Pada masa itu di dunia sekolah, seorang guru tidak hanya seorang pengajar, tetapi juga pendidik yang mendidik mengenai nilai-nilai kehidupan.

Karena keteguhannya menerapkan kebaikan, banyak orang yang menentang Musa. Musa diceritakan sebagai seorang guru yang kemudian ditunjuk menjadi kepala sekolah, karena kepala sekolah sebelumnya pensiun. Ditunjuknya Musa sebagai kepala sekolah membuat salah satu guru senior yang mengincar jabatan menjadi ‘Kepala Sekolah’ di sekolah itu menjadi dengki. Konflik pun bermunculan. Mulai dari dirusaknya sepeda Musa, hingga rumah tangganya pun goyah karena Musa tetap berpegang teguh pada prinsip. Musa merenungkan tentang jabatannya sebagai kepala sekolah, apakah hal tersebut merupakan Berkah atau Musibah.

Hikmah

Memang dalam memperjuangkan kebaikan, pastilah banyak tantangan dan pertentangan yang terjadi. Karena sesungguhnya perbuatan yang baik dan benar adalah jika tindakan tersebut dihalang-halangi oleh setan, ditandai dengan banyak halangan dan rintangan yang dihadapi. Menjadi orang baik selalu ada lawannya. Dapat dinilai sendiri ketika ada orang yang baik kemudian penentangnya atau lawannya adalah orang yang buruk, maka jelaslah siapa yang seharusnya kita dukung. (ivs/ffs)

SHARE
Previous articleTasqif FSLDK, Wadah Peningkatan Tsaqofah
Next articlePengumuman Staff JMMI 14/15
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!