418090_333764766666067_1404505486_n

Surabaya(11/7). Tarawih hari ke tiga. Masjid Manarul Ilmi masih tak surut Jamaah. Pengunjung masjid yang sebagaian besar adalah civitas akademik ITS ini semakin bertambah dari hari ke hari, secara tidak langsung hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya saf yang mengisi barisan shalat baik sedari Magrib sampai tarawih tiba. Parkiran Manarul Ilmi juga turut “diramaikan” dengan berbagai macam mobil dan motor yang bahkan diparkir melebihi batas parkir yang telah disediakan. Kali ini, Prof. Abdullah Sahab yang merupakan dosen jurusan Teknik Mesin ITS bertindak menjadi penceramah tarawih. Judul ceramah yang beliau sampaikan adalah Materialis. Dilihat dari judulnya saja, tema ceramah tarawih kali ini mungkin sedikit “berat”. Namun Prof. Sahab dengan gaya bahasanya yang ringan mampu mendefinisikan apa itu materialis kepada jamaah shalat Tarawih.


Secara garis besar, materialis atau materialisme adalah paham keduniawan, yang memisahkan antara hal-hal keduniawian seperti sains dengan ke-Tuhanan. Agaknya paham ini kerap tanpa sadar mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saja dalam hal sains atau penemuan-penemuan. Seringkali kita tidak berani mengungkapkan alasan-alasan dengan kalimat “hukum Allah”. Kita lebih sering mengungkapkan untuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan perkataan: “itu sudah hukum Alam.. ” atau berdasarkan asumsi dan postulat yang dibuat oleh para ilmuwan, Einstein dan Darwin misalnya. Selanjutnya Prof. Sahab mencontohkan dengan permasalahan sederhana: Mengapa air pada kondisi 1 atmosfer mendidih saat suhu 1000 celcius? Atau pertanyaan yang sering kita dengar yakni “darimana asal kehidupan yang ada saat ini?”


Jawaban-jawaban para ilmuwan yang sebagian besar dipengaruhi oleh paham materialis, yang memisahkan antara sains dan ke-Tuhanan pun bermunculan dan hingga kini menjadi referensi, teori Darwin misalnya. Namun pada akhirnya dengan eksperimen-eksperimen ilmiah yang dilakukan baru-baru ini jawaban itu justru terbantahkan. Dan ujung-ujungnya, para ilmuwan beberapa mungkin “tersentak” karena berabad-abad yang lalu, jawaban-jawaban mengenai penciptaan bumi sudah dijelaskan dalam Al Qur’an. Petunjuk-petunjuk dalam Al Qur’an tersebutlah yang seharusnya menjadi “kata kunci” dan alasan terhadap kejadian atau setiap proses penciptaan. Tinggal bagaimana kita sebagai makhluk yang diberi keistimewaan akal untuk mau memahami dan berupaya untuk terus menerus mencari dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang seberapa banyakpun kita temukan saat ini, Prof. Sahab mengibaratkan, hanyalah masih berupa kerikil diantara lautan ilmu Allah.


Prof. Sahab juga menegaskan bahwa sebagai umat Islam kita harus percaya diri dan tidak boleh ragu untuk mengatakan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, hanya dapat terjadi karena hukum Allah. Tidak ada lagi istilah hukum Alam. Karena alam tidak akan mampu berkehandak melainkan segala sesuatu sudah diatur oleh Allah. Bahkan untuk hal sekecil dan sesederhana apapun. Di akhir ceramah beliau menceritakan tentang kehendak Allah pada salah satu jenis hewan yakni ular. Allah menciptakan spesies ular yang memiliki taring yang amat panjang dan memiliki lubang di dalamnya (mirip jarum suntik). Atas kehendak Allah, taring yang panjang tersebut ternyata bisa ditekuk sehingga memungkinkan ular tersebut untuk mengatupkan kedua mulutnya. Mari kita bayangkan seandainya saja taring tersebut tidak memiliki kemampuan untuk ditekuk, tentu si ular akan sangat kasihan karena tidak bisa mengatupkan mulutnya atau dengan kata lain terus menganga sepanjang waktu. Subhanallah.. Hal sesederhana ini tak akan bisa dijelaskan dengan konsep materialis yang dalam praktiknya juga mendasarkan sesuatu pada hal yang tampak (fisik) saja. Banyak sekali hal di sekitar kita, yang seandainya kita mau men-tafakkuri, akan semakin menambah ketaatan kita kepada Allah, sang Maha Pencipta. (nny)

SHARE
Previous articleSedekah, Sebuah Kemuliaan!
Next articleMerajut Persaudaraan Ummat oleh Nur Iriawan
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!