Munculnya gejolak, atau protes dari anak-anak di bangku tingkat dasar yang mendengungkan slogan kebebasan pada 15 Maret 2011 merupakan asal muasal terjadinya revolusi Suriah. Karena memang sebelumnya, kehidupan di Suriah penuh dengan kedoliman dan pemerintahan yang bersifat intelegensi. Intelegensi maksudnya para aktivis dakwah disini dilarang untuk berdakwah. Setiap kali mereka berdakwah, pasti saja selalu ada perperangan, misal saat solat jumat berjemaah karena memang saat-saat seperti itulah yang pas bagi orang syiah (begitu sebutan anak kecil muslim Suriah ketika menyebutkan orang selain ahlus sunnah) untuk membumi hanguskan kaum muslim Suriah. Kondisi pemerintahan naungan Bashar al-Assad merupakan akar dari sekutu Amerika AS dalam memberantas aktivis muslim yang berusaha menegakkan islam jaya di Suriah. Saat ini pun hubungan bilateral Amerika dan Suriah dalam bentuk bantuan persenjataan. Kaum muslim disana selalu di terror, anak-anak dipaksa mengakui Bashar al-Assad sebagai Tuhan mereka persis ketika zaman Fir’aun, yang menuhankan pemimpin yang berkuasa dan banyak lagi kejahatan-kejahatan yang terjadi hingga mirisnya wanita pun sering menjadi korban pemicu korban lainnya yang sadar akan Islam.

 

Di Indonesia, revolusi Suriah mirip dengan masa reformasi 1998 yakni peruntuhan masa pemerintahan Presiden Soeharto. Sejatinya, memang pada masa pemerintahan Soeharto menerapkan prinsip yang ada di Suriah yakni sejak pemerintahan ayah Bashar al-Assad, Hafez al-Assad. Prinsip pemerintahan yang di anut adalah “state terrorism” yang selaras dengan negara membuat penjagaan stabilitas nasional dengan menjadikan negara sebagai teroris sehingga rakyat takut dan patuh terhadap apa pun yang pemerintah perintahkan, jika terjadi penolakan pastilah akan terjadi pemberontakan yang menimbulkan banyak korban, entah itu korban meninggal, diasingkan, dipenjara, atau pun disiksa terhadap kaum muslimin lebih khususnya. Ketahuilah bahwa, terjadinya pengeboman di Tanjung Priuk terhadap umat muslim agar semua ormas dan parpol berasaskan pancasila adalah contoh nyata state terrorism pada pemerintahan Soeharto.

 

Melihat keadaan suriah setelah terjadinya revolusi 15 maret 2011, seakan dunia itu tak mengetahui gejolak peradaban kaum muslimin Suriah. Gejolak ini bak peperangan dahsyat jika seandainya dialami di Indonesia. Pasalnya, keadaan kaum muslimin di Indonesia tak sekuat, setegar, sesabar kaum muslimin Suriah. Pak Angga sendiri memaparkan bahwa, orang-orang muslim Suriah selalu menjamu tamunya dengan baik, menyempurnakan apa pun kebutuhan tamu tersebut meskipun harus sedikit menyita waktu, dan tenaganya. Rakyat muslim Suriah juga melindungi para tamu yang berkunjung terhadapnya, tak ubahnya saudara sedarah, karena memang mereka anggap semua kaum muslim itu adalah saudara mereka. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasul bahwasanya di akhir zaman akan ada gejolak di negeri syam (termasuk di dalamnya Suriah), dan nabi Muhammad memuliakn negeri syam karena masyarakatnya selalu memuliakan tamu dan kuat penerapan keislamannya. Seperti teori dua lengan yakni tegaknya islam di topang oleh yaman dan syam.

 

Cerita pendek di atas adalah kutipan dari Bincang Ramadhan 1 RDK 34 H JMMI ITS yang bertemakan “Menjalin Ukhuwah dengan Saudara Kita di Suriah”, yang harapannya akan banyak bantuan dari ummat muslim di dunia untuk bersatu menegakkan agama Islam secara utuh dan menjalin ukhuwah dengan seerat-eratnya hingga nantinya islam kembali berjaya, perilaku yang bisa kita lakukan saat ini adalah menggalang dana dan selalu mendoakan kebaikan untuk kehidupan muslim dunia lebih khususnya negara-negara yang saat sedang di landa peperangan di Suriah, Palestine, Afanistan dan negara lainnya, bentuk harapan Ust. Angga Dimas Pershada seorang ahlisunnah waljamaah yang mengabdikan dirinya untuk menjadi Sekjen Hilal Ahmar Society (HASI) untuk Suriah. (Ce2)

SHARE
Previous articleHeboh! Buka On The Road
Next articleUrgensi Al Qur’an dan As Sunnah
-Penulis dan editor di jmmi.its.ac.id 2015-2016 -Koordinator Putri Departemen Islamic Press JMMI ITS 1516 -Statistika ITS